TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Sindiran di PPT Jilid 19 Makin Tajam dan Berani, Begini Penjelasan Deddy Mizwar

Deddy Mizwar menjelaskan terkait konten di serial Para Pencari Tuhan Jilid 19

WARTAJOGLO, Jakarta - Serial religi legendaris Para Pencari Tuhan (PPT) kembali menyapa pemirsa SCTV pada Ramadan 2026. 

Memasuki musim ke-19, sinetron yang identik dengan bulan suci ini mengusung tema segar bertajuk “Tobat Woy”—sebuah seruan yang terdengar ringan, namun menyimpan makna reflektif yang dalam.

Hampir dua dekade tayang, PPT tetap bertahan dan dicintai. Di balik konsistensi itu, ada tangan dingin Deddy Mizwar, yang akrab disapa Pak Haji, selaku produser sekaligus pemeran Bang Jack, tokoh sentral yang menjadi ruh serial ini.

Menurut Deddy Mizwar, mempertahankan serial selama hampir 20 tahun tentu bukan perkara mudah. 

Ia mengakui, dalam perjalanan panjang itu ada fase naik dan turun, termasuk tantangan ketika apresiasi penonton sempat menurun.

Alih-alih bertahan dengan formula lama, PPT justru memilih bertransformasi.

Setiap musim kini dihadirkan dengan tema berbeda, lebih longgar, tidak lagi terikat pada peristiwa masa lalu. Selain mempertahankan beberapa karakter ikonik, PPT juga berani menghadirkan pemain-pemain baru agar cerita tetap segar dan dinamis.

“Kita berusaha menghadirkan tontonan yang punya isi, punya korelasi dengan masyarakatnya,” ujar Deddy dalam sebuah wawancara secara virtual pada Rabu 25 Februari 2026.

Artinya, PPT tidak sekadar menghibur, tetapi juga mencerminkan fenomena sosial yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat.

Salah satu kekuatan utama Para Pencari Tuhan adalah kemampuannya menangkap isu sosial kekinian. 

Tim kreatif mengamati fenomena yang muncul di tengah masyarakat, lalu mengolahnya menjadi cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hasilnya? Penonton merasa terwakili.

“Ini gue banget,” atau “itu abang gue banget,” adalah reaksi yang kerap muncul. Ketika penonton melihat sebagian wajah dirinya di layar kaca, di situlah terjadi dialog antara tontonan dan yang menonton.

Bagi Deddy, di sinilah letak pentingnya relevansi. Ketika cerita terasa relate, penonton bukan hanya menyaksikan, tetapi juga merenungkan, bahkan menjadikan tayangan sebagai katarsis atas emosi yang selama ini terpendam.

Memasuki musim ke-19, banyak penonton menilai bahwa sindiran dalam PPT semakin tajam dan berani. Namun menurut Deddy Mizwar, kritik yang disampaikan bukanlah sarkasme yang menyakiti.

Sebaliknya, PPT menghadirkan “peringatan” dengan cara yang ringan dan jenaka.

Alih-alih memaki, serial ini memilih gaya yang santai dan menghibur. Penonton diajak menertawakan diri sendiri—menyadari ada hal yang mungkin kurang tepat dalam kehidupan sosial, tanpa harus merasa diserang.

“Yang kita sampaikan itu mungkin hal yang belum sempat mereka ucapkan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Dengan pendekatan tersebut, PPT seperti mewakili suara rakyat, tetapi tetap dalam koridor etika dan tidak menyakiti pihak mana pun.

Tema “Tobat Woy” menjadi penegas arah musim ke-19. Seruan ini terdengar akrab, bahkan sedikit nyeleneh, namun justru di situlah kekuatannya—mengajak refleksi tanpa terasa menggurui.

Sebagai serial yang tayang di bulan Ramadan, PPT konsisten menyisipkan nilai-nilai religius dalam setiap konfliknya. 

Pesan moral tidak disampaikan secara kaku, melainkan mengalir lewat dialog, humor, dan dinamika karakter.

Bagi Deddy Mizwar, memasukkan unsur religius dalam cerita bukan sekadar formula dramatik, tetapi bagian dari upaya dakwah yang membumi.

“Selain menghibur, harus ada nilai yang bisa menginspirasi kita menjadi lebih baik,” tuturnya. //Bang

Type above and press Enter to search.