TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Tantangan Perkembangan Solo Raya: Kaya Potensi tapi Terhambat Fragmentasi

Para peserta seminar Outlook Ekonomi Solo Raya 2026

WARTAJOGLO, Solo - Solo raya dikenal sebagai kawasan yang kaya sumber daya. 

Budaya yang kuat, sejarah panjang, bonus demografi, basis ekonomi yang beragam, hingga jejaring pelaku usaha yang aktif. 

Hal ini menjadi modal besar bagi tujuh kabupaten/kota di dalamnya—Surakarta, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, dan Boyolali. 

Namun hingga hari ini, kekayaan tersebut belum sepenuhnya menjelma menjadi kekuatan ekonomi kolektif yang terintegrasi.

Kondisi itu disoroti Ketua Kadin Surakarta, Ferry Septa Indrianto, saat membuka Seminar Outlook Ekonomi Solo Raya 2026 yang digelar Kadin Surakarta bersama Bank Indonesia Solo, Rabu 4 Februari 2026. 

Menurut Ferry, Solo raya masih berjalan dengan pola lama: potensi besar, tetapi terfragmentasi.

“Solo raya kaya sumber daya, budaya, sejarah, demografi, ekonomi, dan pelaku usaha. Ketika potensi belum terintegrasi, maka aktivitas lokal dan kinerja ekonomi akan terbatas serta capaian pertumbuhan 8 persen mustahil dilakukan,” tegasnya.

Salah satu tantangan utama Solo raya adalah stagnasi laju pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen. 

Angka tersebut relatif stabil, namun masih tertinggal jauh dari target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.

Menurut Ferry, selisih 3 persen bukan persoalan kecil yang bisa diselesaikan dengan pendekatan teknis semata. 

Delta tersebut bersifat struktural dan membutuhkan perubahan cara pandang dalam mengelola kawasan.

“Tambahan 3 persen hampir mustahil dicapai jika program antar-daerah berjalan sendiri-sendiri tanpa konsolidasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, pola kerja sektoral dan parsial yang selama ini diterapkan tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan ekonomi kawasan yang semakin kompleks.

Dalam konteks inilah, isu aglomerasi menjadi perhatian utama Kadin Surakarta. Ferry menekankan bahwa aglomerasi Soloraya berangkat dari prinsip subsidiaritas, yakni setiap urusan dikerjakan pada skala yang paling memberi hasil optimal.

Namun, ia mengingatkan bahwa subsidiaritas tidak berarti semua daerah harus berjalan sendiri-sendiri. 

Justru sebaliknya, pendekatan ini selama ini telah menciptakan fragmentasi kebijakan dan program antar-daerah.

“Jika dibiarkan secara struktural, situasi ini akan merusak potensi itu sendiri yang sebenarnya saling terkait, tetapi tidak pernah terakumulasi menjadi kekuatan pendorong wilayah,” jelasnya.

Aglomerasi, lanjut Ferry, bertujuan menyinkronkan potensi tanpa mengurangi kewenangan otonomi daerah. 

Tantangannya, persoalan yang dihadapi bukan lagi sektoral atau jangka pendek, melainkan struktural.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Ferry menekankan perlunya kesepahaman baru lintas daerah yang menempatkan integrasi kawasan sebagai fondasi pembangunan Soloraya ke depan.

“Perlu dibentuk kapasitas baru berupa ekonomi kawasan terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tambahan 3 persen menjadi masuk akal secara struktural,” ujarnya.

Dalam skema ini, peran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dinilai sangat strategis. 

Koordinasi yang selama ini berjalan perlu ditingkatkan menjadi kolaborasi nyata, dengan provinsi bertindak sebagai integrator dan pengarah kepentingan kawasan.

“Yang dibutuhkan Solo raya adalah kesepahaman bersama lintas daerah dalam menetapkan isu strategis kawasan dan kerangka kerja kolaboratif yang menyelaraskan program tanpa meniadakan kewenangan daerah,” kata Ferry.

Sementara kepala daerah diharapkan menempatkan program masing-masing sebagai bagian dari strategi kawasan, bukan berdiri sendiri, dengan pembagian peran yang jelas dan saling melengkapi.

Pandangan tersebut sejalan dengan sambutan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. 

Ia menyebut strategi percepatan ekonomi berbasis aglomerasi Soloraya yang diinisiasi Kadin Surakarta telah menjadi pilot project di Jawa Tengah.

Menurutnya, Solo raya berpotensi menjadi barometer pengembangan ekonomi kawasan di tingkat provinsi. 

Namun kunci keberhasilannya terletak pada kesamaan persepsi para kepala daerah.

“Pertanyaannya bukan hanya bagaimana menunggu pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana kita melihat masa depan Solo raya secara visioner. Apakah seluruh kepala daerah bisa menyamakan persepsi dan menyatukan potensi wilayah yang berbeda-beda menjadi titik ekonomi baru,” ujar Gubernur.

Di tengah tantangan global dan target pertumbuhan yang ambisius, Solo raya kini dihadapkan pada satu pilihan strategis: terus berjalan sendiri-sendiri, atau melangkah bersama sebagai satu sistem ekonomi kawasan yang terintegrasi. 

Pilihan inilah yang akan menentukan apakah potensi besar Solo raya tetap tersebar, atau justru tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru di Jawa Tengah. //Sik

Type above and press Enter to search.