![]() |
| Masjid Tegalsari Solo menyimpan kisah sejarah yang menarik |
WARTAJOGLO, Solo - Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Tegalsari pada Sabtu malam, 14 Maret 2026, menjadi momentum refleksi tentang peran masjid sebagai pusat peradaban umat.
Dalam ceramahnya, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A, tokoh yang pernah aktif sebagai remaja masjid pada dekade 1970-an, mengajak jamaah untuk kembali meneladani semangat para pendiri masjid sekaligus memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an.
Menurut Baiquni, peringatan Nuzulul Qur’an bukan sekadar mengenang turunnya wahyu pertama, tetapi juga saat yang tepat untuk melakukan muhasabah.
“Saat ini kita juga sedang menuju 100 tahun berdirinya Masjid Tegalsari. Ini menjadi momen penting untuk introspeksi, apa yang sudah kita lakukan dalam memakmurkan masjid, mencerdaskan kehidupan, dan menyejahterakan umat,” ujarnya di hadapan jamaah salat Isya dan Tarawih.
Pria yang juga Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) itu mengingatkan bahwa Masjid Tegalsari memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah bangsa.
Tiang utama masjid dipasang pada 28 Oktober 1928, bertepatan dengan momentum bersejarah Sumpah Pemuda.
Hal ini menandai kawasan Tegalsari di Laweyan sebagai salah satu episentrum pergerakan nasional.
Pada masa revolusi kemerdekaan, masjid ini juga menjadi tempat penguatan mental para pejuang. Para ulama dan tokoh masyarakat tidak hanya berdakwah, tetapi juga terlibat langsung dalam perjuangan melawan penjajah.
“Masjid Tegalsari pernah menjadi benteng mental para pejuang kemerdekaan. Bahkan ada ulama yang ditangkap Belanda dan diasingkan ke Boven Digoel,” ungkapnya.
Selain menjadi pusat dakwah, masjid ini juga menjadi tempat berkumpulnya para pengusaha batik Laweyan yang berjuang menggerakkan ekonomi umat.
Dalam ceramahnya, Baiquni menekankan bahwa Masjid Tegalsari sejak dahulu dirancang sebagai ruang peradaban yang memadukan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Lingkungan masjid yang dikelilingi blumbang air serta ruang terbuka yang sejuk mencerminkan harmoni tersebut.
![]() |
| Prof. Baiquni (kiri) bersama takmir Masjid tegalsari |
Di sekitarnya juga berkembang berbagai lembaga pendidikan, seperti pesantren dan madrasah yang melahirkan banyak tokoh masyarakat.
“Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga tempat belajar, berdiskusi, dan membentuk pemimpin umat,” jelasnya.
Tradisi pengajian anak-anak, remaja, hingga orang tua telah berlangsung lintas generasi. Bahkan pada era 1970-an, berbagai kegiatan kreatif seperti sanggar seni, kelompok pecinta alam, hingga komunitas pemuda tumbuh dari lingkungan masjid.
Baiquni kemudian mengingatkan kembali peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira melalui Malaikat Jibril dengan perintah Iqra’ (Bacalah). Peristiwa tersebut menjadi awal turunnya Al-Qur’an yang berlangsung selama sekitar 23 tahun.
“Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang benar dan yang batil,” katanya mengutip makna QS. Al-Baqarah ayat 185.
Menurutnya, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga mendorong manusia untuk berpikir, belajar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Banyak ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia menggunakan akal, seperti pertanyaan reflektif Afala ta’qilun (tidakkah kamu berpikir).
Menutup ceramahnya, Baiquni mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat integrasi antara ilmu dan moral.
“Ilmu tanpa moral akan kehilangan arah, sedangkan moral tanpa ilmu akan kehilangan daya. Keduanya harus berjalan bersama agar manusia bisa mencapai kemajuan yang beradab,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa manusia memiliki tugas sebagai khalifah di bumi, yakni memuliakan kemanusiaan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Tegalsari, Prof Baiquni: Al-Qur'an Mendorong Kita untuk Berpikir https://t.co/tzY8qDvz9H
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) March 14, 2026
Melalui peringatan Nuzulul Qur’an ini, Baiquni berharap umat Islam semakin dekat dengan Al-Qur’an, tidak hanya membacanya tetapi juga memahami serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga peringatan Nuzulul Qur’an ini menguatkan tugas kita sebagai manusia untuk memuliakan kemanusiaan dan melestarikan lingkungan,” pungkasnya. //Kls

