TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Waspadai Influencer Investasi Instan, Kepala BEI Jateng 2 Ingatkan Strategi 3P

Kepala BEI Kantor Perwakilan Jawa Tengah 2 dan Madiun Raya, Wira Adibrata

WARTAJOGLO, Solo - Investasi saham kini tengah menjamur di media sosial. Namun di balik tren tersebut, ancaman disinformasi dan janji kekayaan instan mengintai para investor pemula. 

Fenomena ini menjadi perhatian serius Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam upaya menciptakan ekosistem pasar modal yang sehat dan berkualitas.

Kepala BEI Kantor Perwakilan Jawa Tengah 2 dan Madiun Raya, Wira Adibrata, mengungkapkan bahwa derasnya arus informasi yang tidak terverifikasi di media sosial, kini menjadi tantangan besar bagi literasi pasar modal.

“Sekarang semua orang bisa jadi wartawan pakai sosial medianya dan tidak terkonfirmasi itu benar apa enggak. Itu yang menjadi concern kami sekarang,” ujar Wira dalam acara Media Gathering, pada Senin 2 Maret 2026, di Kota Solo.

Wira menyoroti maraknya narasi yang menyebut investasi saham bisa membuat seseorang kaya mendadak. 

Tak jarang, para influencer mengarahkan pengikutnya untuk membeli saham tertentu tanpa disertai analisis fundamental yang jelas.

Kondisi ini berdampak signifikan pada perilaku investor muda, khususnya Gen Z. 

Menurut Wira, banyak dari mereka membeli saham hanya karena terpengaruh figur publik, bukan karena memahami kinerja perusahaan.

“Mereka ikut membeli saham karena terpengaruh oleh influencer itu, tanpa melihat apakah perusahaannya bagus atau tidak. Padahal, tanpa pemahaman fundamental, keputusan investasi hanya bersifat spekulatif,” tegasnya.

Tidak hanya Gen Z, kelompok Baby Boomers pun rentan terdampak. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat konten disinformasi terlihat semakin meyakinkan. 

Jika Gen Z tergoda hasil cepat, Baby Boomers cenderung kesulitan memilah validitas informasi digital yang mereka terima.

Wira mengingatkan masyarakat bahwa popularitas di media sosial tidak menjamin kredibilitas di sektor keuangan. 

Ia meyakini tidak semua influencer memiliki izin atau kompetensi resmi untuk memberikan rekomendasi investasi.

Sebagai bukti keseriusan regulator, Wira menyinggung langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang pernah menjatuhkan denda hingga Rp35 miliar kepada salah satu influencer karena dinilai memberikan dampak negatif bagi investor pemula.

Selain masalah kredibilitas, perbedaan gaya investasi juga menjadi risiko. "Seorang influencer mungkin bertindak sebagai trader yang beli pagi jual sore. Sementara pengikutnya berharap investasi jangka panjang. Tentu saham yang dipilih harusnya berbeda," jelas Wira.

Sebagai benteng menghadapi gejolak pasar dan disinformasi, BEI terus menggaungkan prinsip 3P, yakni Paham, Punya dan Pantau.

Paham, menyangkut pemahaman investor terkait profil risiko diri sendiri dan karakter saham yang akan dibeli. Jangan hanya ikut-ikutan (FOMO).

"Setelah Paham, barulah masuk tahap Punya, yaitu memiliki saham berdasarkan literasi dan analisis yang benar. Namun memiliki saham saja tidak cukup tanpa pengawasan," ungkap Wira.

Selanjutnya yang ketiga adala Pantau, di mana pengeriannya saham yang sudah dimiliki tidak boleh didiamkan. 

Pemantauan rutin diperlukan untuk menjaga portofolio, terutama saat terjadi gejolak ekonomi global.

“Pantau itu krusial agar portofolio bisa diselamatkan dengan cepat. Investor perlu melakukan rebalancing yakni melepas sektor yang tertekan dan beralih ke sektor yang berpotensi menguat,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Wira berpesan agar masyarakat selalu melakukan verifikasi terhadap setiap informasi investasi yang diterima. 

Ia berharap pertumbuhan jumlah investor di Indonesia selaras dengan peningkatan kualitas edukasi mereka.

“Update informasi itu penting, tapi jangan mudah percaya tanpa mengonfirmasi sumbernya. Dengan prinsip Paham, Punya, Pantau, investor akan lebih siap menghadapi dinamika pasar dan tidak mudah terjebak janji manis keuntungan instan,” pungkasnya. //Bang

Type above and press Enter to search.