TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Ada Bahagia di Balik Pilihan Dewi Riri Mencintai Kebaya

Dewi Riri saat menghadiri acara "Lemari Waktu: 100 Wanita Berkebaya"

WARTAJOGLO, Sukoharjo - Kehadiran komunitas Kebaya Nusantara (KENES) menjadi salah satu warna penting dalam gelaran “Lemari Waktu: 100 Wanita Berkebaya”, yang berlangsung di Warisan Heritage Hotel, Sabtu 25 April 2026. 

Di balik kemeriahan acara yang digelar bersama Lions Club Solo Mustika dan IBK Bank Indonesia ini, ada sosok Dewi Riri atau akrab disapa Deri, yang turut menghidupkan semangat kebaya lewat komunitas yang ia bangun.

Bagi Dewi, keterlibatan KENES dalam acara ini bukan sekadar partisipasi, tetapi bagian dari cara mereka menjaga budaya dengan pendekatan yang ringan dan menyenangkan. 

Ia menjelaskan, konsep Lemari Waktu sendiri memiliki makna yang cukup dalam.

“Lemari itu kan tempat menyimpan. Kebaya juga disimpan di dalam lemari. Nah, di pameran ini ada kain-kain yang umurnya sampai 80 tahun, bahkan 100 tahun. Jadi Lemari Waktu itu benar-benar menceritakan sejarah. Kebaya itu tak lekang oleh waktu,” jelasnya saat ditemui di sela-sela acara.

Acara yang dihadiri sekitar 100 perempuan berkebaya ini memang dirancang sebagai perayaan dalam rangka memperingati Hari Kartini. 

Namun bagi Dewi dan komunitasnya, makna yang dibawa tidak harus selalu besar dan formal.

“Harapannya kita mengalir saja, nggak yang muluk-muluk. Komunitas Kenes ini tidak mengikat, kita nggak punya kas, isinya cuma kumpul senang-senang. Kalau ada event, kita ikut,” katanya.

Semangat “mengalir” itulah yang menjadi ciri khas Kenes. Komunitas ini terbentuk tanpa struktur organisasi yang kaku, namun tetap mampu aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan budaya. 

Bahkan dalam acara ini, Dewi menyebut Kenes menjadi salah satu pihak yang paling banyak terlibat dalam kolaborasi lintas komunitas.

“Kita berkolaborasi dengan beberapa pihak seperti IBK Bank, Lions Club Indonesia Mustika, Warisan, dan KENES sendiri. Yang paling banyak terlibat itu dari KENES,” ungkapnya.

Menariknya, latar belakang anggota KENES sangat beragam. Tidak ada sekat profesi maupun status sosial ketika mereka berkumpul.

“Anggota KENES itu bukan cuma satu profesi. Saya kontraktor, ada yang dosen, ada yang dokter. Banyak orang ‘sakti’, tapi kalau sudah kumpul tidak melihat status. Kita benar-benar komunitas buat senang-senang saja,” tutur Dewi sambil tersenyum.

Dewi sendiri merupakan salah satu founder sekaligus admin komunitas tersebut. Ia menyebut struktur KENES sangat sederhana, hanya terdiri dari satu ketua dan empat admin.

“Saya termasuk salah satu dari empat admin dan founder. Ketuanya Mbak Indrias. Tidak ada sekretaris atau bendahara. Dari awal sampai sekarang anggotanya sekitar 30-an orang,” jelasnya.

Kesederhanaan itu juga tercermin dalam cara mereka menjalankan aktivitas. Tidak ada iuran besar atau beban finansial yang memberatkan anggota.

“Benar-benar bahagia. Paling kita iuran Rp50.000 buat beli seragam atau makan bareng. Paling mahal Rp100.000, kadang malah nggak iuran, cukup bawa makanan sendiri untuk dimakan bersama,” katanya.

Bagi Dewi, kecintaan pada kebaya juga berangkat dari hal yang sederhana yakni rasa suka. Dari situlah kemudian tumbuh kepedulian untuk terus mengenakannya dalam berbagai kesempatan.

Ke depan, semangat itu akan terus dijaga dengan berbagai kegiatan, termasuk menari bersama di gelaran perayaan Hari Tari Dunia pada 29 April 2026.

“Besok tanggal 29 April kita mau menari di Balai Kota jam 08.00 pagi. Dulu kita juga pernah menari Gambyong. Yang belum pernah belajar pun kita ajak ikut,” tandasnya. //Sik

Type above and press Enter to search.