TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Dari Olahraga hingga Meditasi, Begini Persiapan Berat Penari "24 Jam Menari" ISI Surakarta

Ketua Pelaksana Perayaan Hari Tari Dunia Eko Supendi (kiri) bersama penari "24 jam Menari" Sekar Tri Kusuma dan Adif Marhaendra

WARTAJOGLO, Solo - Perayaan Hari Tari Dunia bertajuk “24 Jam Menari” akan digelar pada 29-30 April 2026 di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Di balik panggung yang tak pernah tidur selama 24 jam itu, tersimpan proses panjang dan persiapan ekstrem para penari yang akan menantang batas fisik dan kesadaran mereka.

Tahun ini, sembilan penari terpilih dari berbagai daerah akan menjalani satu tantangan menari tanpa henti selama 24 jam penuh. 

Bukan sekadar performa artistik, melainkan ujian ketahanan fisik, mental, dan spiritual.

Ketua pelaksana, Eko Supendi, S.Kar, M.Sn, menegaskan bahwa konsep utama acara ini tetap berpijak pada dua format besar.

“Ada dua model bentuk pertunjukan, yaitu pertunjukan 24 jam nonstop yang kita istilahkan festival, dan yang kedua adalah menari 24 jam nonstop. Dua agenda ini setiap tahun selalu kita breakdown di beberapa titik di lingkungan ISI Surakarta,” jelasnya saat menghadiri konferensi pers pada Jumat 24 April 2026, di Gedung Teater Kecil ISI Surakarta.

Selama 24 jam penuh, denyut pertunjukan tak pernah berhenti. Dari Pendopo hingga Teater Besar, dari Teater Kecil hingga ruang terbuka yang disebut “Teater Kapal”, menjadi arena hidup bagi ragam ekspresi gerak. 

Tidak hanya pertunjukan, acara ini juga dirangkai dengan summit meeting departemen tari dari 12 perguruan tinggi, bazar industri kreatif, hingga orasi budaya oleh maestro tari Sardono W. Kusumo.

Salah satu daya tarik utama adalah aksi sembilan penari yang akan menari tanpa henti selama 24 jam. 

Eko menuturkan bahwa tantangan ini bukan sekadar performa, melainkan pengalaman total tubuh.

“Dari gong oleh Pak Rektor jam 6 pagi sampai jam 6 pagi berikutnya, mereka nonstop. Bahkan saat makan, itu kita kemas secara performatif—bukan sekadar makan biasa, tapi menjadi bagian dari pertunjukan,” ungkapnya.

Dalam format ini, tubuh penari benar-benar menjadi medium utama yang terus “hidup” selama sehari penuh. 

Mereka tetap harus bergerak saat menunggu giliran tampil, saat keluar dari panggung, bahkan saat menjalani aktivitas sederhana. Semua dirancang dalam bingkai artistik.

Salah satu penari, Sekar Tri Kusuma, mengungkapkan bahwa persiapan menuju 24 jam menari tidak bisa dilakukan secara instan. 

Ia menjalani latihan intens hampir setiap hari untuk menjaga stamina tubuhnya. “Saya melatih hampir setiap hari, berlatih olah tubuh,” tuturnya.

Tak hanya itu, Sekar juga memperkuat daya tahan fisik melalui olahraga rutin. 

“Saya gemar berenang, jadi hampir setiap minggu dua hingga tiga kali saya berenang,” ujarnya. 

Aktivitas ini membantu menjaga ritme napas dan kekuatan otot agar tetap stabil dalam durasi panjang.

Namun, tantangan “24 Jam Menari” tidak berhenti pada aspek fisik. Sekar menyadari bahwa mental dan spiritual memegang peranan yang sama pentingnya. 

Ia bahkan mengikuti sesi meditasi intens selama 10 hari penuh sebagai bagian dari persiapan. 

“Saya mengambil kelas meditasi 10 hari tanpa henti, dan saya harap itu bisa terus saya lanjutkan,” katanya.

Baginya, menari selama 24 jam adalah perjalanan batin yang melampaui sekadar pertunjukan. 

“Yang menantang itu bukan berhenti di 24 jam ketika menari, tapi apa yang setelahnya bisa kita lakukan sebagai penari 24 Jam,” ungkapnya, menyoroti tanggung jawab yang melekat setelah pengalaman tersebut.

Persiapan spiritual pun menjadi fondasi penting. Sebab semua yang saya kerjakan ini sangat bergantung pada dukungan dan tentu saja kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tambah Sekar, menegaskan bahwa kekuatan batin menjadi penopang utama di tengah keterbatasan fisik manusia.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Adif Marhaendra, salah seorang penari asal Wonogiri yang mengaku rutin berolahraga, terutama melatih kekuatan kakinya, untuk mempersiapkan diri tampil di perhelatan ini.

Selain itu, setiap penari juga diwajibkan menampilkan satu karya unggulan (masterpiece) mereka di panggung. 

Meski durasinya dibatasi maksimal 20 menit, proses menuju karya tersebut tetap berlangsung dalam kondisi tubuh yang terus bergerak tanpa henti. //Bang

Type above and press Enter to search.