TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Regenerative Agriculture Jadi Kunci Transformasi Pertanian Sukoharjo

Pelatihan Regenerative Agriculture

WARTAJOGLO, Sukoharjo - Kabupaten Sukoharjo kini tidak sekadar berperan sebagai penyangga pangan bagi Kota Surakarta, tetapi mulai menapaki arah baru menuju sistem pertanian berkelanjutan melalui pendekatan Regenerative Agriculture atau pertanian regeneratif. 

Transformasi ini menjadi jawaban atas berbagai tantangan klasik sektor pertanian sekaligus peluang untuk memperkuat ketahanan pangan kawasan Solo Raya.

Hal ini senada dengan hasil baseline budidaya dan analisis usaha tani oleh Gita Pertiwi (Desember 2025), yang menunjukkan masih adanya sejumlah tantangan mendasar dalam praktik budidaya.

Selama ini, Sukoharjo dikenal sebagai salah satu sentra produksi pangan penting, khususnya hortikultura. 

Data Sukoharjo Dalam Angka 2026 mencatat produksi melon mencapai 3.962 kuintal, bawang merah 7.790 kuintal, semangka 4.287 kuintal, dan cabai rawit 3.647 kuintal pada tahun 2025, dengan luas panen lebih dari 20 ribu hektare. 

Peran ini semakin vital karena Kota Surakarta hampir sepenuhnya bergantung pada daerah penyangga untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

Namun di balik capaian tersebut, sistem pertanian yang ada masih menghadapi sejumlah persoalan. 

Ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia, tingginya biaya produksi, serta praktik budidaya konvensional menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. 

Selain itu, pengelolaan air yang belum optimal serta lemahnya penanganan pascapanen turut memengaruhi efisiensi dan keberlanjutan usaha tani.

Di sinilah Regenerative Agriculture hadir sebagai solusi. Pendekatan ini menekankan pada pemulihan kesehatan tanah melalui penggunaan bahan organik dan aktivitas biologis, pengurangan input kimia sintetis, pengelolaan air yang lebih bijak, serta peningkatan keanekaragaman hayati. 

Tujuan utamanya bukan hanya meningkatkan hasil, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pertanian dalam jangka panjang.

Implementasi konsep ini mulai diuji melalui program Sekolah Lapang sejak Juli 2025 di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari. 

Hasilnya cukup menggembirakan. Petani tidak hanya mampu menekan biaya produksi, tetapi juga mulai memahami pentingnya menjaga kualitas tanah sebagai aset utama pertanian.

Untuk memperluas penerapan, kegiatan Training of Trainers (ToT) Regenerative Agriculture digelar dengan melibatkan petani dan fasilitator lokal. 

Program ini dirancang agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada peserta, tetapi dapat disebarluaskan ke wilayah lain melalui pendekatan berbasis praktik lapangan.

Dampak pelatihan mulai terasa. Para peserta menunjukkan peningkatan pemahaman tentang pengelolaan tanah sehat, penggunaan pupuk organik, hingga strategi mengurangi ketergantungan pada bahan kimia. 

Selain itu, mereka juga dibekali kemampuan untuk menyesuaikan praktik budidaya dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan pasar.

Agus, petani dari Desa Plesan, mengakui perubahan perspektif yang ia rasakan. 

“Selama ini biaya produksi kami cukup tinggi karena bergantung pada pupuk dan pestisida kimia. Dari pelatihan ini, kami belajar cara memanfaatkan bahan lokal untuk menekan biaya,” ungkapnya.

Hal serupa disampaikan Sunarman, yang menilai metode pelatihan berbasis praktik sangat efektif. 

“Pelatihannya menarik karena banyak praktik langsung. Ini menambah wawasan kami tentang bagaimana memperbaiki kondisi tanah dan pertanian ke depan,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari para penyuluh. Indah, PPL Kecamatan Nguter, berharap program ini terus berlanjut. 

"Kami ingin ilmu yang didapat benar-benar diterapkan oleh petani, sehingga dampaknya bisa dirasakan secara luas,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo, Hadi Pramono, S.P, menegaskan bahwa pendekatan ini sangat penting untuk masa depan pertanian. 

“Penggunaan bahan kimia memang meningkatkan hasil dalam jangka pendek, tetapi berdampak pada penurunan kualitas tanah. Regenerative Agriculture menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan tersebut,” jelasnya.

Dengan langkah ini, Sukoharjo tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pemasok pangan utama, tetapi juga menjadi pionir dalam penerapan pertanian berkelanjutan di tingkat daerah. 

Regenerative Agriculture membuka jalan bagi sistem produksi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan mampu menjawab tantangan pangan di masa depan. //Sik

Type above and press Enter to search.