![]() |
| Owner Wong Solo Group H Puspo Wardoyo (tengah) menyambut kedatangan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid (kiri), saat melakukan kunjungan ke PT HaTI |
WARTAJOGLO, Solo - Bagi pelaku usaha katering, penyediaan konsumsi untuk jamaah haji bukan sekadar peluang bisnis, tetapi juga medan penuh tantangan dengan risiko tinggi.
Hal inilah yang tergambar dari pengalaman Puspo Wardoyo, pemilik Wong Solo Group melalui PT Halalal Thayiban Indonesia (HaTI).
Puspo menyampaikan pandangannya usai mendampingi Abdul Wachid saat meninjau proses produksi konsumsi haji di PT HaTI, pada Kamis 23 April 2026.
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa bisnis konsumsi haji memiliki tingkat kerawanan yang tidak bisa disamakan dengan katering pada umumnya.
Salah satu tantangan paling mendasar adalah soal kepastian distribusi di lokasi ekstrem seperti Arafah dan Muzdalifah.
Di wilayah ini, tidak tersedia akses makanan sama sekali. Artinya, jika distribusi gagal, tidak ada alternatif lain bagi jamaah.
“Kalau sampai tidak terkirim, itu bisa jadi masalah besar karena tidak ada yang jualan makanan di sana,” ungkapnya.
Pengalaman masa lalu, ketika konsumsi diganti dengan uang namun tidak bisa dimanfaatkan, menjadi bukti nyata kompleksitas tersebut.
Selain distribusi, skala produksi yang masif juga menjadi tantangan tersendiri. HaTI, misalnya, harus menyiapkan hingga dua juta porsi makanan untuk satu musim haji, khususnya di Muzdalifah.
Jumlah ini menuntut kesiapan produksi, pengemasan, hingga ketahanan makanan agar tetap layak konsumsi dalam waktu tertentu.
Di sisi lain, tantangan besar juga datang dari biaya logistik yang terus meningkat. Pengiriman makanan dari Indonesia ke Arab Saudi, terutama melalui jalur udara, mengalami lonjakan harga signifikan.
Kondisi ini menjadi dilema, karena harga layanan katering haji telah ditetapkan sejak awal dan tidak bisa menyesuaikan secara fleksibel dengan kenaikan biaya.
“Kalau biaya transportasi terus naik, kita tidak mampu lagi menanggung, sementara harga sudah dipatok,” jelas Puspo.
Situasi ini menunjukkan bahwa margin bisnis di sektor ini sangat tipis dan rentan terhadap gejolak eksternal.
Tantangan berikutnya adalah ketergantungan pada bahan baku dari Indonesia. Rempah-rempah dan nasi sebagai komponen utama makanan khas Indonesia tidak tersedia di Tanah Suci.
Hal ini membuat rantai pasok menjadi panjang dan kompleks. Untuk mengatasi hal tersebut, muncul rencana strategis membuka dapur produksi langsung di Arab Saudi.
Langkah ini diharapkan mampu menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi.
Namun, persoalan tidak berhenti di situ. Dalam skema bisnis konsumsi haji, penyedia juga dihadapkan pada mekanisme pembayaran yang menuntut kekuatan modal besar.
Pembayaran yang dilakukan setelah layanan selesai membuat pelaku usaha harus menanggung seluruh biaya operasional di awal.
“Kalau tidak punya modal, tidak bisa jalan,” tegasnya.
Belum lagi faktor eksternal seperti inflasi global, fluktuasi biaya transportasi, hingga dinamika geopolitik yang dapat mempengaruhi jalur distribusi.
Tantangan Bisnis Konsumsi Haji, Puspo Wardoyo: Harus Punya Modal Kuat https://t.co/juXrLImfsM
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) April 23, 2026
Meski kontrak tahun berjalan relatif aman, ketidakpastian untuk musim haji berikutnya tetap menjadi bayang-bayang bagi para pelaku usaha.
Kunjungan Abdul Wachid ke fasilitas produksi HaTI menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa di tengah berbagai tantangan tersebut, kualitas layanan tetap terjaga.
Pengawasan ini penting agar bisnis konsumsi haji tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga tanggung jawab pelayanan terhadap jamaah. //Sik
