![]() |
| Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede dalam acara Media Briefing PIER Economic Review Q1 2026 |
WARTAJOGLO, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan sinyal positif pada awal 2026. Di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi, ekonomi nasional mampu tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal I 2026.
Angka tersebut menjadi capaian pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III 2022 sekaligus meningkat dibandingkan pertumbuhan 5,39 persen pada kuartal IV 2025.
Temuan tersebut disampaikan oleh Permata Institute for Economic Research (PIER), lembaga riset ekonomi milik Permata Bank, dalam analisis terbarunya terkait kondisi ekonomi nasional.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan bahwa permintaan domestik masih menjadi tulang punggung utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun ini.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih didukung kuat oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Namun demikian, dinamika eksternal seperti perang dagang, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi global tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi stabilitas dan prospek pertumbuhan ke depan,” ujar Josua Pardede.
Konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat tumbuh 5,52 persen YoY pada kuartal I 2026, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di level 5,11 persen.
Peningkatan konsumsi masyarakat didorong momentum Ramadan dan Idulfitri yang mendorong aktivitas belanja serta membaiknya keyakinan konsumen dan penjualan ritel sepanjang Maret 2026.
Selain konsumsi masyarakat, investasi juga tetap menunjukkan daya tahan meski mengalami sedikit moderasi.
Pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat sebesar 5,96 persen YoY, sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 6,12 persen.
Investasi masih ditopang pembangunan bangunan dan struktur yang berkaitan dengan berbagai program prioritas pemerintah.
Di sisi lain, belanja pemerintah melonjak signifikan hingga 21,31 persen YoY seiring percepatan realisasi fiskal pada awal tahun.
Belanja tersebut antara lain diarahkan untuk mendukung program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun di tengah capaian positif tersebut, PIER menilai struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan.
Mesin pertumbuhan dinilai belum sepenuhnya bertumpu pada ekspansi investasi swasta yang kuat dan berkelanjutan.
Sebagian pertumbuhan masih didorong faktor musiman serta stimulus berbasis kebijakan pemerintah.
Dari sektor eksternal, kinerja ekspor masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Ekspor hanya tumbuh 0,90 persen YoY, sedangkan impor naik 3,22 persen seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal domestik.
Secara sektoral, industri akomodasi serta makanan dan minuman menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi.
Sektor tersebut melonjak dari 7,41 persen menjadi 13,14 persen YoY pada kuartal I 2026, didorong tingginya mobilitas masyarakat selama periode libur dan hari besar keagamaan.
Sektor jasa lainnya serta transportasi dan pergudangan juga mencatat pertumbuhan kuat. Sementara itu, industri pengolahan yang menjadi kontributor terbesar PDB mengalami moderasi pertumbuhan menjadi 5,04 persen YoY dari sebelumnya 5,40 persen.
Pada sektor pertambangan, tekanan masih terasa akibat kebijakan pengendalian produksi sejumlah komoditas mineral utama.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,93 persen YoY, disusul Sulawesi sebesar 6,95 persen dan Jawa sebesar 5,79 persen.
Pertumbuhan di berbagai wilayah tersebut ditopang normalisasi pertambangan di Nusa Tenggara Barat, kuatnya industri manufaktur di Sulawesi, serta tingginya konsumsi domestik di Pulau Jawa.
Meski pertumbuhan ekonomi terlihat solid, dunia usaha masih menunjukkan sikap hati-hati. Hal ini tercermin dari kondisi pasar tenaga kerja dan sektor manufaktur.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2026 tercatat sebesar 4,68 persen dengan jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang atau naik sekitar 1,89 juta orang dibandingkan Februari 2025.
Namun demikian, kualitas penyerapan tenaga kerja masih menjadi perhatian karena proporsi pekerja formal sedikit menurun, sementara jumlah pekerja paruh waktu meningkat.
PIER menilai risiko utama saat ini bukan lonjakan pengangguran besar-besaran, melainkan meningkatnya informalitas pekerjaan serta tekanan terhadap pendapatan kelompok menengah bawah.
Di sektor manufaktur, tanda perlambatan mulai terlihat. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis kuartal I 2026 memang masih berada di zona ekspansi pada level 51,37, namun lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 52,21.
Bahkan pada April 2026, PMI Manufaktur turun ke level 49,1 yang menandakan kontraksi aktivitas industri.
Tekanan biaya produksi, kenaikan harga energi, serta pelemahan permintaan global menjadi tantangan yang perlu diantisipasi pelaku usaha dan pemerintah.
Kondisi tersebut juga berdampak pada pasar keuangan domestik. Meski pertumbuhan ekonomi membaik, investor asing masih mencatat arus keluar bersih sekitar USD1,79 miliar dari pasar domestik pada kuartal I 2026.
Kekhawatiran investor dipicu berbagai faktor seperti pelemahan rupiah, ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga energi, hingga keterbatasan ruang penurunan suku bunga.
Meski demikian, sektor jasa keuangan dan konsumsi domestik masih menjadi bantalan penting bagi perekonomian.
Penyaluran kredit perbankan tetap tumbuh meski lebih selektif, sementara Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 tetap berada di level optimistis yakni 123,0.
Menutup analisanya, Josua menekankan pentingnya sinergi kebijakan untuk menjaga kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menguat, Sektor Konsumsi Jadi Penyelamat https://t.co/zKPuwdLboz
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) May 12, 2026
“Ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tetap penting untuk menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar di tengah dinamika global. Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat kuat dalam angka, tetapi juga lebih terasa nyata dalam investasi, penciptaan pekerjaan formal, dan peningkatan pendapatan masyarakat,” tutup Josua Pardede. //Sik
