![]() |
| Perwakilan dari peternak petelur yang mengikuti rembug nasional menandatangani deklarasi bersama untuk mendorong pemerintah agar memahami kondisi yang dihadapi para peternak di lapangan |
WARTAJOGLO, Solo - Rembug Nasional Peternak Petelur Rakyat Indonesia yang digelar di Kota Solo, Sabtu 2 Mei 2026, menyoroti persoalan serius yang tengah dihadapi peternak.
Adapun persoalan krusial yang tengah dihadapi antara lain rendahnya serapan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berujung pada melimpahnya stok, hingga jatuhnya harga telur di tingkat kandang.
Situasi ini semakin membuat resah dengan munculnya isu rencana pengadaan telur dari China, yang langsung ditolak keras oleh para peternak.
Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso, menyebut kondisi ini sebagai ironi di tengah keberhasilan Indonesia mencapai swasembada telur sejak 2024.
“Saat ini penyerapan dari MBG mungkin baru sekitar 1 persen. Padahal kami berharap program ini bisa menjadi penopang utama penyerapan telur,” ujarnya.
Program MBG yang diharapkan mampu menyerap produksi dalam jumlah besar, dinilai belum berjalan optimal. Bahkan di lapangan, penggunaan telur dalam menu masih sangat terbatas.
“Kami berharap penggunaan telur bisa ditingkatkan, tidak hanya satu kali, tapi dua sampai tiga kali dalam seminggu,” tambahnya.
Pengurus PPN, Suwardi, mengungkapkan bahwa produksi telur nasional saat ini mencapai 18.000 ton atau sekitar 280 juta butir per hari. Sementara kebutuhan untuk MBG diperkirakan mencapai 83,5 juta butir.
Namun realisasi di lapangan masih jauh dari harapan.
![]() |
| Para peserta rembug nasional yang merupakan perwakilan dari peternak petelur se Indonesia berharap ada solusi jitu dari pemerintah untuk mengatasi masalah rendahnya serapan hasil produksi mereka |
“Saat ini baru sekitar 70 juta butir yang terserap. Bahkan dari hasil survei kami, banyak dapur MBG hanya menggunakan telur satu kali dalam seminggu,” jelasnya.
Di saat yang sama, daya beli masyarakat yang melemah membuat pasar umum tidak mampu menyerap kelebihan produksi tersebut.
“Produksi melimpah, serapan rendah, daya beli juga turun. Akhirnya telur menumpuk dan harga terpuruk,” imbuhnya.
Dampaknya, harga telur di tingkat peternak jatuh dari Rp26.500 menjadi sekitar Rp21.000 per kilogram, sementara biaya produksi terus meningkat.
Di tengah kondisi kelebihan pasokan ini, para peternak justru dihadapkan pada isu rencana pengadaan telur melalui kerja sama dengan China.
Isu tersebut langsung menuai penolakan keras dalam forum rembuk nasional.
Suwardi menegaskan bahwa rencana tersebut tidak relevan dengan kondisi riil di lapangan.
“Kami akan menyampaikan kepada pemerintah bahwa kita sudah cukup, sudah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tegasnya.
Para peternak juga berencana menyurati Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) agar meninjau ulang wacana tersebut.
Menurut mereka, dalih kekurangan pasokan di daerah tertentu seperti Aceh tidak tepat dijadikan dasar impor. Persoalan yang terjadi lebih pada distribusi dan birokrasi, bukan produksi.
“Aceh itu dekat dengan Sumatera Utara, stok kita cukup. Tinggal bagaimana mengatur distribusinya agar tidak terjadi ketimpangan,” jelas Suwardi.
Melalui rembuk nasional ini, para peternak mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret.
Selain mengoptimalkan program MBG, mereka juga mendorong penguatan program penanganan stunting serta perbaikan tata kelola distribusi pangan.
Mereka menegaskan bahwa menjaga swasembada telur bukan hanya soal produksi, tetapi juga keberpihakan kebijakan terhadap peternak rakyat.
Serapan MBG Rendah serta Isu Impor Telur dari China, Bikin Peternak Merana https://t.co/ONA8XpmRKh
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) May 2, 2026
Sebuah risalah yang berisi berbagai keluhan dan masukan dari para peternak ditandatangani bersama oleh para peserta rembug nasional. Yang selanjutnya dokumen itu akan dikirimkan ke pemerintah, agar ditindaklanjuti.
“Kami sudah menghantarkan Indonesia pada swasembada telur. Sekarang kami berharap pemerintah ikut menjaga, agar peternak tetap bisa bertahan,” pungkas Yudianto. //Bang

