WARTAJOGLO, Solo – Perjalanan panjang seorang seniman tak selalu tercatat dalam buku sejarah. Kadang, ia tersimpan dalam goresan kanvas, gerak tubuh yang menari, hingga cerita-cerita yang lahir dari pengalaman hidup.
Jejak itulah yang dihadirkan dalam pameran tunggal bertajuk “La Vida: Feelings, Love and Betrayal” karya seniman multidisiplin asal Surakarta, Wied Sendjayani.
Pameran yang berlangsung di Studiho Hocus Flocus, Sudiroprajan, Jebres, Solo, pada 15 Juni hingga 15 Juli 2026 itu merupakan hasil kolaborasi antara Salfolk, Hocusflocus, dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta.
Bagi dunia seni Indonesia, nama Wied Sendjayani bukanlah sosok asing. Ia dikenal sebagai seniman yang mampu bergerak luwes di berbagai medium, mulai dari tari, seni rupa hingga komik. Perjalanan kreatifnya telah berlangsung lebih dari lima dekade dan terus hidup hingga hari ini.
Wied menempuh pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Yogyakarta pada 1965–1968. Di masa studinya, ia bergabung dengan Bengkel Teater WS Rendra pada 1966.
Lingkungan kreatif tersebut membentuk kepekaannya terhadap tubuh, narasi, dan dinamika kehidupan manusia yang kemudian banyak tercermin dalam karya-karyanya.
Pada era 1970-an, Wied aktif di dunia budaya populer Indonesia melalui praktik tari dan komik.
Perjalanan artistiknya semakin berkembang saat ia melakukan road trip pertunjukan ke berbagai negara di Asia, Eropa, dan Afrika pada 1976 hingga 1979.
Pengalaman lintas budaya itu memperkaya perspektifnya tentang kehidupan sekaligus memperluas cakrawala artistiknya.
Sekembalinya ke Indonesia, ia mendirikan kelompok tari Maniratari di Surakarta pada 1985. Hingga kini, kelompok tersebut masih menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya.
Nama Wied kembali mendapat perhatian publik pada 2024 melalui pameran Daya Dara di Bentara Budaya Yogyakarta, yang menempatkannya sebagai salah satu figur penting dalam sejarah komik perempuan Indonesia.
Menurut penyelenggara, pameran La Vida bukan sekadar menampilkan karya seni rupa, melainkan menjadi sebuah arsip hidup yang membuka kembali perjalanan kreatif seorang maestro.
Melalui pameran ini, publik diajak membaca ulang jejak seni dan kehidupan Wied yang terus berkarya sejak dekade 1970-an.
Dosen Program Studi Seni Intermedia FSRD ISI Surakarta, Dessy Rachma, yang menggagas pameran bersama Hocusflocus dan Salfolk, menilai bahwa yang tersimpan dalam diri Wied bukan hanya karya seni, tetapi juga pengalaman hidup yang kaya dan layak dibagikan kepada generasi yang lebih luas.
“Seiring berjalannya waktu, kami menyadari bahwa yang tersimpan dalam diri Bu Wied bukan hanya karya-karya seni, melainkan sebuah perjalanan hidup yang begitu kaya dan layak untuk dibagikan kepada publik yang lebih luas dari 50 tahun pengabdiannya dalam berkarya,” ungkapnya.
Mengambil judul La Vida yang berarti “kehidupan”, pameran ini menghadirkan karya-karya yang berbicara tentang perasaan, cinta, pengkhianatan, kerja, mimpi, kehilangan, hingga keberanian untuk terus melangkah.
Setiap karya menjadi penanda perjalanan waktu sekaligus refleksi pengalaman manusia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui karya-karya seperti Panen Bunga, Behind The Stage, Akhir Sebuah Karir, The Loner, Stretch Baby!, Let's Move!, hingga Rembetan ke Sekolah, Wied mengajak pengunjung menelusuri beragam sisi kehidupan yang sering hadir di sekitar kita, namun kerap luput untuk direnungkan.
"La Vida: Feelings, Love and Betrayal", Merayakan 50 Tahun Jejak Kreatif Seniman Wied Sendjayani https://t.co/DinCLAjY2O
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) June 18, 2026
Lebih dari sekadar pameran, La Vida menjadi ruang untuk memahami bagaimana seorang seniman menjaga nyala kreativitasnya selama lebih dari 50 tahun.
Di balik setiap karya, tersimpan kisah tentang ketekunan, keberanian, dan kecintaan terhadap kehidupan yang terus tumbuh dari waktu ke waktu. //Bang
