![]() |
| Datangnya bulan Suro yang berwatak Honggorekoto diperkirakan akan diliputi berbagai manuver dalam satu tahun ke depan |
WARTAJOGLO, Karanganyar — Datangnya 1 Suro yang bertepatan dengan Selasa, 16 Juni 2026, tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun biasa dalam kalender Jawa.
Dalam pandangan para pemerhati budaya dan spiritual Jawa, momentum ini juga menjadi penanda watak zaman yang diyakini akan mewarnai perjalanan bangsa selama setahun ke depan.
Tahun ini, 1 Suro jatuh pada Selasa Wage, yang dalam perhitungan primbon kuno masuk dalam watak Hanggararekata.
Watak ini disimbolkan dengan kepiting dan diartikan sebagai tahun yang banyak hujan serta membawa kesuburan.
Namun di balik makna harfiahnya, sejumlah tafsir Jawa melihat simbol tersebut sebagai pertanda lebih luas.
Di mana sebuah masa ketika kehidupan sosial, ekonomi, dan politik sedang bergerak menuju proses penataan ulang.
Spiritualis asal Karanganyar, KRT. Warjodiningrat, menilai watak Selasa Wage yang mengawali tahun Jawa kali ini memiliki karakter yang berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.
"Kalau membaca simbol-simbol Jawa, ini bukan tahun ledakan, melainkan tahun pembenahan atau penataan ulang. Banyak hal yang selama ini berjalan kurang tepat akan dipaksa mencari bentuk baru. Alam memberi tanda melalui air, sementara kehidupan manusia mendapat tanda melalui proses penataan," ujarnya.
Spiritualis yang akrab disapa Kang Warjo ini menyebut bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi berbagai perubahan besar.
Mulai dari pergantian kepemimpinan nasional, penyesuaian kebijakan ekonomi, perubahan pola kerja akibat perkembangan teknologi, hingga tekanan global yang berdampak pada harga pangan dan daya beli masyarakat.
Menurut Kang Warjo, kondisi tersebut sejalan dengan karakter Selasa Wage yang dalam perhitungan Jawa identik dengan masa pencarian keseimbangan.
"Neptu Selasa Wage itu tujuh. Dalam simbol Jawa, tujuh disimbolkan dengan tirta atau air. Air selalu mencari tempat yang rendah dan menyesuaikan bentuk wadahnya. Itu perlambang bahwa masyarakat sedang mencari titik keseimbangan baru," katanya.
Ia melihat setahun ke depan akan menjadi masa, ketika berbagai kebijakan yang selama ini dianggap kurang efektif mulai dievaluasi.
Di tingkat masyarakat, perubahan juga akan terlihat pada pola konsumsi, cara berusaha, hingga hubungan antara pemerintah dan rakyat.
Di bidang ekonomi, Kang Warjo menilai watak tahun ini lebih berpihak kepada sektor riil dibanding pertumbuhan yang hanya terlihat di atas kertas.
Pasaran Wage dalam tradisi Jawa sering dikaitkan dengan perdagangan rakyat, pasar, dan kehidupan ekonomi sehari-hari.
Karena itu, penguatan usaha kecil dan menengah diperkirakan menjadi salah satu tema besar dalam setahun mendatang.
"Kalau ada pertumbuhan, kemungkinan besar datang dari bawah. Dari petani, pedagang, pelaku UMKM, dan sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat. Tahun ini bukan soal siapa paling besar, tetapi siapa yang paling mampu bertahan dan beradaptasi," jelasnya.
Kondisi tersebut dinilai relevan dengan tantangan yang saat ini dihadapi masyarakat, terutama terkait daya beli, lapangan pekerjaan, dan kebutuhan akan stabilitas harga pangan.
Di bidang politik, watak Selasa Wage juga dianggap membawa energi konsolidasi. Setelah melalui berbagai kontestasi dan perubahan kepemimpinan dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia diperkirakan memasuki fase penataan kekuatan baru.
Menurut Kang Warjo, simbol kepiting dalam Hanggararekata menyimpan makna yang menarik.
Kepiting tidak selalu bergerak lurus ke depan, tetapi sering bergerak menyamping untuk mencapai tujuan.
"Dalam politik, itu bisa dimaknai sebagai banyak manuver, banyak penyesuaian, banyak kompromi. Tetapi tujuan akhirnya tetap mencari stabilitas. Yang menarik, masyarakat sekarang semakin kritis sehingga proses itu tidak bisa lagi dilakukan secara tertutup seperti dulu," ujarnya.
Ia memperkirakan akan muncul sejumlah kebijakan yang mungkin menuai perdebatan di awal, tetapi pada akhirnya menjadi bagian dari proses pembentukan arah baru pemerintahan dan pembangunan.
Sementara itu, watak Hanggararekata yang dikaitkan dengan banyaknya hujan juga dinilai membawa pesan penting mengenai ketahanan pangan.
Dalam primbon disebutkan bahwa tahun Selasa merupakan tahun ketika tanaman hidup subur.
Tafsir modernnya, menurut Kang Warjo, bukan hanya soal pertanian, tetapi juga kemampuan bangsa menjaga kebutuhan dasar masyarakat.
"Kalau para leluhur bicara tanaman subur, sebenarnya itu bicara soal keberlangsungan hidup. Sekarang bentuknya bisa berupa pangan, energi, lapangan kerja, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.
Karena itu, isu pertanian, swasembada pangan, pengelolaan air, dan pembangunan pedesaan diperkirakan akan semakin mendapat perhatian dalam setahun mendatang.
Meski demikian, Kang Warjo mengingatkan bahwa proses penataan tidak selalu berjalan mulus. Setiap perubahan biasanya disertai gesekan, perdebatan, dan ketidaknyamanan.
Namun justru dari situlah lahir keseimbangan baru yang lebih kuat.
"Dalam istilah Jawa ada ungkapan ngresiki dalan sadurunge lelampahan gedhe, membersihkan jalan sebelum perjalanan besar. Saya melihat watak tahun ini seperti itu. Banyak yang dibenahi, banyak yang dirapikan, supaya bangsa ini memiliki fondasi yang lebih kuat untuk melangkah ke tahap berikutnya," tuturnya.
Suro Diselimuti Unsur Air, Spiritualis: Banyak Manuver di Tengah Gejolak Alam https://t.co/QCxC586SGZ
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) June 15, 2026
Jika tafsir tersebut benar, maka Suro 2026 bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa.
Tapi menjadi simbol dimulainya masa penataan ulang, ketika Indonesia perlahan mencari bentuk keseimbangan baru di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang terus bergerak. //Kls
