![]() |
| Spiritualis asal Bali Kanjeng Mami Ratu Niang menggelar ritual labuhan dan buka aura massal di Pantai Parangkusumo |
WARTAJOGLO, Bantul - Mengenakan busana bercorak emas yang dipadu dengan jarik dan mahkota khas seorang ratu, spiritualis asal Bali, Kanjeng Mami Ratu Niang, memimpin prosesi labuhan sekaligus pembukaan aura massal di Pantai parangkusumo, Bantul, DI Yogyakarta, pada Selasa 7 Juli 2026 sore.
Ritual ini diikuti oleh ratusan warga yang berasal dari berbagai daerah.
Bagi Kanjeng Mami, ritual tersebut bukan sekadar tradisi tahunan. Prosesi itu merupakan bagian dari rangkaian ritual yang rutin ia jalankan selama Bulan Suro, mulai dari pembukaan, pertengahan, hingga penutupan.
"Hari ini saya melakukan labuhan dan pembukaan aura massal. Pakaian ini saya kenakan agar lebih menjiwai ritual yang saya lakukan," ujarnya saat ditemui sebelum memulai prosesi.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pembukaan aura massal pertama yang pernah ia gelar. Selama ini, layanan pembukaan aura lebih sering dilakukan secara pribadi, baik secara langsung maupun melalui konsultasi daring.
Menariknya, ritual tersebut tidak menggunakan sistem pendaftaran. Siapa pun yang datang diperbolehkan mengikuti prosesi dengan membawa sejumlah perlengkapan sebagai simbol ritual, yakni kelapa hijau, kembang telon, serta uang tebusan sebesar Rp77 ribu.
Kanjeng Mami menjelaskan bahwa seluruh rangkaian ritual sengaja menggunakan simbol angka tujuh yang dimaknai sebagai pitulungan, atau pertolongan dalam filosofi Jawa.
"Semua saya angkat tujuh, sebagai simbol pitulungan," katanya.
Prosesi ritual diawali dengan doa dan labuhan, kemudian dilanjutkan pembukaan aura massal menggunakan metode yang disebut rerajahan.
Dalam metode tersebut, Kanjeng Mami menuliskan aksara Hindu atau sastra suci pada wajah peserta dan pada kelapa hijau yang mereka bawa.
Menurutnya, aksara tersebut menjadi simbol penetralan energi negatif menjadi energi positif.
Ia menegaskan bahwa konsep pembukaan aura yang dimaksud bukan untuk membuat seseorang mampu melihat makhluk gaib sebagaimana anggapan sebagian masyarakat.
"Buka aura itu adalah rasa. Aura adalah apa yang kita rasakan. Jadi bukan supaya bisa melihat hantu atau hal-hal gaib. Aura itu lebih kepada menetralisir aura negatif menjadi positif," jelasnya.
Ia juga membedakan ritual tersebut dengan ruwatan dalam tradisi Jawa.
"Kalau ruwatan itu membuang sengkala. Kalau buka aura ini lebih kepada kharisma, kewibawaan, dan nur seseorang," katanya.
Sebelum prosesi pembukaan aura dilakukan, ritual diawali dengan pemotongan ayam cemani dan kambing hitam mulus sebagai bagian dari proses penyucian.
Ritual ini menurut Kanjeng Mami berasal dari tradisi spiritual Hindu aliran Bhairawa.
Usai prosesi tersebut, kepala kambing hitam bersama tujuh tumpeng kemudian dilarung ke laut selatan.
Ia mengatakan larungan tersebut merupakan bagian dari ritual yang telah lama ia jalankan sebagai bentuk pemenuhan "tebusan" berdasarkan keyakinan spiritual yang dianutnya.
Sementara ratusan sesaji lainnya tidak ikut dilarung. Buah-buahan, tumpeng, hingga aneka jajan pasar justru dipersiapkan untuk masyarakat yang hadir sebagai bagian dari tradisi ngalap berkah.
"Yang dilarung hanya inti-intinya saja, seperti tujuh tumpeng dan kepala kambing hitam. Sisanya dipersilakan untuk masyarakat atau peserta yang hadir," tuturnya.
Dalam ritual tersebut, sesaji yang digunakan merupakan perpaduan budaya Bali dan Jawa. Sebagai perempuan kelahiran Bali yang kini menetap di Surabaya, Kanjeng Mami mengaku memang memadukan kedua tradisi tersebut dalam setiap ritualnya.
Saat ditanya alasan memilih Pantai Parangkusumo dibanding kawasan lain di pesisir selatan maupun Bali, ia mengaku memiliki alasan spiritual yang tidak dapat dijelaskan secara rinci kepada publik.
Ia hanya menyebut dirinya merasa "dipanggil" untuk melakukan ritual di kawasan tersebut sejak lama.
Menurut keyakinannya, Parangkusumo memiliki makna khusus sebagai lokasi yang menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang selama ini ia jalani.
Karena itu, ritual labuhan di tempat tersebut rutin ia laksanakan setiap tiga bulan, umumnya bertepatan dengan malam Selasa Kliwon atau malam Jumat Kliwon.
Bersihkan Energi Negatif, Spiritualis Bali Korbankan Kambing Hitam dalam Ritual di Parangkusumo https://t.co/SAZm666tpz
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) July 8, 2026
Khusus pelaksanaan tahun ini, ritual dipilih berlangsung pada 7 Juli karena tetap mempertahankan filosofi angka tujuh yang diyakininya sebagai simbol pitulungan atau pertolongan.
Sehingga seluruh rangkaian prosesi pun mengusung simbol serba tujuh sebagai benang merah pelaksanaan ritual tersebut. //Bang
