TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Bukan Sekadar Tradisi, Ketua FBM Sebut Jamasan Gangsa Wayang Orang Sriwedari Wujud Penghormatan untuk Leluhur

Tokoh masyarakat dan juga pemerhati budaya Kota Solo Dr. BRM Kusumo Putro, SH, MH, menyiramkan air bunga ke tubuh patung Kyai Bagus dalam prosesi jamasan yang digelar di Gedung Wayang Orang Sriwedari

WARTAJOGLO, Solo - Di tengah suasana khidmat Bulan Sura, prosesi sakral Tradisi Jamasan Gangsa Wayang Orang Sriwedari kembali digelar sebagai penghormatan kepada warisan leluhur sekaligus menandai Hari Ulang Tahun ke-116 Wayang Orang Sriwedari, pada Selasa 7 Juli 2026.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, jamasan menjadi momentum spiritual yang menghubungkan sejarah panjang Wayang Orang Sriwedari dengan generasi masa kini. 

Tradisi penyucian benda-benda pusaka itu menjadi simbol penghormatan kepada para pendahulu yang telah mewariskan salah satu ikon kesenian Kota Solo.

Sejak sore hari, halaman Plaza Sriwedari telah dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan rangkaian prosesi. 

Acara dibuka dengan penampilan Tari Beksan Tirto Sapta Aji yang dibawakan dua penari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Dengan gerak tari yang lembut dan penuh makna, keduanya berputar mengitari sebuah meja kecil berisi berbagai sesaji serta tujuh cawan berisi air suci, yang berasal dari tujuh sumber mata air bersejarah di sekitar Solo. 

Ketujuh mata air tersebut diambil dari Sumur Ki Ageng Henis Laweyan, Pura Mangkunegaran, Umbul Pengging, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Pesanggrahan Langenharjo, Petilasan Keraton Pajang, serta Petilasan Keraton Kartasura.

Air suci itu kemudian diserahkan kepada sejumlah tokoh masyarakat untuk dikirab bersama berbagai sesaji. 

Air suci dari tujuh sumber dibawa oleh para tokoh masyarakat Solo dalam kirab 

Di barisan depan, empat sosok Punakawan bertindak sebagai cucuk lampah, memimpin perjalanan kirab yang diiringi alunan gamelan menuju Gedung Wayang Orang Sriwedari yang berjarak sekitar 100 meter.

Tak hanya membawa air suci, rombongan juga mengarak sebuah gunungan hasil bumi setinggi sekitar 2,5 meter sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan harapan keberkahan bagi masyarakat.

Sesampainya di panggung utama Gedung Wayang Orang Sriwedari, tujuh cawan air suci diletakkan di tengah panggung bersama sesaji. Suasana semakin hening ketika para penari internal Wayang Orang Sriwedari membawakan Tari Bedaya Umbul Donga.

Tarian sakral tersebut menjadi bagian penting dalam ritual sebelum doa bersama dipimpin oleh Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan agar kesenian Wayang Orang Sriwedari tetap lestari sepanjang zaman.

Usai ritual, para penari Bedaya Umbul Donga membawa ketujuh cawan air suci satu per satu untuk diserahkan kepada Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani.

Air dari tujuh mata air itu kemudian dipersatukan ke dalam sebuah wadah besar yang telah berisi air bercampur bunga. Penyatuan tersebut melambangkan harmonisasi berbagai sumber kehidupan menjadi satu kekuatan untuk menjaga kelestarian budaya.

Astrid kemudian mendapat kehormatan menyiramkan air bunga tersebut ke Patung Nyai Denok, dilanjutkan ke gong yang menjadi bagian dari Gangsa Kyai Slamet. 

Prosesi serupa diteruskan oleh perwakilan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Sekar Kirono, dan perwakilan Pura Mangkunegaran, RA Ratna Rosilawati Kadarisman, serta para tokoh masyarakat yang salah satunya adalah Ketua Forum Budaya mataram (FBM) Dr. BRM Kusumo Putro, SH, MH.

Selanjutnya dilakukan jamasan terhadap Patung Kyai Bagus yang berada di serambi Gedung Wayang Orang Sriwedari.

Benda-benda yang dijamas bukanlah benda biasa. Gangsa Kyai Slamet merupakan seperangkat gamelan peninggalan Sinuhun Pakubuwana X yang selama lebih dari satu abad menjadi pengiring pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.

Sementara itu, Patung Nyai Denok yang berada di dekat panggung utama serta Patung Kyai Bagus yang menghiasi lobi gedung juga memiliki nilai historis tinggi sebagai bagian dari perjalanan panjang kelompok seni tersebut.

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengatakan, tradisi jamasan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus doa agar Wayang Orang Sriwedari tetap lestari.

"Ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai bentuk penghargaan sekaligus doa untuk kegiatan yang telah berlangsung sejak era Pakubuwana X. Jamasan ini menjadi bagian dari ikhtiar kita mendoakan agar seluruh aktivitas kesenian di Wayang Orang Sriwedari dapat terus lestari," ujarnya.

Menurut Astrid, pelestarian budaya tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Komunitas seni, paguyuban, pelaku budaya hingga masyarakat harus bersama-sama menjaga tradisi yang telah bertahan lebih dari satu abad agar tetap hidup dan dikenal generasi muda.

Kusumo Putro selaku pemerhati budaya Kota Solo menilai prosesi jamasan merupakan tradisi yang sarat makna spiritual dan sejarah.

Menurutnya, kehadiran berbagai komunitas budaya dalam kirab menunjukkan besarnya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian budaya Jawa.

"Ini adalah kegiatan untuk nguri-uri tradisi leluhur kita. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan tetap lestari di Kota Solo sebagai kota seni dan budaya," ungkap Kusumo.

Ia mengatakan, dirinya hadir mewakili Forum Budaya Mataram, Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia, serta Forum Komunitas Sriwedari untuk ikut mangayubagya dalam rangkaian kirab budaya dan jamasan tersebut.

Kusumo juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta yang dinilai konsisten menjaga tradisi tahunan itu.

"Kami mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di kawasan Sriwedari. Harapan kami, ke depan pelaksanaannya bisa semakin besar, semakin meriah, dan Pemerintah Kota Solo semakin memberi perhatian terhadap kegiatan-kegiatan tradisi seperti ini," katanya.

Ia menjelaskan, benda-benda yang dijamas bukanlah sekadar properti pertunjukan, melainkan peninggalan bersejarah yang memiliki nilai budaya tinggi.

"Tadi yang dijamas ada Gangsa Kyai Slamet, lalu Nyai Denok, dan juga Kyai Bagus. Alhamdulillah seluruh prosesi berjalan lancar dari awal hingga akhir. Tradisi jamasan ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur, khususnya peninggalan Sinuhun Pakubuwono X yang telah mewariskan kekayaan budaya kepada masyarakat Solo," jelasnya.

Sebagai penutup rangkaian acara, gunungan hasil bumi yang sejak awal dikirab dibagikan kepada masyarakat. 

Warga tampak antusias berebut hasil bumi yang telah didoakan, meyakini tradisi tersebut sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan akan datangnya keberkahan.

Di tengah derasnya arus modernisasi, prosesi Jamasan Gangsa Wayang Orang Sriwedari kembali menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu. 

Ia adalah denyut kehidupan yang terus dirawat melalui doa, penghormatan kepada leluhur, dan keterlibatan masyarakat, agar nyala seni pertunjukan Wayang Orang Sriwedari tetap menyala, sebagaimana telah berlangsung selama lebih dari satu abad. //Sik

Type above and press Enter to search.