TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Dari Layangan, Mahasiswa KKN UNISRI Dorong Banaran Punya Ikon Ekonomi Kreatif

Mahasiswa KKN UNISRI memperkenalkan wayang sebagai ikon Desa Banaran

WARTAJOGLO, Sragen — Layangan mungkin terlihat sederhana. Namun di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI), permainan tradisional itu justru dipandang punya potensi menjadi lebih dari sekadar hiburan.

Hal tersebut terlihat dalam pameran UMKM yang digelar untuk memeriahkan Puncak Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Kalijambe, Selasa 26 Agustus 2026.

Dalam expo yang berlangsung di Halaman Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen tersebut, Kelompok KKN 25 Desa Banaran membawa layangan tradisional sebagai produk unggulan. 

Bukan tanpa alasan, permainan yang lekat dengan masa kecil masyarakat itu dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari identitas sekaligus ekonomi kreatif desa.

Ketua Kelompok KKN 25 Desa Banaran, Diego, mengatakan layangan dipilih karena relatif mudah dibuat masyarakat. 

Di sisi lain, permainan tradisional tersebut juga mengandung nilai edukasi dan budaya.

“Layangan merupakan kearifan lokal yang mudah dibuat oleh warga, memiliki nilai edukasi dan budaya, serta bisa menjadi ikon Desa Banaran untuk menarik wisatawan dan meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat,” ujarnya.

Gagasan tersebut kemudian diperkenalkan melalui stand expo yang diikuti 18 UMKM se-Kecamatan Kalijambe.

Tidak sekadar memajang produk, mahasiswa KKN UNISRI juga mengajak anak-anak yang datang untuk mengenal proses pembuatan layangan sederhana. 

Suasana stand pun menjadi lebih hidup ketika anak-anak mencoba belajar membuat sendiri permainan tradisional tersebut.

Di tengah gempuran permainan digital, upaya tersebut menjadi cara sederhana untuk kembali mengenalkan permainan tradisional kepada generasi muda.

Apalagi, layangan tidak hanya menawarkan sisi permainan. Jika dikembangkan secara kreatif, produk tersebut dapat dikemas menjadi cendera mata, media edukasi, maupun produk ekonomi kreatif yang memiliki ciri khas lokal.

Gagasan mahasiswa itu mendapat apresiasi dari pemerintah Kecamatan Kalijambe.

Ketua Korcam Kecamatan Kalijambe, Eva Mustika, mengatakan expo UMKM menjadi bagian penting dalam mendorong pelaku usaha lokal agar berkembang dan mampu naik kelas.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku UMKM memperluas jaringan pemasaran sekaligus menumbuhkan kemandirian ekonomi masyarakat.

“Harapannya kegiatan seperti ini bisa rutin dilaksanakan agar UMKM Kalijambe semakin dikenal luas dan menjadi motor penggerak ekonomi desa,” katanya.

Bagi mahasiswa KKN UNISRI, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses belajar di tengah masyarakat.

Tim KKN yang terdiri dari Moenawar Kholil, S.Kom., M.Kom., Rina Wulandari, S.E., M.M., Yona Ervina, S.I.Kom., dan Aulia Wandera Putra, S.Pd., turut melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan.

Moenawar Kholil mengatakan, keterlibatan mahasiswa dalam expo UMKM merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Melalui expo ini mahasiswa belajar langsung mendampingi UMKM, membantu branding, promosi, dan digitalisasi produk. Kami berharap kehadiran mahasiswa bisa memberikan dampak nyata dalam meningkatkan omzet dan daya saing produk desa,” jelasnya.

Di sinilah peran KKN tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Di mana mahasiswa didorong untuk melihat potensi yang ada di desa, kemudian membantu mengemasnya agar memiliki nilai tambah. 

Layangan yang sebelumnya identik dengan permainan anak-anak pun coba ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas: sebagai bagian dari kearifan lokal yang bisa dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.

Sepanjang pameran, stand KKN UNISRI Desa Banaran pun cukup ramai dikunjungi warga maupun pejabat. 

Beragam bentuk layangan dipamerkan, sementara aktivitas edukasi pembuatannya menjadi daya tarik tersendiri.

Dari sebuah layangan, muncul gagasan yang lebih besar tentang bagaimana desa bisa mengembangkan potensi yang sebenarnya sudah dimiliki.

Sebab, membangun ekonomi kreatif tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang rumit. Kadang, potensi itu justru berada pada hal-hal sederhana yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat.

Semangat itulah yang ingin terus dibangun KKN UNISRI bersama masyarakat Desa Banaran. 

Kolaborasi antara mahasiswa, UMKM, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai.

Harapannya, dari potensi lokal yang sederhana dapat lahir produk yang memiliki identitas, dikenal lebih luas, sekaligus mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Dan kali ini, layangan menjadi salah satu titik awalnya. //Sik

Type above and press Enter to search.