![]() |
| Permaisuri mendiang Mangkunagoro IX menerima barang-barang seserahan dari pihak mempelai laki-laki |
WARTAJOGLO, Solo – Malam menjelang pernikahan bukan sekadar waktu untuk beristirahat sebelum prosesi akad nikah dilangsungkan.
Dalam tradisi Jawa, malam tersebut memiliki makna mendalam sebagai momentum bagi calon pengantin untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Tradisi yang dikenal dengan sebutan Midodareni itu menjadi salah satu rangkaian penting dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran, yang dijalani G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura, menjelang Dhaup Suci.
Dalam kepercayaan Jawa, malam Midodareni diyakini sebagai waktu turunnya para bidadari dari kayangan untuk memberikan berkah dan kesempurnaan kepada calon pengantin putri.
Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, K.P.H. Tjuk Susilo, M.P.A., menjelaskan, Midodareni dilaksanakan setelah prosesi Siraman dan menjadi bagian dari persiapan terakhir sebelum hari pernikahan.
“Malam Midodareni ini, menurut sejarah dan tradisinya, dipercaya sebagai malam ketika para bidadari turun dari kayangan untuk menghampiri calon pengantin putri. Kehadiran mereka memberikan penguatan serta memperdalam kesiapan lahir dan batin calon pengantin,” jelasnya.
Selain mengandung makna spiritual, Midodareni juga menjadi momentum penyempurnaan berbagai perlengkapan pengantin, mulai dari perabot hingga ageman atau busana yang akan dikenakan pada hari pernikahan.
Pada malam tersebut, calon mempelai putri menghabiskan waktu di Pracimayasa, kawasan Keputren, dan tidak diperkenankan keluar hingga malam berlalu.
Waktu itu dimanfaatkan untuk berdoa, menyendiri, serta memusatkan pikiran agar benar-benar siap menghadapi kehidupan baru.
“Harapannya, calon pengantin yang besok pagi akan menikah sudah benar-benar siap. Malam Midodareni ini juga menjadi waktu bagi calon pengantin untuk berdoa dan menyendiri, memusatkan pikiran serta mempersiapkan diri untuk hari esok,” terang Kanjeng Tjuk.
Sementara Gusti Sura menjalani malam Midodareni di kawasan Keputren, calon mempelai pria bersama keluarga calon mempelai putri mengikuti rangkaian prosesi di Pendapa Ageng.
Rangkaian acara diawali dengan kedatangan rombongan calon mempelai pria dari Ndalem Prangwedanan sekitar pukul 19.00 WIB. Rombongan tiba di Bangsal Tosan untuk mengikuti tata cara Pasrah Tinampi dan penyerahan seserahan yang diterima oleh GKP Mangkoenagoro IX.
Prosesi kemudian berlanjut dengan Tumuruning Kembar Mayang. Kembar mayang beserta seluruh kelengkapannya dibawa dari Bangsal Tosan menuju Ndalem Ageng.
Dalam tradisi Jawa, kembar mayang bukan sekadar rangkaian hiasan dari janur dan dedaunan.
Kehadirannya mengandung doa dan harapan agar Tuhan memberikan restu, keselamatan, serta perlindungan bagi kedua mempelai dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.
Khusus dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran ini, terdapat empat pasang kembar mayang yang ditempatkan di empat lokasi berbeda, yakni Ndalem Ageng, Pelaminan, Kamar Pusaka, dan Prangwedanan.
Setelah prosesi tersebut, keluarga besan mendapatkan sambutan selamat datang yang disampaikan oleh K.P.H. Tjuk Susilo.
Suasana kemudian semakin semarak dengan sajian Tari Srimpi Sura Asmara. Tarian karya maestro tari R.Ng. Rusini tersebut dipentaskan selama kurang lebih 20 menit, menjadi salah satu persembahan seni yang memperkaya rangkaian adat malam itu.
Rangkaian Midodareni dilanjutkan dengan tata cara pemberian Kancing Gelung kepada calon mempelai pria oleh GKP Mangkoenagoro IX.
Menanti Datangnya Bidadari di Malam Midodareni https://t.co/EdiwNG3fOa
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) November 6, 2026
Setelah prosesi tersebut rampung, rombongan calon mempelai pria kembali menuju Ndalem Prangwedanan.
Berbagai tata cara yang dijalankan dalam Midodareni memperlihatkan bahwa pernikahan dalam tradisi Jawa bukan semata-mata penyatuan dua insan, melainkan juga peristiwa yang melibatkan doa, restu keluarga, serta penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur. //Her
