TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Restu Keluarga Warnai Langkahan hingga Siraman Gusti Sura Jelang Dhaup Ageng Mangkunegaran

Pengageng Pura Mangkunegaran K.G.P.A.A Mangkunagoro X mengikuti rangkaian tradisi dodol dawet sebagai rangkaian jelang dhaup ageng

WARTAJOGLO, Surakarta – Restu keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura menuju kehidupan rumah tangga. Hal itu tergambar dalam rangkaian prosesi adat yang dijalaninya di Pura Mangkunegaran, Kamis 5 November 2026.

Menjelang pernikahannya dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas, Gusti Sura menjalani tiga prosesi sekaligus, yakni Langkahan, Siraman, dan Dodol Dawet. Ketiganya bukan sekadar rangkaian tata cara adat, tetapi juga sarat makna tentang penghormatan, doa, dan restu keluarga.

Rangkaian tersebut melanjutkan prosesi Sungkeman dan Sengkeran yang telah dijalani Gusti Sura sejak 3 November lalu.

Prosesi Kamis pagi diawali dengan Langkahan di nDalem Ageng Pura Mangkunegaran. Upacara ini dilakukan karena Gusti Sura akan menikah mendahului kakaknya, G.P.H. Paundrakarna Jiwa Suryanegara.

Melalui prosesi tersebut, Gusti Sura memohon izin sekaligus restu kepada sang kakak sebelum memasuki kehidupan pernikahan.

Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, menjelaskan bahwa Langkahan merupakan simbol penghormatan dalam hubungan antara adik dan kakak.

“Langkahan menjadi simbol permohonan izin Gusti Sura kepada kakaknya yang belum menikah. Restu tersebut mengiringi perjalanan kedua temanten dalam memasuki kehidupan rumah tangga,” ujar Ayu.

Gusti Sura bersama G.P.H Paundrakarna sang kakak usai tradisi Langkahan

Setelah Langkahan, rangkaian dilanjutkan dengan Siraman. Sebelum menjalani prosesi ini, Gusti Sura terlebih dahulu melakukan sungkeman kepada para sesepuh keluarga.

Kehadiran para sesepuh menjadi bagian penting dalam prosesi tersebut. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada generasi yang lebih tua, Siraman juga menjadi momentum untuk menerima doa dan pangestu sebelum calon temanten putri memasuki kehidupan baru.

Menariknya, pada hari yang sama Kanjeng Dimas juga menjalani prosesi Siraman di kediamannya. Dengan demikian, kedua calon temanten menjalani persiapan secara terpisah bersama keluarga masing-masing.

Usai Siraman, rangkaian adat dilanjutkan dengan Dodol Dawet. Prosesi ini menyimpan makna tentang kesiapan orang tua untuk melepas putrinya menuju kehidupan rumah tangga.

“Dodol Dawet membawa makna bahwa orang tua Gusti Sura siap mengantarkan putrinya menuju kehidupan rumah tangga, dengan doa dan restu keluarga yang menyertainya,” kata Ayu.

Sebelum memasuki masa Sengkeran, Gusti Sura juga telah menjalani Sungkeman kepada ibundanya, G.K.P. Mangkoenagoro IX.

Jika dicermati, rangkaian prosesi tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan menuju Dhaup Ageng bukan semata-mata persiapan sebuah pernikahan. 

Ada nilai penghormatan kepada orang tua, permohonan izin kepada kakak, serta penerimaan doa dari para sesepuh yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi keluarga Mangkunegaran.

Rangkaian persiapan pada Kamis 5 November 2026 dijadwalkan berlanjut pada malam hari melalui prosesi Midodareni. 

Tahapan ini menjadi salah satu persiapan terakhir Gusti Sura sebelum melangsungkan pernikahan dengan Kanjeng Dimas pada Jumat 6 November 2026.

Di balik kemegahan tradisi Dhaup Ageng, restu keluarga menjadi bekal utama yang mengiringi langkah kedua calon temanten dalam memulai babak baru kehidupan mereka. //Sik

Type above and press Enter to search.