TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Majukan Budaya Perkerisan, Menbud Fadli Zon Gagas Sertifikasi hingga Internasionalisasi

Proses pembuatan keris di Padepokan Brojo Buwono Karanganyar

WARTAJOGLO, Jakarta - Di tengah derasnya arus modernisasi, menjaga napas budaya keris tidak cukup hanya dengan mengenang. 

Dibutuhkan strategi, dukungan, dan kolaborasi agar warisan ini tetap hidup dan relevan bagi generasi kini dan mendatang.

Itulah pesan yang ditegaskan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yang juga Ketua Umum Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI), dalam Rakernas ke-2 SNKI di Jakarta, Sabtu 9 Agustus 2025.

“Evaluasi ini penting dilakukan untuk melihat sejauh mana hasil, dampak, kelebihan, dan kelemahan dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Dari situ, kita bisa merancang langkah berikutnya,” ungkapnya.

Sejak berdiri pada 2006, SNKI telah menjangkau lebih dari 200 paguyuban. 

Awalnya terpusat di Jawa, Madura, Bali, dan Lombok, kini keanggotaannya membentang ke Sumatra Barat, Sumatra Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan akan segera bertambah ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Bagi Fadli, perkembangan ini menandakan bahwa budaya keris tidak hanya milik segelintir daerah, tetapi telah menjadi warisan bersama bangsa. 

Namun, pertumbuhan ini juga memerlukan perencanaan strategis agar tidak sekadar meluas, tetapi juga kokoh.

Pemerintah membuka ruang dukungan melalui Dana Indonesiana untuk mendanai kegiatan perkerisan, serta memberikan fasilitas peralatan tempa, yang pada 2025 ini akan diserahkan ke Sanggar Suwarna Lingga (Bali) dan Sanggar Pijar (Bandung).

Fadli juga memandang dunia internasional sebagai panggung penting. 

Ia mengusulkan penyelenggaraan International Keris Summit, International Keris Expo, hingga International Contemporary Keris Festival. 

Bagi Fadli, forum semacam itu bukan hanya ajang pameran, melainkan jembatan diplomasi budaya yang bisa memperkuat identitas Indonesia di mata dunia.

Warisan budaya tak akan hidup tanpa penerus yang terampil. Karena itu, SNKI bekerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk menghadirkan sertifikasi kompetensi di bidang perkerisan. 

Sertifikasi ini menjadi pengakuan profesionalisme, baik di dalam maupun luar negeri.

Dalam Rakernas ini, 14 tokoh, yang di dalamnya termasuk Fadli Zon, menerima Sertifikat Kompetensi Kurator Keris. 

Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari empu, kolektor, hingga akademisi. 

Ada nama-nama seperti Andi Thaswin (Bugis Makassar), Agus Triatmojo (Keraton Surakarta Hadiningrat), Helmy (Museum Helmi Art Sumenep), Basuki Teguh Yuwono (Besalen Brojobuwono), Harjo Herlambang (Besalen Condro Aji), Gus Bayu Pamungkas (Besalen Brojo Wijoyo Madiun) hingga Bening Tri Suwasono (Kaprodi Keris ISI Surakarta).

Di mata Fadli, memajukan budaya keris adalah merawat jati diri bangsa. Keris adalah kisah tentang keberanian, kebijaksanaan, dan keindahan. Ia adalah karya seni yang memadukan filsafat, teknologi, dan spiritualitas.

“Kegiatan-kegiatan ini diharapkan membawa dampak besar dalam membangun ekosistem budaya keris yang kuat dan berkelanjutan, serta melibatkan partisipasi masyarakat seluas mungkin,” tuturnya.

Dan seperti estafet sejarah, tongkat pelestarian ini kini ada di tangan generasi penerus. Dari bengkel tempa di desa-desa hingga forum budaya di mancanegara, keris diharapkan terus menjadi kebanggaan yang menyatukan Indonesia dan memperkenalkannya ke dunia. //Lis

Type above and press Enter to search.