![]() |
| Personil Handarbeni saat menggelar preskon di Lokananta |
WARTAJOGLO, Solo - Grup musik asal Solo, Handarbeni, bersiap menandai babak baru dalam perjalanan kreatif mereka melalui peluncuran album perdana yang dikemas dalam sebuah konser intim bertajuk "Simpang Singgah Special Showcase".
Acara ini akan digelar pada 4 April 2026 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, dengan menghadirkan perpaduan musik, narasi, dan pengalaman emosional yang dekat dengan pendengar.
“Simpang Singgah” bukan sekadar judul album, melainkan sebuah metafora tentang pertemuan berbagai perjalanan hidup dalam satu titik persimpangan.
Di dalamnya, Handarbeni merangkai kisah tentang relasi manusia, kenangan masa lalu, keresahan sosial, harapan, hingga keberanian melangkah ke depan.
Konsep ini diperkuat dengan simbol empat arah mata angin yang merepresentasikan refleksi, kebangkitan, ketenangan, dan kehangatan kebersamaan.
Nilai-nilai tersebut menjadi benang merah yang tidak hanya hadir dalam album, tetapi juga dalam atmosfer konser yang dirancang intim dan penuh perasaan.
Dalam Simpang Singgah Special Showcase, Handarbeni akan membawakan tujuh lagu dari album mereka: Aku Kamu Kita, Aku dan Lalu, Kasak Kusuk, Terang Hati, Merindu, Terasa Indah, dan Resolusi.
Lagu-lagu ini tidak berdiri sendiri, melainkan disusun sebagai satu alur narasi yang utuh.
Penonton diajak untuk “singgah” sejenak—merasakan, merenungkan, dan menemukan makna dalam setiap perjumpaan yang dihadirkan melalui musik.
Handarbeni lahir dari perjalanan panjang yang tidak instan. Awalnya merupakan duo sederhana yang dibentuk oleh sang vokalis, Wirastuti Susilaningtyas, bersama pasangan hidupnya.
Berangkat dari format minimalis gitar dan vokal, mereka merasa perlu memperkaya aransemen, hingga akhirnya bertransformasi menjadi band utuh.
Kini, Handarbeni diperkuat oleh Yulianto Dwi, Sigit Pratomo, Mahawang, dan Reza Zulfikar.
Keunikan mereka terletak pada latar belakang yang beragam, mulai dari penari, aktor teater, komposer musik tari, hingga praktisi desain dan sound engineering yang berpadu menciptakan karya dengan nuansa sinematik dan kaya rasa.
Salah satu titik balik penting dalam perjalanan mereka adalah keputusan untuk berhenti menjadi band peng-cover.
Setelah bertahun-tahun berada di ranah Top 40, rasa jenuh mendorong mereka untuk mulai menciptakan karya orisinal.
“Kita sudah di fase capek di cover. Jadi kita langsung saja bikin lagu,” ungkap Sigit Pratomo dalam konferensi pers di Lokananta pada Jumat 27 Maret 2026.
Inspirasi mereka pun datang dari berbagai sumber—mulai dari film, sinetron, hingga realitas sosial.
Lagu Kasak-Kusuk, misalnya, lahir dari keresahan terhadap fenomena sosial tentang orang-orang yang menjatuhkan orang lain demi terlihat lebih baik.
Perjalanan menuju album ini telah dimulai sejak proyek awal bertajuk Merajut Mimpi pada 2020.
Meski sempat tertunda karena kesibukan masing-masing personel, semangat komunitas dan dukungan penggemar di Solo membuat mereka terus melangkah.
“Simpang Singgah Special Showcase”, Langkah Awal Handarbeni untuk Perjalanan yang Lebih Panjang https://t.co/emhiPT7vOU
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) March 27, 2026
Bagi Handarbeni, Simpang Singgah adalah “terminal awal” atau sebuah pemberhentian sementara yang menjadi titik berangkat untuk perjalanan yang lebih panjang.
“Ini adalah pemberhentian awal. Jadi seperti terminal awal dari perjalanan kami untuk mengeluarkan lagu-lagu berdasarkan perjalanan sebelumnya,” tandas Sigit.
