![]() |
| Kepala Kantor Perwakilan BI Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat memaparkan perkembangan ekonomi di Kota Solo dalam acara WEDANGAN |
WARTAJOGLO, Solo - Di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital di Solo Raya, sejumlah tempat kuliner legendaris ternyata masih belum menerima pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Fenomena ini menjadi sorotan karena gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda, kini semakin lekat dengan transaksi non tunai.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kota Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, dalam acara Wadah Media Ngobrol Santai (WEDANGAN) pada Kamis 21 Mei 2026, di sebuah rumah makan di kawasan manahan, Kota Solo.
Dwiyanto mengungkapkan masih ada beberapa tempat makan favorit masyarakat Solo Raya yang belum mau menggunakan QRIS sebagai opsi pembayaran.
Beberapa di antaranya bahkan sudah dikenal sebagai kuliner legendaris, seperti Sate Pak Dahlan, Orion, hingga Bebek Slamet Kartasura.
Menurut Dwianto, kondisi tersebut cukup disayangkan karena perilaku konsumen saat ini sudah berubah. Generasi Y dan generasi Z kini menjadi kelompok dominan dalam aktivitas ekonomi dan cenderung lebih sering membawa ponsel dibanding uang tunai.
“Sekarang yang memimpin pelaku ekonomi semakin banyak Gen Y dan Gen Z. Mereka uangnya ada di HP, enggak ada di dompet,” katanya di hadapan awak media.
Bank Indonesia menilai pedagang yang belum menyediakan opsi pembayaran QRIS berpotensi kehilangan konsumen.
Sebab, banyak masyarakat kini mengutamakan kemudahan dan kepraktisan saat bertransaksi.
Dwiyanto menyebut, tidak sedikit calon pembeli yang akhirnya membatalkan transaksi ketika mengetahui sebuah tempat makan tidak menerima pembayaran digital.
“Harusnya ada rezeki masuk, tapi karena mereka enggak pakai QRIS akhirnya malah enggak jadi,” ungkapnya.
Meski demikian, BI memahami bahwa sebagian pelaku usaha kuliner legendaris masih memiliki pola pengelolaan usaha yang tradisional.
Ada yang belum percaya dengan transaksi non tunai, ada pula yang menganggap penggunaan QRIS terasa rumit.
“Ada juga yang memang merasa ribet, sehingga ketika sudah dipasang QRIS, kemudian enggak dipakai lagi,” jelasnya.
Karena itu, edukasi dinilai tetap penting agar para pelaku usaha memahami perubahan perilaku konsumen di masa depan.
Menurut Dwiyanto, pola transaksi masyarakat akan terus bergerak menuju sistem pembayaran yang lebih praktis dan cepat.
Di sisi lain, penggunaan QRIS di Solo Raya sebenarnya terus mengalami pertumbuhan signifikan.
Hingga Maret 2026, nilai transaksi QRIS di Solo Raya tercatat mencapai Rp5,3 triliun dengan volume transaksi mencapai 54.542.340 kali transaksi.
Sementara itu, jumlah merchant atau pedagang yang telah menggunakan QRIS di Solo Raya kini mencapai 1.109.871 merchant.
Angka tersebut menunjukkan bahwa transaksi non tunai semakin diterima luas oleh masyarakat.
Namun demikian, Dwiyanto mengungkapkan masih terdapat ketimpangan penggunaan QRIS di wilayah Solo Raya.
Sekitar 41,3 persen transaksi QRIS masih terkonsentrasi di Kota Surakarta sehingga dominasi penggunaan pembayaran digital masih belum merata di daerah penyangga lainnya.
“Sebagian besar transaksi adanya di Surakarta, sekitar 41,3 persen, itu dominan sekali,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia juga menegaskan bahwa QRIS bukanlah pengganti uang tunai maupun kartu pembayaran lainnya.
QRIS hadir sebagai alternatif tambahan agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam bertransaksi.
“QRIS itu bukan menghilangkan semua alat pembayaran yang sudah ada. Tidak menghilangkan kartu debit, kartu kredit, ataupun tunai, tapi ini pilihan,” kata Dwiyanto.
Menurutnya, semakin mudah masyarakat melakukan transaksi, maka perputaran ekonomi juga berpotensi berlangsung lebih cepat.
Hal itu karena konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau masyarakat dimudahkan konsumsinya, gampang, tidak ribet, mudah-mudahan ekonomi lebih cepat berputar lagi,” katanya.
Karena itu, BI lebih mengedepankan edukasi dibanding pemaksaan kepada para merchant.
Kuliner Legendaris Solo Masih Enggan Pakai QRIS, Begini Respon Bank Indonesia https://t.co/xAZHgSFcMr
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) May 21, 2026
Terkait hal itu, tahun ini BI menggelar program “QRIS Jelajah Indonesia” bertema Kuliner Nusantara, yang salah satunya menyasar tempat-tempat makan populer yang belum menggunakan QRIS.
Harapannya, semakin banyak pelaku usaha kuliner legendaris di Solo Raya mulai membuka diri terhadap transaksi digital, agar tetap relevan dengan perubahan perilaku konsumen modern yang menginginkan pembayaran cepat, praktis, dan fleksibel. //Sik
