![]() |
| Salah satu peserta Kirab Bhinneka Gandekan melintas di depan panggung kehormatan |
WARTAJOGLO, Solo - Pentas tari Manunggaling Reka Wastra dibawakan dengan gemulai oleh para penari di depan panggung kehormatan, tempat Wali Kota Surakarta Respati Ardi duduk bersama jajaran tamu undangan.
Pertunjukan ini menjadi pembuka yang memukau sekaligus mewarnai gelaran Kirab Bhinneka Gandekan 2026 di Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Minggu (1/6).
Atraksi budaya yang sarat makna itu seolah menjadi penanda dimulainya perhelatan tahunan Kirab Bhinneka, yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-11.
Gerak para penari yang harmonis, balutan busana tradisional yang kaya filosofi, serta iringan musik yang menggema menambah semarak suasana, sekaligus menghidupkan spirit kebudayaan yang menjadi ruh utama Kirab Bhinneka Gandekan.
Kirab Bhinneka Gandekan sendiri pertama kali digelar pada 2014 dan sejak saat itu rutin diselenggarakan setiap 1 Juni bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila.
Agenda budaya ini telah menjelma menjadi salah satu ikon pelestarian budaya masyarakat sekaligus daya tarik wisata berbasis kearifan lokal di wilayah Gandekan.
Tahun ini, kirab mengusung tema “Kuncaraning Budaya, Jumbuh Ing Rasa, Nyawiji Ing Karsa”, yang mengandung makna tentang kejayaan budaya yang bertumbuh seiring rasa persaudaraan dan kesatuan tekad untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Sebanyak sembilan kelompok dari sembilan Rukun Warga (RW) ambil bagian dalam kirab dengan menampilkan beragam potensi khas masing-masing wilayah. Berbagai kreasi budaya, kostum tematik, hingga atraksi seni tradisi tersaji memikat perhatian masyarakat yang memadati sepanjang jalur kirab.
Lurah Gandekan, Sugeng Sarwono, mengatakan Kirab Bhinneka Gandekan merupakan ruang ekspresi inklusif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi wadah untuk merawat nilai toleransi, gotong royong, dan kebersamaan. Selain itu, kirab ini juga kami rancang agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” ujarnya.
Menurut Sugeng, dampak ekonomi dari gelaran ini terasa melalui hadirnya pasar rakyat dan stan kuliner tradisional yang memberi ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk berkembang.
“Kirab ini menghadirkan pasar rakyat dan stan kuliner tradisional. Ini adalah peluang bagi pelaku UMKM lokal untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan mereka,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan Kirab Bhinneka Gandekan 2026 sejatinya telah dimulai sejak pertengahan Mei melalui Festival Bandar Penjalan dan Pagelaran Seni Kampung di tepian Kali Pepe pada 16-25 Mei 2026.
Menjelang puncak acara, warga juga menggelar ritual Umbul Mantram pada Sabtu (31/5) malam di Pertigaan Danusaputran sebagai wujud doa syukur.
![]() |
| BRM Dr. Kusumo Putro, SH, MH selaku Ketua Forum Budaya Mataram |
Pegiat budaya Kota Solo sekaligus warga Gandekan, BRM Dr. Kusumo Putro, SH, MH, mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan kirab ini.
“Tentu saya sangat bangga menjadi bagian dari kampung Gandekan yang kaya akan potensi ekonomi dan budaya. Saya melihat kegiatan ini menjadi sarana penting untuk menampilkan berbagai potensi yang dimiliki wilayah Gandekan,” ujarnya.
Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM) itu menilai kegiatan ini mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya leluhur, sekaligus mendorong kreativitas warga dalam mengembangkan ekspresi budaya yang relevan dengan perkembangan zaman.
"Ini kegiatan yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan wawasan budaya khususnya kearifan lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda, yang saat ini banyak yang tidak lagi peduli," lanjutnya.
Apresiasi Kirab Bhinneka Gandekan, Ketua FBM: Angkat Potensi Budaya Lokal https://t.co/fN4Ct9Pk5H
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) June 1, 2026
Ketua DPP SBI (Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia) ini berharap Kirab Bhinneka Gandekan dapat terus digelar secara berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mengangkat kekayaan budayanya masing-masing.
"Tentunya saya berharap kegiatan ini bisa terus dipertahankan dan juga dilaksanakan oleh wilayah-wilayah lain di Kota Solo, yang selama ini memiliki potensi budaya besar," tandasnya. //Kls

