![]() |
| Puspo Wardoyo (tiga dari kiri) saat berada di Arab Saudi |
WARTAJOGLO, Solo - Di tengah padatnya rangkaian ibadah haji dan tantangan distribusi konsumsi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), kehadiran makanan siap saji atau Meal Ready to Eat (MRE) asal Indonesia justru menjadi penyelamat sekaligus pengobat rindu kampung halaman bagi ribuan jemaah haji.
Tak sedikit jemaah yang mengaku terkejut dengan cita rasa makanan yang disajikan. Alih-alih sekadar praktis, menu-menu tersebut dinilai memiliki rasa yang lebih dekat dengan lidah Indonesia dibanding makanan segar yang selama ini disediakan oleh katering lokal di Arab Saudi.
Salah satu testimoni datang dari jemaah haji yang membagikan pengalamannya melalui akun TikTok @quinakuembunku. Saat menikmati menu semur ayam produksi PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HaTI), ia mengaku merasakan cita rasa yang begitu familiar.
"Ini ada nasi uduk, ayamnya irisannya besar-besar seperti ini, terus di sini juga ada kentang. Kita cobain, kentangnya lembut sekali dan rasanya autentik, benar-benar sesuai dengan lidah orang Indonesia," ungkapnya dalam video yang diunggah.
Respons serupa juga disampaikan akun TikTok @kang.susanto saat mencicipi menu rendang daging. Ia bahkan menunjukkan porsi lauk yang dianggap melimpah.
"Ini jumlah lauknya segini banyak, sama seperti jumlah nasinya," ujarnya.
Owner PT HaTI, Puspo Wardoyo, mengatakan berbagai tanggapan yang diterima dari para jemaah menunjukkan bahwa makanan siap saji produksi Indonesia mampu menghadirkan rasa yang lebih akrab bagi masyarakat Indonesia.
"Komentar yang kami terima, makanan ini lebih enak daripada makanan fresh. Bumbunya lebih terasa dan rasanya lebih Indonesia," kata Puspo, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, penggunaan makanan siap saji selama musim haji bukan sekadar alternatif, melainkan bagian dari solusi atas tantangan besar distribusi konsumsi saat puncak ibadah haji berlangsung.
Ketika jutaan jemaah bergerak menuju Armuzna, sebagian besar dapur katering juga harus berpindah lokasi. Kondisi tersebut membuat distribusi makanan segar menjadi jauh lebih rumit.
Pada 7 Zulhijah, jemaah mendapatkan tiga kali makan menggunakan menu MRE untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Sementara pada 8 Zulhijah, makanan siap saji kembali diberikan sebagai sarapan sebelum jemaah bergerak menuju Mina dan Arafah.
Selama berada di Armuzna, pola konsumsi dilakukan secara hybrid. Dari total 15 kali makan yang diterima jemaah, tiga kali berupa paket MRE lengkap berisi nasi dan lauk, enam kali menggunakan lauk RTE dengan nasi segar, dan enam kali lainnya berupa makanan segar yang disiapkan katering.
Menariknya, respons positif dari para jemaah memunculkan harapan agar menu siap saji khas Indonesia tidak hanya hadir saat fase Armuzna.
"Dengan adanya MRE ini mereka senang karena ada variasi. Harapannya mungkin tidak hanya di Armuzna, tetapi ke depan juga bisa diberikan di Madinah maupun Makkah," ujar Puspo.
Beragam menu khas Nusantara turut disajikan, mulai dari semur ayam, semur daging, rendang ayam, rendang daging, balado ikan, gulai ikan hingga empal serundeng. Ragam pilihan tersebut memberikan variasi rasa yang berbeda dibanding menu yang biasa diterima jemaah selama berada di Tanah Suci.
Selain menghadirkan cita rasa Indonesia, makanan siap saji juga dinilai mampu menjawab persoalan distribusi konsumsi yang selama ini menjadi tantangan utama penyelenggaraan ibadah haji.
Suhu udara yang dapat mencapai 50 derajat Celsius, kepadatan jutaan jemaah, hingga terbatasnya akses distribusi kerap menyebabkan keterlambatan bahkan kerusakan makanan.
"Kondisi saat itu memang cukup sulit. Karena staf dan karyawan dapur juga bergerak ke Armuzna dan akses distribusi terbatas, maka pemerintah mengarahkan penggunaan makanan MRE," jelasnya.
Menurut Puspo, kehadiran makanan siap saji juga membantu operasional dapur katering yang harus bekerja dalam kondisi cuaca ekstrem dan fasilitas yang terbatas.
Bahkan, Pemerintah Arab Saudi mulai melirik konsep makanan siap saji sebagai salah satu solusi pelayanan konsumsi haji di masa mendatang karena lebih praktis, higienis, dan mudah didistribusikan.
Di balik keberhasilan distribusi tersebut, terdapat peran PT HaTI, anak usaha Wong Solo Group yang berbasis di Solo.
Perusahaan ini menjadi salah satu pelopor penyedia makanan siap saji untuk jemaah haji Indonesia.
Selama empat tahun terakhir, perusahaan tersebut telah mengirimkan lebih dari 5,3 juta produk makanan siap saji untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia. Pada musim haji 2026 saja, PT HaTI mendistribusikan 2.042.441 produk, terdiri atas 1.041.452 lauk siap saji dan 1.000.989 paket nasi lengkap dengan lauk.
Tak hanya itu, untuk pertama kalinya perusahaan juga mengirimkan 150 ton bumbu pasta siap masak ke Arab Saudi.
Produksi jutaan makanan tersebut melibatkan bahan baku dari dalam negeri, di antaranya 132 ton daging, ayam dan ikan, lebih dari 2,4 juta butir telur ayam, serta 52 ton rempah-rempah. Seluruh proses produksi dikerjakan oleh lebih dari 500 tenaga kerja.
Bagi Puspo, penggunaan produk pangan dalam negeri untuk kebutuhan haji bukan hanya soal pelayanan, tetapi juga bagian dari penguatan ekosistem ekonomi nasional.
"Makanan adalah kebutuhan primer. Kalau makanan sehat, bergizi dan berkualitas, jamaah bisa menjalankan ibadah dengan baik. Sebaliknya, kalau tidak diperhatikan, risiko sakit juga meningkat," katanya.
Seluruh produk yang diproduksi PT HaTI telah mengantongi sertifikasi halal dan standar keamanan pangan ISO 22000. Dengan teknologi sterilisasi suhu dan tekanan tinggi, makanan mampu bertahan hingga 18 bulan tanpa memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin.
Disukai Jemaah Haji, Makanan Siap Saji Asal Solo Jadi Andalan Saat Puncak Ibadah di Armuzna https://t.co/LSYc5rQPw1
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) June 2, 2026
Melihat respons positif para jemaah dan efektivitas distribusinya, makanan siap saji berbasis teknologi kini mulai dipandang sebagai salah satu masa depan layanan konsumsi haji Indonesia.
Bukan sekadar praktis, tetapi juga menghadirkan rasa rumahan di tengah perjalanan spiritual jutaan umat Muslim di Tanah Suci. //Kls
