![]() |
| UMS menjalin kerja sama dengan Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta |
WARTAJOGLO, Solo – Upaya menjaga kelestarian hutan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
Keterlibatan perguruan tinggi dinilai menjadi salah satu kunci penting agar pengelolaan hutan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengorbankan fungsi ekologisnya.
Kesadaran itulah yang mendorong Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjalin kerja sama dengan Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat pendampingan masyarakat pengelola hutan sekaligus mendukung pelestarian kawasan hutan secara berkelanjutan.
Kepala Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta, Wahyudi Ardhianto, menegaskan bahwa tujuan utama program Perhutanan Sosial bukan semata meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga mengembalikan dan menjaga fungsi hutan.
Menurutnya, masyarakat yang telah memperoleh izin legal untuk mengelola kawasan hutan harus dibekali kemampuan agar dapat memanfaatkan potensi hutan secara bijak dan berkelanjutan.
“Tujuannya memang untuk kesejahteraan masyarakat, tetapi kami juga fokus mengembalikan fungsi hutan. Jangan sampai hanya orientasi ekonominya yang berkembang, sementara hutannya justru dilupakan,” tegas Wahyudi.
Ia menjelaskan, Balai Perhutanan Sosial memberikan akses legal kepada kelompok masyarakat untuk mengelola kawasan hutan melalui berbagai skema Perhutanan Sosial.
Setelah izin diberikan, berbagai pihak termasuk perguruan tinggi dapat berperan dalam memberikan pendampingan.
“Setelah masyarakat mendapatkan akses legal untuk mengelola hutan, berbagai pihak dapat masuk untuk melakukan pendampingan. Dari perguruan tinggi, misalnya, bisa membantu kelompok-kelompok yang sudah mendapatkan izin tersebut sehingga tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai,” ujarnya.
Di wilayah Jawa Tengah sendiri, saat ini terdapat sekitar 147 izin Perhutanan Sosial yang telah diberikan kepada kelompok masyarakat.
Pemerintah terus mendorong kelompok-kelompok tersebut mengembangkan sektor pangan, energi, dan komoditas unggulan berbasis kawasan hutan tanpa merusak ekosistem yang ada.
Melalui kerja sama yang tengah diimplementasikan bersama UMS, Wahyudi berharap lahir berbagai program konkret yang dapat mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan.
Mulai dari penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang melibatkan mahasiswa secara langsung di lapangan.
Sementara itu, Wakil Rektor V UMS Prof. Supriyono mengatakan kampus memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat dan membantu meningkatkan kapasitas kelompok pengelola hutan.
Menurutnya, pendampingan yang dilakukan tidak hanya menyentuh aspek budidaya dan produksi, tetapi juga pengolahan pascapanen, pengembangan usaha, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan.
“Harapan kita nanti UMS bisa mendampingi masyarakat yang sudah memiliki izin pengelolaan hutan tersebut untuk pemberdayaan masyarakat, baik petani, hasil produksi pertanian, pengolahan pascapanen, maupun aspek lainnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Supriyono.
Ia menambahkan, kerja sama antara UMS dan Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta kini telah memasuki tahap implementasi melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah dibangun sebelumnya.
Dorong Pelestarian Hutan Berbasis Masyarakat, UMS Jalin Kerja Sama dengan Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta https://t.co/bvwDdt0NFX
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) June 25, 2026
Sinergi tersebut diharapkan dapat menjadikan UMS mitra strategis dalam menciptakan model pengelolaan hutan yang produktif, berkelanjutan, dan tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dengan kelestarian lingkungan. //Kls
