TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Kehidupan Sedang Gonjang Ganjing, Spiritualis Padepokan Ojo Lali Bagikan Sego Ngontok-ngontok

Spiritualis Padepokan Ojo lali Solo, Dewi Sri Sapawi saat menggelar wilujengan Suro dengan sesaji Sego Ngontok-ngontok

WARTAJOGLO, Solo – Berbagai persoalan yang silih berganti menghampiri Indonesia, mulai dari tekanan ekonomi, dinamika politik, hingga persoalan hukum yang kerap menjadi sorotan publik, menjadi kegelisahan tersendiri bagi budayawan sekaligus spiritualis asal Solo, Dewi Sri Sapawi.

Kegelisahan itulah yang kemudian diwujudkan dalam sebuah ritual bertajuk Wilujengan Suro yang digelar bertepatan dengan malam pergantian Tahun Baru Jawa atau 1 Suro, Selasa 16 juni 2026 malam.

Bagi Sri Sapawi, malam 1 Suro bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. 

Momentum tersebut menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi sekaligus memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa yang menurutnya tengah menghadapi berbagai persoalan yang membuat kehidupan masyarakat semakin berat.

“Momen pergantian tahun ini menjadi saat yang tepat bagi kita semua untuk memohon pertolongan kepada Sang Pencipta. Agar di tahun yang akan datang senantiasa diberi keberkahan,” ujar pimpinan Padepokan Ojo Lali Solo tersebut.

Ritual yang diikuti warga dan sejumlah abdi dalem Keraton Surakarta Hadiningrat itu diawali dengan doa bersama. 

Namun, perhatian peserta tertuju pada ratusan bungkus makanan yang dibagikan Sri Sapawi, yakni Sego Ngontok-ngontok.

Bukan tanpa alasan makanan tersebut dipilih sebagai bagian utama ritual. Menurut Sri Sapawi, setiap komponen yang ada di dalamnya merupakan simbol dari kondisi sosial yang saat ini dirasakan masyarakat.

“Negara ini sedang gonjang ganjing dengan berbagai permasalahan yang ada. Kita berharap, masalah-masalah itu segera terselesaikan, dan negara kita menjadi kuat dan semakin maju,” katanya.

Di dalam satu bungkus Sego Ngontok-ngontok terdapat nasi dengan lauk telur rajangan, udang, serundeng, trancam, sambal, serta pelengkap lainnya. Seluruhnya mengandung pesan simbolik.

Telur rajangan, misalnya, dimaknai sebagai gambaran hati rakyat yang seperti diiris-iris akibat berbagai persoalan yang terjadi saat ini. 

Sementara serundeng berasal dari ungkapan Jawa serune nek diendeng-endeng, yang berarti senang ketika diperhatikan atau mendapat kepedulian.

Ada pula udang atau urang yang dimaknai sebagai perilaku yang gemar membuat malu (wirang), serta sayur trancam yang menggambarkan situasi kehidupan yang serba terancam. 

Sedangkan sambal atau sambel dimaknai banyak yang sedang nggedumbel atau ngedumel. Yang merupakan simbol keluhan masyarakat yang harus menghadapi berbagai kesulitan hidup.

“Harapannya masyarakat mengerti kondisi yang sedang terjadi. Kita berdoa supaya tidak semakin ruwet, tidak ada dendam, tidak ada rasa terancam. Semoga yang bekerja bisa nyaman, sandang pangan murah, dan mencari nafkah tidak terlalu berat,” tuturnya.

Nama Sego Ngontok-ngontok sendiri dipilih untuk menggambarkan suasana batin masyarakat yang serba tidak menentu. 

Dalam istilah Jawa, ngontok-ngontok menggambarkan keadaan yang serba tidak nyaman, penuh emosi yang terpendam dan seolah tidak memiliki ruang untuk menyampaikan kegelisahan yang dirasakan.

Sekitar 500 bungkus nasi tersebut dibagikan kepada masyarakat yang hadir dalam ritual.

Sebagai penutup, Sri Sapawi menggelar tradisi udik-udikan, yakni menebarkan uang dan berbagai jenis biji-bijian seperti gabah, jagung, kacang hijau, dan kacang tholo.

Menurutnya, biji-bijian tersebut menjadi simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik. 

Gabah dimaknai sebagai pengingat agar para pemimpin tidak gegabah dalam mengambil keputusan, sementara kacang hijau melambangkan harapan agar rakyat memperoleh penghidupan yang layak dan kesempatan kerja yang lebih luas.

“Acara ini untuk tolak balak, supaya tidak ada penyakit, supaya mencari sandang pangan tidak rekasa. Harapannya kehidupan masyarakat lebih mudah dan sejahtera,” ujarnya.

Di tengah berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik, Wilujengan Suro yang digelar Sri Sapawi menjadi bentuk ikhtiar spiritual sekaligus refleksi sosial. 

Simbol-simbol sederhana dalam Sego Ngontok-ngontok, menjadi ajakan kepada masyarakat untuk tidak kehilangan harapan dan terus mendoakan agar Indonesia dapat keluar dari berbagai persoalan yang tengah dihadapi. //Sik

Type above and press Enter to search.