![]() |
| Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026 digelar di Lembah Savana Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur |
WARTAJOGLO, Belu – Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Belu dan Institut Seni Indonesia Surakarta kembali membuahkan hasil.
Sinergi tersebut menjadi salah satu kunci sukses penyelenggaraan Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026 yang digelar di Lembah Savana Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Festival yang mengusung tema "Dancing for Friendship" ini tidak hanya menampilkan keindahan alam Fulan Fehan dengan latar Gunung Lakaan, tetapi juga menjadi panggung budaya yang mempererat persahabatan masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste.
Puncak acara yang berlangsung Sabtu 27 Juni 2026 menghadirkan pertunjukan kolosal yang melibatkan 3.900 penari Likurai dari empat zona di Kabupaten Belu.
Penampilan tersebut disaksikan sekitar 25 ribu penonton yang memadati kawasan Fulan Fehan.
Festival dibuka oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Wali Kota Darwin, Australia, serta delegasi dari Timor Leste.
Kesuksesan festival tahun ini tidak terlepas dari kerja sama strategis antara Pemerintah Kabupaten Belu dan ISI Surakarta.
Menjelang pelaksanaan festival, kedua pihak kembali menandatangani kesepakatan kerja sama sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus mengembangkan sumber daya manusia melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam penyelenggaraan festival, Dinas Pariwisata Kabupaten Belu berkolaborasi dengan Program Pascasarjana ISI Surakarta dan Ekosdance untuk menyusun konsep pertunjukan yang lebih megah tanpa meninggalkan nilai-nilai adat yang menjadi identitas masyarakat Belu.
Koreografi pertunjukan digarap oleh Eko Supriyanto bersama tim dosen dan kurator ISI Surakarta yang bekerja sama dengan para maestro tari lokal.
Hasilnya, Festival Fulan Fehan tampil lebih atraktif melalui perpaduan drama kolosal, ritual adat, tradisi menenun, musik tradisional, tari kreasi, hingga Tari Likurai yang menjadi ikon budaya Belu.
Bupati Belu Willybrodus Lay mengatakan kerja sama dengan ISI Surakarta bukanlah yang pertama.
Selama ini, sejumlah putra-putri Belu juga telah memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan jenjang sarjana maupun pascasarjana di kampus tersebut.
Menurutnya, kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat pengembangan seni budaya lokal sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Belu.
"Terima kasih banyak atas dedikasinya untuk Kabupaten Belu. Ke depan masih ada festival, dan kami berharap ISI Surakarta terus mendukung sehingga penyelenggaraan festival berikutnya semakin baik," ujarnya.
Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala menegaskan bahwa kerja sama yang telah terjalin mencakup berbagai bidang, mulai dari pengembangan SDM, penelitian, konsultasi budaya, pelestarian tradisi lokal, hingga pengembangan pendidikan tinggi.
Menurutnya, kolaborasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan budaya daerah sekaligus meningkatkan daya saing masyarakat.
"Hari ini kita meneguhkan kembali komitmen untuk berkolaborasi bersama dalam pengembangan sumber daya, penelitian, konsultasi, dan pengembangan tradisi budaya yang ada di Kabupaten Belu," katanya.
Festival Fulan Fehan 2026 sendiri berlangsung selama tiga hari. Rangkaian kegiatan diawali pada 25 Juni dengan ritual adat Ukun Naran Bunaq di Kampung Adat Duarato sebagai simbol persaudaraan dan pelestarian nilai-nilai leluhur.
Kolaborasi Pemkab Belu dan ISI Surakarta Bawa Festival Fulan Fehan 2026 Makin Mendunia https://t.co/Fgz0tmvLQ8
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) June 30, 2026
Selanjutnya, pada 26 Juni digelar Exotic Tenun by Dekranasda Belu yang menghadirkan Parade Tenun dan Fashion Show.
Sekitar 180 peserta dari Belu, Timor Tengah Utara, Malaka, Timor Leste, Darwin (Australia), hingga berbagai daerah di NTT ikut ambil bagian menampilkan kekayaan tenun sebagai identitas budaya masyarakat. //Bang
