TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Terapkan Pembelajaran Berbasis Gamifikasi, Belajar Bahasa Inggris Jadi Lebih Seru

Para siswa SD Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta belajar bahasa Inggris berbasis gamifikasi, langsung dari native speaker

WARTAJOGLO, Solo – Belajar sambil bermain menjadi cara yang efektif untuk menumbuhkan minat belajar anak. 

Pendekatan itulah yang diterapkan SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo melalui pelatihan bahasa Inggris berbasis gamifikasi yang diikuti 167 murid kelas I dan II, Selasa 9 Juni 2026.

Kegiatan yang digelar di Ruang Haji Isa tersebut menjadi agenda pengisi waktu jeda setelah Penilaian Sumatif Akhir Tahun (PSAT). 

Mengangkat tema “What I Wanna Be When I Grow Up”, para murid diajak mengenal berbagai profesi melalui metode pembelajaran yang interaktif, komunikatif, dan menyenangkan.

Sejak awal kegiatan, suasana belajar berlangsung berbeda dari biasanya. Murid-murid tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif terlibat dalam berbagai aktivitas yang menantang kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan bekerja sama.

Koordinator International Class Program (ICP) SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Gedis Wiranur Putri, mengatakan metode pembelajaran berbasis gamifikasi dipilih untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik sekaligus memudahkan murid memahami materi.

“Melalui materi ini, para murid tidak hanya belajar kosakata bahasa Inggris, tetapi juga mengenal berbagai profesi dan peran sosialnya di lingkungan sekitar. Harapannya, mereka memiliki gambaran tentang cita-cita dan semakin termotivasi untuk belajar,” ujarnya.

Pembelajaran semakin berkesan dengan kehadiran penutur asli atau native speaker asal Uzbekistan, Mr. Abrorjon Numonov. 

Kehadiran pengajar internasional tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih autentik bagi para murid.

Mereka tampak antusias mengikuti sesi pengenalan kosakata profesi, menirukan pelafalan (pronunciation), hingga berlatih menjawab pertanyaan sederhana dalam bahasa Inggris. 

Interaksi langsung dengan native speaker membuat murid lebih percaya diri untuk mencoba menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari.

Puncak keseruan terjadi saat sesi permainan edukatif dimulai. Murid-murid dibagi dalam kelompok kecil dan diberikan tantangan menyusun huruf acak menjadi nama-nama profesi yang telah dipelajari sebelumnya.

Meski dikemas dalam bentuk permainan, aktivitas tersebut memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. 

Selain mengasah daya ingat terhadap kosakata baru, permainan juga melatih ketelitian, kemampuan berpikir cepat, komunikasi, dan kerja sama tim.

Metode gamifikasi yang diterapkan membuat suasana belajar terasa lebih santai tanpa mengurangi substansi materi yang disampaikan. 

Para murid tampak menikmati setiap tantangan yang diberikan dan saling berkolaborasi untuk menyelesaikan permainan.

Salah satu murid kelas II, Zukhrufy Kupuara Hadid, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena proses belajar terasa lebih menyenangkan.

“Belajarnya seru karena bisa sambil bermain gim. Jadi tidak bosan setelah selesai PSAT. Tadi juga senang bisa belajar langsung dengan native speaker,” katanya.

Menurut Gedis, pembelajaran berbasis gamifikasi merupakan salah satu strategi yang terus dikembangkan sekolah untuk meningkatkan keterlibatan murid dalam proses belajar. 

Dengan suasana yang menyenangkan, murid diharapkan lebih mudah menyerap materi sekaligus memiliki pengalaman belajar yang berkesan.

“Kami berharap pengalaman belajar bersama penutur asli ini dapat meningkatkan rasa percaya diri murid sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa asing sejak dini,” pungkasnya. //Bang

Type above and press Enter to search.