TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Dies Natalis ke-62 ISI Surakarta, Rektor: Seni Harus Jadi Penggerak Peradaban

Rektor ISI Surakarta, Dr Bondet Wrahatnala menyerahkan penghargaan kepada peneliti dan pemerhati seni Dr. Kathryn "Kitsie" Emerson, Ph.D., MA.

WARTAJOGLO, Solo – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menegaskan perannya sebagai kampus seni yang tidak hanya melahirkan seniman, tetapi juga menjadi motor penggerak peradaban. 

Semangat itu mengemuka dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-62 ISI Surakarta yang digelar di Pendopo GPH Joyokusumo, Rabu 15 Juli 2026.

Mengusung tema "Transformasi Seni, Menggerakkan Peradaban", peringatan hari jadi ISI Surakarta tahun ini berlangsung khidmat sekaligus sarat makna. 

Acara dihadiri Pengageng Pura Mangkunegaran KGPAA Mangkunagoro X, sivitas akademika, para akademisi, seniman, hingga tamu undangan dari berbagai daerah.

Momentum Dies Natalis kali ini semakin istimewa dengan pengukuhan Prof. Dr. Sunardi, M.Sn. sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Estetika Pedalangan. 

Dalam pidatonya, Rektor ISI Surakarta menegaskan bahwa pengukuhan guru besar bukan sekadar pencapaian akademik seorang dosen, tetapi menjadi bukti bahwa perguruan tinggi seni terus melahirkan pemikiran yang memperkaya ilmu pengetahuan Indonesia.

"Hari ini ISI Surakarta mengukuhkan Prof. Dr. Sunardi, M.Sn. sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Estetika Pedalangan. Pengukuhan ini bukan sekadar penghargaan atas perjalanan akademik seorang ilmuwan, tetapi juga penegasan bahwa perguruan tinggi seni terus melahirkan pemikiran-pemikiran yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan Indonesia," ujarnya.

Ia pun menyampaikan penghargaan kepada Prof. Sunardi seraya berharap lahir semakin banyak guru besar yang memperkuat tradisi akademik dan pengembangan ilmu seni di Indonesia.

Selain itu, ISI Surakarta juga memberikan penghargaan kepada Dr. Kathryn "Kitsie" Emerson, Ph.D., MA., peneliti dan pemerhati karawitan serta wayang gaya Surakarta.

Lebih dari 30 tahun, akademisi asal Amerika Serikat tersebut dikenal konsisten melakukan penelitian mengenai karawitan dan wayang gaya Surakarta. 

Dedikasinya telah berkontribusi besar dalam mendokumentasikan, mengembangkan, sekaligus memperkenalkan kekayaan seni tradisi Jawa kepada masyarakat internasional.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Rektor ISI Surakarta Dr. Bondet Wrahatnala sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi panjang Kitsie Emerson dalam menjaga dan mengembangkan khazanah seni tradisi Indonesia.

Usai sidang senat, Bondet menjelaskan bahwa tema Dies Natalis tahun ini menjadi arah besar pengembangan ISI Surakarta ke depan. 

Menurutnya, seni memiliki kemampuan melampaui batas-batas disiplin ilmu maupun kelompok masyarakat sehingga dapat menjadi media untuk membangun peradaban.

"Harapannya sesuai dengan tema Dies Natalis kali ini, Transformasi Seni, Menggerakkan Peradaban. ISI Surakarta ke depan bisa menjadi pionir untuk menggerakkan peradaban. Seni itu bisa ajur-ajer, bisa melintas ke mana-mana. Melalui media seni, kita bisa melakukan pendekatan kepada seluruh lapisan masyarakat," katanya saat ditemui usai sidang.

Sebagai contoh, ISI Surakarta belum lama ini menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Belu dalam diplomasi budaya di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste. Menurut Bondet, seni mampu menjadi jembatan harmonisasi yang mempererat hubungan masyarakat lintas negara.

"Kami yakin seni bisa menjadi jembatan dan sarana harmonisasi, termasuk menjaga kawasan perbatasan tetap damai. Seni memiliki kekuatan untuk memengaruhi dan menggerakkan peradaban," ujarnya.

Ia menegaskan, di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat, seni justru memiliki ruang yang semakin luas. Stigma bahwa seni identik dengan sesuatu yang kuno, menurutnya, sudah tidak lagi relevan.

"Seni bukan sesuatu yang kuno. Seni bisa masuk ke mana-mana, beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk dengan teknologi. Karena itu ISI Surakarta ingin menjadi penggerak agar seni hadir sebagai media yang mampu menggerakkan peradaban," ungkapnya.

Pengukuhan Prof. Sunardi turut menambah kekuatan akademik ISI Surakarta. Saat ini kampus seni tersebut memiliki 11 guru besar aktif, dan pada tahun ini masih mengajukan dua calon guru besar baru kepada kementerian, masing-masing melalui jalur kekaryaan dan jalur pengkajian.

"Penambahan guru besar ini maknanya luar biasa bagi ISI Surakarta. Mudah-mudahan tahun ini dua guru besar lagi bisa disetujui. Dengan semakin banyak guru besar, disiplin ilmu seni akan semakin kuat dan semakin mampu menggerakkan peradaban," jelas Bondet.

Memasuki usia ke-62, ISI Surakarta juga menegaskan arah transformasi kelembagaannya melalui konsep Artistic Research University. 

Dalam konsep tersebut, proses penciptaan karya seni tidak hanya menghasilkan karya artistik, tetapi juga menjadi sumber lahirnya pengetahuan, inovasi, serta solusi bagi kehidupan masyarakat.

Menurut Bondet, ukuran keberhasilan perguruan tinggi saat ini tidak lagi sebatas jumlah lulusan maupun publikasi ilmiah. 

Perguruan tinggi dituntut menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak.

"Bagi ISI Surakarta, seni bukan hanya menghasilkan karya. Seni juga menciptakan nilai, memperkuat kebudayaan, menggerakkan ekonomi kreatif, dan menghadirkan dampak sosial yang nyata," ujarnya.

Di sisi lain, hadirnya era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) juga menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi seni.

Bondet meyakini bahwa teknologi akan terus berkembang, tetapi kreativitas, kepekaan estetik, nilai budaya, dan kemanusiaan tetap menjadi kekuatan utama yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

Karena itu, ISI Surakarta berkomitmen melahirkan insan seni yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan akar budaya Nusantara.

Ke depan, ISI Surakarta menargetkan transformasi kelembagaan terus berjalan melalui semangat Aksi Kolaboratif, Akselerasi Transformasi. 

Kampus ingin menghadirkan dampak yang lebih luas, terutama dalam aspek kebudayaan.

"Kampus seni harus berdampak. Dampak yang kami harapkan adalah dampak kultural, yaitu bagaimana seni mampu mempercepat bergeraknya peradaban. Peradaban memang terus bergerak, tetapi kami ingin mengakselerasinya melalui seni budaya," tutup Bondet. //Bang

Type above and press Enter to search.