![]() |
| Ketua Panitia Laweyan fest 2026 menunjukkan deretan umbul-umbul peserta event Festival Umbul-Umbul Batik |
WARTAJOGLO, Solo – Sebuah kawasan wisata tidak hanya membutuhkan keindahan untuk menarik perhatian wisatawan.
Lebih dari itu, diperlukan sebuah ikon yang kuat dan khas, yang membuat orang langsung teringat pada sebuah daerah ketika melihatnya.
Seperti festival balon udara yang kini lekat dengan citra wisata Wonosobo, Kampung Batik Laweyan di Kota Solo pun tengah menyiapkan sebuah ikon serupa.
Bedanya, jika Wonosobo memiliki balon udara, maka Laweyan ingin dikenal melalui umbul-umbul batik.
Gagasan itulah yang coba diwujudkan melalui Festival Umbul-Umbul Batik yang menjadi rangkaian awal menuju Road to Laweyan Fest 2026.
Puluhan umbul-umbul karya para pembatik dan pelaku UMKM dari berbagai daerah kini menghiasi kawasan Kampung Batik Laweyan, menghadirkan wajah baru yang memadukan tradisi Jawa dengan kekayaan batik.
Ketua Panitia Laweyan Fest 2026, Danu Nugroho Wicaksono, mengatakan Festival Umbul-Umbul Batik bukan sekadar lomba menghias kawasan.
Lebih jauh, kegiatan tersebut dirancang sebagai langkah awal untuk membangun identitas dan karakter khas Laweyan sebagai destinasi wisata budaya.
"Iya, kita sebenarnya terinspirasi dari Wonosobo itu balon udara. Balon udara itu kan ikonik. Nah, kita harus dari segi wisatanya juga punya karakteristik, yaitu umbul-umbul batik," ujar Danu saat konferensi pers, Jumat 24 Juli 2026.
Menurutnya, pemilihan umbul-umbul sebagai medium juga bukan tanpa alasan. Sebab, selain identik dengan tradisi dan budaya Jawa, umbul-umbul juga memiliki fungsi visual yang kuat untuk mempercantik sebuah kawasan.
Namun, Laweyan mencoba memberikan sentuhan berbeda. Umbul-umbul yang ditampilkan bukan sekadar kain dekorasi biasa, melainkan dibuat melalui proses membatik.
![]() |
| Deretan umbul-umbul batik di sepanjang jalan kawasan kampung Batik Laweyan |
"Kenapa harus batik? Karena kalau umbul-umbul biasa, ya sudah semuanya juga homogen. Kalau ini umbul-umbul dengan batik, prosesnya," jelasnya.
Melalui konsep tersebut, Festival Umbul-Umbul diharapkan mampu menjadi sebuah penanda baru bagi Kampung Batik Laweyan.
Ketika wisatawan datang dan melihat deretan umbul-umbul batik yang membentang di kawasan tersebut, mereka diharapkan langsung mengenali bahwa mereka tengah berada di Laweyan.
Danu menjelaskan, festival tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya nguri-uri batik dengan cara yang lebih kreatif dan berbeda.
Laweyan yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra batik bersejarah di Kota Solo ingin menghadirkan batik tidak hanya melalui produk sandang, tetapi juga dalam bentuk karya visual yang menjadi bagian dari ruang publik.
"Tujuan dari Festival Umbul-Umbul ini adalah kita nguri-uri batik dalam bentuk yang berbeda. Selain itu, kita harus punya sebuah karakter sendiri, di mana Kampung Batik Laweyan juga memiliki kekhasan dalam sebuah event, yaitu Festival Umbul-Umbul Batik," ungkapnya.
Festival tersebut dibuka dalam bentuk lomba yang diikuti sekitar 100 peserta. Pesertanya tidak hanya berasal dari Solo Raya, tetapi juga dari berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti Kulon Progo, Bantul, hingga Semarang.
Menariknya, seluruh umbul-umbul yang kini dipajang di kawasan Kampung Batik Laweyan merupakan karya para pelaku UMKM. Bahkan, sebagian peserta datang dari luar daerah.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan dukungan berupa kain, lilin atau malam berbahan sawit, serta pewarna.
Penggunaan malam sawit tersebut menjadi bagian dari eksplorasi baru yang tengah dikembangkan di Laweyan.
"Untuk peserta mereka dapat kain, lilin sawit, sama pewarna," kata Danu.
Karya-karya tersebut kemudian dinilai berdasarkan sejumlah kriteria. Salah satunya adalah kesesuaian dengan tema "Laweyan Sepanjang Masa".
Tema itu memberikan ruang kepada peserta untuk mengeksplorasi berbagai ikon dan kekayaan sejarah Laweyan, mulai dari motif batik, wayang beber, hingga ornamen-ornamen khas kawasan tersebut.
Selain kesesuaian tema, penilaian juga mencakup aspek estetika dan narasi. Sebab, menurut Danu, batik tidak hanya berbicara tentang keindahan visual, tetapi juga proses dan makna yang terkandung di dalamnya.
"Karena batik itu memang harus memakai lilin panas dan bermakna," tuturnya.
Danu mengungkapkan, seluruh peserta telah memenuhi kriteria yang ditetapkan. Tidak ditemukan karya yang menggunakan teknik printing, karena seluruh peserta benar-benar mengerjakan karya dengan proses membatik.
"Alhamdulillah tidak ada yang non-batik, tidak ada yang printing. Semua peserta sangat excited untuk mengikuti. Bahkan desain-desainnya itu mereka maksimal semua," ujarnya.
Untuk tahap awal, umbul-umbul yang dibuat memiliki ukuran panjang tiga meter dengan lebar 55 sentimeter.
Ukuran tersebut dipilih sebagai bagian dari uji coba untuk melihat tingkat kesulitan proses membatik pada media umbul-umbul.
Sebab, bagi pembatik profesional, ukuran tersebut mungkin tidak terlalu sulit. Namun bagi peserta yang masih awam, proses membatik pada kain memanjang dengan bentuk seperti itu tetap memiliki tantangan tersendiri.
"Kalau untuk yang pro itu memang sangat-sangat mudah. Tapi untuk peserta yang lain yang awam ternyata memang ada kesulitan juga. Kita coba ukuran media itu ternyata sudah cukup, sudah mewakili," terang Danu.
Ke depan, ukuran umbul-umbul tersebut masih sangat mungkin dikembangkan. Jika festival digelar dengan skala yang lebih besar, ukuran media yang digunakan bisa mencapai lebar 115 sentimeter dengan panjang tiga meter.
Bagi Danu, Festival Umbul-Umbul kali ini memang baru merupakan langkah awal. Jumlah peserta dibatasi sekitar 100 orang karena kegiatan tersebut sekaligus menjadi tahap perkenalan dan branding.
Setelah Festival Umbul-Umbul, rangkaian Road to Laweyan Fest 2026 akan dilanjutkan dengan sejumlah agenda lain.
Di antaranya talkshow sejarah, Jelajah Rasa Heritage Trail, Pasar Laweyan, hingga Kirab Tiang Bendera.
Umbul-umbul yang telah dibuat juga tidak berhenti menghiasi Laweyan. Karya-karya tersebut akan kembali dipamerkan dalam sejumlah kegiatan budaya.
Pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2026, umbul-umbul akan dibawa ke acara Seniman Mesren di Sondakan. Selanjutnya, akan ada pagelaran budaya tingkat kecamatan di Kelurahan Sondakan.
Kemudian pada 4 hingga 8 Agustus 2026, umbul-umbul tersebut juga akan dipamerkan dalam acara Seniman Pendika yang digelar di kawasan CFD.
Sementara itu, puncak Festival Umbul-Umbul akan ditandai dengan pengumuman para pemenang. Panitia akan memilih juara pertama, kedua, ketiga, serta tiga juara harapan.
Selain Festival Umbul-Umbul, Road to Laweyan Fest 2026 juga akan diwarnai agenda penghargaan kepada tiga sosok perempuan yang dinilai inspiratif di bidang masing-masing, yakni Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, anggota DPRD Kota Surakarta Sekar Tanjung, serta budayawan dan penyanyi Sruti Respati.
Penghargaan tersebut mengusung tema "Laras Wangi Ningrat" dan mengambil inspirasi dari sejarah Laweyan yang lekat dengan sosok Mbok Masse, perempuan-perempuan saudagar batik yang memiliki peran penting dalam perkembangan kawasan tersebut.
Danu mengatakan, pemilihan tiga tokoh tersebut diharapkan dapat menghadirkan figur "Mbok Masse modern" yang menjadi teladan bagi masyarakat di era sekarang.
"Memang beliau-beliau konsen di bidang masing-masing, memiliki karakteristik masing-masing dalam disiplin ilmu masing-masing. Kita harapkan untuk awarding itu menjadi teladan dan Mbok Masse modern di era sekarang," paparnya.
Bagi Laweyan, kehadiran umbul-umbul batik bukan sekadar urusan dekorasi. Ada filosofi budaya Jawa yang ingin dihidupkan kembali.
Umbul-umbul selama ini memiliki posisi penting dalam berbagai peristiwa dan ruang budaya masyarakat Jawa.
Ketika dipadukan dengan batik, dua identitas budaya tersebut bertemu dalam satu medium: tradisi Kejawen dan warisan batik.
"Selain menghiasi kawasan, umbul-umbul itu juga sangat filosofis dalam budaya Jawa. Yang kita ambil itu kenapa harus umbul-umbul, itu akan jadi sebuah karakteristik. Selain batiknya dapat, tradisional Kejawennya juga dapat," pungkas Danu.
"Festival Umbul-Umbul Batik" Siap jadi Ikon Baru Kampung Batik Laweyan https://t.co/x4EUyoIprF
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) July 24, 2026
Dengan demikian, Festival Umbul-Umbul tidak sekadar menjadi lomba atau agenda seremonial. Ia sedang dirancang sebagai sebuah penanda visual baru bagi Laweyan.
Jika balon udara menjadi wajah yang mudah dikenali dari langit Wonosobo, bukan tidak mungkin kelak deretan umbul-umbul batik menjadi simbol yang langsung mengingatkan orang pada Kampung Batik Laweyan.
Sebuah ikon yang lahir dari tradisi, dikerjakan melalui proses membatik, dan sekaligus menjadi cara baru untuk membawa warisan budaya Laweyan melangkah ke masa depan. //Kls

