![]() |
| Wali Kota Surakarta Respati Ardi menyerahkan wayang Bima kepada Ki Amar Pradopo dalam pagelaran wayang kulit "Pandawa Syukur" yang digelar dalam rangka Dies Natalis UTP ke-46 |
WARTAJOGLO, Solo – Di tengah derasnya arus informasi digital yang membentuk gaya hidup generasi muda, Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengingatkan pentingnya budaya sebagai benteng pembentukan karakter.
Pesan itu ia sampaikan saat menghadiri pagelaran wayang kulit dalam rangka Dies Natalis ke-46 Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta di Kampus II UTP, Cengklik, Kamis 16 Juli 2026.
Malam itu, Respati tak sekadar hadir sebagai tamu kehormatan. Ia didapuk menyerahkan tokoh wayang Bima kepada dalang muda Ki Amar Pradopo sebagai penanda dimulainya pementasan lakon "Pandawa Syukur".
Dalam pementasannya, Ki Amar Pradopo juga mengkreasikannya dengan wayang golek, sehingga memberi warna baru dalam pertunjukan seni tersebut.
Bagi Respati, pagelaran wayang bukan sekadar tontonan, melainkan ruang pendidikan karakter yang semakin relevan di tengah tantangan zaman.
"Saat ini pintar saja secara akademis tidak cukup. Karakter justru menjadi sangat penting. Unggah-ungguh, menghormati yang lebih tua, itu harus terus dijaga. Budaya seperti wayang menjadi media untuk memperkuat karakter generasi muda," ujarnya.
Menurutnya, tantangan mahasiswa saat ini jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Jika dahulu masyarakat hanya memperoleh informasi pada waktu-waktu tertentu melalui televisi, kini arus informasi datang tanpa henti selama 24 jam melalui media sosial.
Kondisi itu, kata Respati, membawa konsekuensi besar terhadap pembentukan pola pikir dan karakter anak muda apabila tidak diimbangi dengan pendidikan moral dan budaya.
Ia bahkan menyebut tantangan ke depan bukan lagi sekadar persoalan perbedaan agama, melainkan mulai munculnya sikap yang menjauh dari nilai-nilai ketuhanan serta berbagai penyimpangan sosial.
Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat karakter mahasiswa.
"Budaya harus tetap dijalankan. Tanpa mengurangi penghormatan terhadap hak asasi manusia, kita tetap harus memperkuat karakter generasi muda melalui nilai-nilai luhur yang diwariskan budaya," tegasnya.
Respati juga mengapresiasi konsistensi UTP Surakarta yang setiap tahun menghadirkan pagelaran wayang sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis.
Menurutnya, tradisi seperti ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga menjaga identitas budaya Kota Solo.
Ia berharap wayang terus hidup di tengah masyarakat, terlebih saat kesenian tradisional kini mulai tergeser oleh berbagai bentuk hiburan modern.
"Semoga pagelaran wayang kulit malam ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi menjadi sarana memperkuat kecintaan kita terhadap budaya bangsa. Mari terus uri-uri budaya, jangan sampai Kota Solo kehilangan identitas asli budayanya," katanya.
Sementara itu, Rektor UTP Surakarta Prof. Dr. Winarti menegaskan bahwa pagelaran wayang bukan sekadar agenda seremonial Dies Natalis, melainkan telah menjadi tradisi tahunan sebagai bentuk komitmen kampus dalam melestarikan budaya Jawa.
Menurutnya, sebagai perguruan tinggi yang tumbuh di Kota Solo, UTP memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.
"Setiap tahun kita lakukan wayangan saat Dies Natalis. Tujuannya adalah nguri-uri budaya. UTP ingin ikut melestarikan budaya wayang kulit, sehingga setiap peringatan Dies Natalis selalu kita hadirkan pagelaran wayang. Intinya, kami ingin membudayakan sekaligus mempertahankan budaya wayang kulit," kata Winarti.
Ia menjelaskan, dipilihnya lakon "Pandawa Syukur" juga memiliki makna yang erat dengan perjalanan UTP yang kini telah memasuki usia 46 tahun.
Lakon tersebut menggambarkan rasa syukur Pandawa Lima setelah berhasil membangun Kerajaan Amarta usai melalui berbagai ujian.
Filosofi itu, menurut Winarti, menjadi refleksi perjalanan UTP yang terus bertahan, berkembang, dan berbenah menghadapi tantangan zaman.
"Ini juga menjadi bentuk syukuran karena UTP telah mencapai usia 46 tahun dan tetap eksis. Melalui Dies Natalis ini kami sekaligus melakukan refleksi, apa yang sudah dilakukan dan apa yang perlu dilakukan untuk pengembangan universitas ke depan," ujarnya.
Winarti menambahkan, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Karena itu, UTP terus berupaya meningkatkan kompetensi dosen melalui studi lanjut hingga jenjang doktor.
"Kami akan terus meningkatkan kualitas SDM dengan mendorong dosen melanjutkan pendidikan sampai S3. Harapannya, lulusan UTP tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kekhasan yang menjadi identitas alumni UTP," jelasnya.
Solo Tetap Jadi Pilihan
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Respati Ardi juga mengungkapkan optimisme terhadap perkembangan Kota Solo sebagai kota pendidikan.
Menurutnya, hasil survei menunjukkan semakin banyak calon mahasiswa dari berbagai daerah yang memilih melanjutkan pendidikan di Solo karena biaya hidup yang relatif terjangkau, suasana kota yang nyaman, serta lingkungan yang aman.
Momentum tersebut, menurutnya, harus dimanfaatkan oleh seluruh perguruan tinggi, termasuk kampus swasta.
Nonton Pagelaran Wayang Kulit di Dies Natalis UTP, Respati Ardi: Budaya Jadi Benteng Karakter Generasi Muda https://t.co/r1w6iAekuD
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) July 17, 2026
Karena itu, Pemerintah Kota Surakarta bersama Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) tengah menyiapkan kampanye bersama untuk menarik lebih banyak mahasiswa dari luar daerah.
"Tagline yang nanti akan kita gaungkan adalah 'Kuliah Aman, di Solo Saja'. Kita ingin semakin banyak mahasiswa datang dan belajar di Kota Solo," ujarnya disambut tepuk tangan hadirin. //Sik
