TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Sayangi Anak, Pemkot Surakarta dan Yayasan KAKAK Gelar "Kampung Keren Tanpa Rokok Award 2026"

Direktur Yayasan KAKAK menyerahkan hadiah kepada pemenang Kampung Keren Tanpa Rokok terbaik

WARTAJOGLO, Solo — Memperingati Hari Anak Nasional 2026, Dinas Kesehatan Kota Surakarta bersama Yayasan KAKAK menggelar Kampung Keren Tanpa Rokok Award 2026 bertema "Sayangi Anak, Wujudkan Kampung Keren Tanpa Rokok". 

Ajang ini bukan sekadar seremoni penghargaan, melainkan bentuk apresiasi nyata bagi kampung-kampung yang sukses menciptakan lingkungan bebas asap rokok demi tumbuh kembang anak yang lebih sehat.

Gerakan Kampung Bebas Asap Rokok (KBAR) sejatinya bukan hal baru di Kota Bengawan. Sejak dirintis tahun 2015, inisiatif ini telah berkembang pesat menjadi 150 kampung yang tersebar di 54 kelurahan. 

Angka ini merupakan buah dari pemberdayaan masyarakat yang mendukung Perda Kota Surakarta Nomor 9 Tahun 2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Bersama Yayasan KAKAK — bagian dari Koalisi Save Our Surroundings — model KBAR dikembangkan melalui delapan indikator: kelembagaan, penegakan aturan, media informasi, penyediaan saung rokok, pendataan, keterlibatan masyarakat, jaringan, serta bebas dari iklan rokok.

Tahun ini, enam kampung masuk nominasi penghargaan, yakni KBAR RW 11 Pasar Kliwon, RW 9 Karangasem, RW 31 Mojosongo, RW 10 Manahan, RW 7 Purwosari, dan RW 2 Joyotakan. Masing-masing menyimpan inovasi yang tak kalah kreatif.

Salah satu terobosan menarik adalah pembentukan Satgas KTR yang melibatkan generasi muda sebagai agen perubahan. 

Tak kalah unik, beberapa kampung menerapkan "denda telur" bagi warga yang merokok di dekat anak-anak, ibu hamil, atau lansia — sanksi edukatif yang sekaligus menjadi pengingat bahwa melindungi kelompok rentan adalah tanggung jawab bersama.

Bahkan, dua kelurahan telah mengalokasikan anggaran khusus untuk keberlanjutan KBAR, membuktikan bahwa gerakan ini telah melampaui sekat-sekat sektor kesehatan semata.

Direktur Yayasan KAKAK, Shoim Sahriyati, menegaskan bahwa kekuatan utama KBAR terletak pada warga itu sendiri.

"Keberhasilan implementasi Kawasan Tanpa Rokok tidak hanya ditentukan oleh adanya regulasi, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat. Semakin kuat partisipasi masyarakat, semakin tinggi pula kepatuhan terhadap Kawasan Tanpa Rokok. Karena itu, dukungan dan komitmen Pemerintah Kota Surakarta sangat penting untuk menjaga semangat warga agar gerakan ini terus berjalan dan berkelanjutan," ujar Shoim.

Meski capaiannya impresif, Sekretaris Daerah Kota Surakarta, Budi Murtono, mengingatkan bahwa perjalanan masih panjang.

"Hal penting yang harus dilakukan adalah dukungan dari pemerintah kota termasuk organisasi perangkat daerah yang lain. Praktik baik ini harus disebarluaskan. Saat ini baru dikembangkan di 25% kampung di Kota Surakarta, sehingga targetnya akan meningkat ke seluruh kampung. Kami agendakan agar kampung lain bisa belajar dari praktik baik yang sudah ada, agar bisa mengembangkan hal yang sama," tegas Budi Murtono.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, dr. Retno Erawati Wulandari, membuka pintu lebar bagi kampung-kampung yang ingin memulai.

"Kampung lain silakan mulai deklarasi dan membangun komitmen untuk mengembangkan Kampung Bebas Asap Rokok. Kami dari Dinas Kesehatan dan puskesmas akan mendukung dan siap untuk mendampingi," ajak dr. Retno.

Kegiatan Kampung Keren Tanpa Rokok Award 2026 mengirimkan pesan bahwa melindungi anak dari asap rokok bukan beban pemerintah semata, melainkan gerakan kolektif seluruh lapisan masyarakat. 

Dengan semangat kolaborasi, Kota Bengawan terus membangun lingkungan yang sehat, aman, dan ramah anak — demi generasi yang lebih sehat, berkualitas, dan berdaya saing. //Bang

Type above and press Enter to search.