![]() |
| Prof. Sunardi saat menyampaikan orasi ilmiah dalam pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar |
WARTAJOGLO, Solo – Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-62 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang digelar di Pendopo GPH Joyokusumo, Rabu 15 Juli 2026, menjadi momen bersejarah bagi Prof. Dr. Sunardi, M.Sn.
Sebab bersamaan dengan peristiwa tersebut Prof. Sunardi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Estetika Pedalangan.
Di hadapan sivitas akademika, para tamu undangan, serta Pengageng Pura Mangkunegaran KGPAA Mangkunagoro X, Prof. Sunardi menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Menjaga Jiwa Wayang Melintas Nafas Zaman: Estetika Nuksma-Mungguh dalam Arus Transformasi Pertunjukan Wayang Kulit."
Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Sunardi menegaskan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan zaman tidak boleh menghilangkan "jiwa" wayang.
Sebaliknya, transformasi harus menjadi jalan agar wayang tetap hidup, relevan, sekaligus mampu berbicara kepada generasi masa kini.
Orasi tersebut juga selaras dengan tema Dies Natalis ISI Surakarta tahun ini, "Transformasi Seni, Menggerakkan Peradaban."
Dalam paparannya, Prof. Sunardi menjelaskan bahwa wayang kulit bukan sekadar warisan budaya yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Lebih dari itu, wayang merupakan seni pertunjukan yang selalu bergerak mengikuti perubahan masyarakat.
"Wayang bukanlah artefak seni budaya yang statis, melainkan seni pertunjukan yang terus beradaptasi mengikuti dinamika zamannya. Inti adaptasi itu terletak pada perubahan estetika pertunjukan agar tetap relevan bagi penonton masa kini," ujarnya.
Menurutnya, perjalanan panjang wayang memperlihatkan bagaimana kesenian tersebut mampu bertahan dari zaman ke zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Perubahan yang terjadi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan bentuk adaptasi budaya agar tetap memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat modern.
Fokus utama orasi ilmiah Prof. Sunardi adalah konsep nuksma-mungguh, yang disebutnya sebagai fondasi estetika pertunjukan wayang kulit Jawa.
Ia menjelaskan, konsep nuksma merujuk pada kemampuan dalang menghadirkan "jiwa" dalam setiap tokoh wayang sehingga pertunjukan terasa hidup dan mampu menyentuh batin penonton.
Pemahaman tersebut, kata dia, telah lama tertuang dalam Serat Centhini, khususnya Pupuh Megatruh, yang menggambarkan nuksma sebagai proses menyatunya dalang dengan wayang hingga melahirkan kesatuan estetik yang hidup.
Sementara mungguh dimaknai sebagai ketepatan atau kepantasan dalam menyusun seluruh unsur pertunjukan.
"Konsep mungguh dipahami sebagai kualitas rasa estetik dalam pengertian sesuai, pantas, dan masuk akal, sehingga seluruh elemen pertunjukan membentuk harmoni," jelasnya.
Menurut Prof. Sunardi, kedua konsep tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Nuksma menghadirkan ruh pertunjukan, sedangkan mungguh menjaga kepantasan artistik sehingga wayang tetap memiliki kekuatan estetis.
Dalam kajiannya, Prof. Sunardi membagi perkembangan wayang menjadi empat fase utama, yakni wayang ritual, wayang klasik-konvensional, wayang inovasi, dan wayang virtual.
Wayang ritual menjadi bentuk paling awal yang lahir sebagai media pemujaan dan memiliki orientasi spiritual yang sangat kuat.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju wayang klasik yang berpijak pada pakem pedalangan dengan aturan penyajian yang jelas dan terukur.
Memasuki era modern, lahirlah wayang inovasi yang memberi ruang luas bagi kreativitas dalang untuk mengeksplorasi bentuk pertunjukan.
Kini, perkembangan teknologi menghadirkan fenomena baru berupa wayang virtual, yaitu pertunjukan yang memanfaatkan platform digital sebagai ruang pertunjukan.
"Transformasi ini menunjukkan bagaimana wayang terus beradaptasi terhadap perubahan sosial, spiritual, hingga teknologi," ungkapnya.
Ia menilai perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan adanya pergeseran orientasi masyarakat, dari yang semula bercorak sakral menuju masyarakat global yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital.
Prof. Sunardi juga mengulas perubahan peran dalang dalam lintasan sejarah.
Menurutnya, pada masa awal, dalang merupakan sosok spiritual yang menjadi penghubung antara manusia dengan kekuatan adikodrati.
Namun seiring perkembangan masyarakat, peran itu terus berkembang.
Dalang kemudian menjadi budayawan, agen perubahan sosial, hingga kini menjelma sebagai kreator konten di ruang digital.
"Di era digital, dalang tidak hanya menjadi penjaga moral dan tradisi, tetapi juga produsen konten yang harus mampu bernegosiasi dengan algoritma platform serta menarik perhatian audiens global," katanya.
Transformasi tersebut menunjukkan bahwa profesi dalang dituntut semakin adaptif tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang diwariskan para leluhur.
Tak hanya dalang, perubahan juga terjadi pada karakter penonton.
Prof. Sunardi mengidentifikasi sedikitnya empat tipe penonton dalam perjalanan sejarah wayang.
Mulai dari penonton yang terlibat langsung dalam ritual, penonton yang menikmati pengalaman katarsis, penonton pragmatis yang mencari hiburan sesuai selera, hingga penonton pembentuk tren yang mampu memengaruhi arah perkembangan pertunjukan.
"Kekuatan penonton hari ini mampu memengaruhi dalang untuk menyesuaikan pangsa pasarnya. Selera masyarakat ikut membentuk wajah pertunjukan wayang masa kini," ujarnya.
Meski mengakui hadirnya tantangan besar di era digital, Prof. Sunardi menolak anggapan bahwa wayang virtual merupakan ancaman bagi wayang klasik.
Menurutnya, teknologi justru membuka peluang baru untuk memperluas akses masyarakat terhadap seni tradisi.
Tantangan terbesar berada pada kemampuan mempertahankan nuksma, yakni kedalaman rasa dan nilai filosofis wayang, ketika pertunjukan dipindahkan ke layar digital.
Dalam ruang virtual, katanya, keberhasilan pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh cerita, tetapi juga kualitas sinematografi, sudut pengambilan gambar, tata suara, hingga durasi pertunjukan yang sesuai dengan karakter penonton digital.
"Wayang virtual tidak harus dilihat sebagai ancaman bagi wayang klasik. Sebaliknya, fenomena ini menciptakan estetika hibrida yang mendemokratisasi akses seni tradisi," tegasnya.
Di akhir orasinya, Prof. Sunardi menyimpulkan bahwa transformasi wayang merupakan proses evolusi budaya yang tidak mematikan tradisi.
Justru melalui kemampuan beradaptasi, wayang dapat terus hadir sebagai seni pertunjukan yang relevan di setiap zaman.
Baginya, tantangan terbesar bukanlah perubahan bentuk pertunjukan, melainkan bagaimana menjaga nuksma atau jiwa wayang agar tetap hidup, sekalipun medium penyampaiannya berubah dari kelir menuju layar digital.
Soroti Transformasi Pertunjukan Wayang Kulit di Era Digital, Prof Sunardi Dikukuhkan sebagai Guru Besar ISI Surakarta https://t.co/QIh4Y2NUMb
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) July 15, 2026
Pesan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa kemajuan teknologi dan pelestarian tradisi bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Dengan berpijak pada konsep nuksma-mungguh, wayang diyakini akan terus melintasi zaman sebagai warisan budaya yang hidup, adaptif, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai luhur Nusantara. //Sik
