TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Tekankan Dramaturgi dalam Setiap Pementasan, Ki Jatmiko Anom Saputro: Wayang Bukan Cuma Sabetan dan Limbukan

Ki Jatmiko Anom Saputro membawa gaya permainan wayang yang berbeda dalam setiap pementasannya

WARTAJOGLO, Solo - Sepeninggal dua dalang kondang, mendiang Ki Anom Suroto dan Ki Warseno Slenk, dunia pewayangan Solo Raya seolah sedang mengalami fase transisi.

Di mana di tengah kekosongan yang ditinggalkan para maestro tersebut, nama-nama baru mulai bermunculan, terutama dari lingkaran dalam keluarga kedua dalang kondang itu.

Salah satunya adalah Ki Jatmiko Anom Saputro, yang merupakan putra mendiang Ki Anom Suroto.

Kiprah Ki Jatmiko sendiri sebenarnya tidak bisa dibilang baru, sebab dia sudah mulai mendalang secara profesional sejak tahun 2004. 

Namun tak bisa dipungkiri bahwa nama besar sang ayah dan sang paman Ki Warseno Slenk, cukup membuat nama Ki Jatmiko tidak terlalu banyak dikenal masyarakat.

Dan dengan gaya khas yang dimilikinya, kini Ki Jatmiko bukan lagi menjadi anak bawang yang tersamar di balik bayang-bayang nama besar ayah dan pamannya.

Perlahan namun pasti, nama Ki Jatmiko kian diperhitungkan dengan semakin banyaknya permintaan pentas dari berbagai tempat.

Yang terdekat adalah rencana pementasannya di acara Bersih Desa di Dusun Ngelo, Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri pada Sabtu 25 Juli 2026.

Dalam pementasan itu Ki Jatmiko akan membawakan lakon "Wahyu Cakraningrat", yang mengangkat pesan mendalam tentang kepemimpinan, amanah, kebijaksanaan, dan tanggung jawab penguasa demi kesejahteraan rakyat. 

Sehari setelahnya dia juga diundang untuk tampil di acara hajatan pernikahan di wilayah  Dusun Ngasinan, Desa Timpik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Yang mana dalam pagelaran ini Ki Jatmiko akan membawakan lakon "Wisanggeni Kromo".

Jejak perjuangan penggemar tokoh Hanoman itu dimulai jauh sebelum ia berdiri gagah di belakang kelir. 

Meski berstatus putra kandung Ki Anom Suroto, namun dia justru banyak berguru dnegan Ki Warseno Slenk serta sang kakek Ki Sadiyun Hardjodarsono.

Di bawah asuhan Ki Warseno Slenk dan sang eyang, Ki Jatmiko ditempa untuk membangkitkan bakat alamnya sebagai seorang dalang.

Sementara sang ayah lebih ke aspek penyempurnaan dari ilmu pedalangan yang didapatkannya, selama berguru pada kakek dan pamannya.

"Dari Mbah Diyun, diajari gimana caranya ngeprak. Ngeprak itu yang bunyi trek-trek-trek-trek, gitu," tuturnya menirukan suara cempala yang khas, saat ditemui di salah satu rumah snag ayah di kawasan Kerten Kota Solo pada Kamis 23 Juli 2026. 

Sementara dari sang paman, ia menyerap ilmu manajemen pakeliran, tentang bagaimana mengolah adegan limbukan agar tetap hidup, ramai, dan menghibur bagi para penonton dari berbagai kalangan. 

Kombinasi disiplin teknis dan kepekaan sosial inilah yang menjadi fondasi kokoh Ki Jatmiko hingga hari ini.

Momen bersejarah itu tiba pada tahun 2004. Di Plesungan, Mojosongo, Solo, Ki Jatmiko untuk pertama kalinya memegang gunungan dan membuka tirai pertunjukan dengan lakon "Bima Suci". 

Sejak saat itu, ia terus mengasah kemampuannya, bukan untuk menyaingi sang ayah, melainkan untuk menemukan jati dirinya sendiri di tengah jagat pewayangan yang begitu kompetitif.

Ki Jatmiko sangat sadar akan perbedaan mendasar antara dirinya dan mendiang Ki Anom Suroto. Ia mengakui bahwa sang ayah memiliki anugerah gawan (bakat alam) yang sulit ditiru. 

"Kalau Bapak itu suaranya arum. Khasnya itu ada. Dadi luk gregel-nya itu khas sekali," ujarnya. 

Bagi Ki Anom Suroto, wayang bukan sekadar benda mati. Di tangannya, wayang seolah memiliki roh dan napas yang hidup. 

Ki Jatmiko dengan rendah hati menyatakan bahwa ia hanya bisa "mendekati" kehebatan tersebut. 

"Untuk suara, Bapak itu lebih kung. Kalau saya lebih kecil tapi mirip. Kalau sama-sama kita mendengarkan di radio, mungkin untuk orang awam kadang tidak bisa membedakan," tuturnya sambil tertawa kecil.

Namun, di balik kerendahan hati itu, Ki Jatmiko memiliki prinsip seni yang tegas.

Ia melihat banyak dalang muda masa kini terlalu fokus pada sabet (gerak wayang) yang serba cepat dan limbukan yang penuh gelak tawa, namun mengabaikan substansi.

"Banyak saya lihat dramaturginya kurang. Guyon tok, nyanyi-nyanyi tok, tapi kadang lakonnya tidak tidak jelas alurnya," kritiknya. 

Bagi Ki Jatmiko, penekanan pada karakter dan alur cerita dalam pementasan adalah segalanya, agar penonton bisa terbawa suasana. 

Ia ingin penonton yang mendengarkan lewat radio pun merasa terlibat secara emosional; ikut menangis saat tokoh menderita, dan ikut merenung saat petuah disampaikan.

Salah satu ciri paling menonjol dari Ki Jatmiko Anom Saputro adalah keberaniannya menyuarakan kritik sosial. 

Di tengah situasi ketimpangan sosial yang ia nilai "luar biasa", ia merasa terpanggil untuk menjadikan wayang sebagai media kontrol sosial. 

"Saya sering mengkritik pemerintah. Harus itu," tegasnya. 

Ia menyadari bahwa banyak rekan sejawatnya masih merasa "takut-takut" mengkritik kebijakan yang tidak merakyat karena khawatir kehilangan tanggapan (undangan pentas). Namun, Ki Jatmiko memilih jalan yang apa adanya. 

"Kalau saya mengkritik, pasti der-der-der gitu," katanya dengan lugas. 

Baginya, wayang kekinian harus tetap berisi petuah dan rembug yang relevan, bukan sekadar tontonan pelipur lara yang kehilangan tajinya.

"Wayang itu bukan sekedar tontonan, tapi juga harus bisa jadi tuntunan," tandasnya.

Kini bersama JAS Manajemen, yang dimanajeri oleh sang ibu, Ki Jatmiko bertekad untuk meneruskan misi menjadikan wayang sebagai tuntunan.

Tak hanya dengan menebarkan wasiat-wasiat leluhur lewat pementasan wayang, dirinya bersama jajaran manajemen juga berupaya membangun kolaborasi dengan berbagai institusi baik pemerintah, dunia pendidikan, komunitas budaya, dan berbagai pemangku kepentingan.

Tujuannya untuk memperkuat ekosistem seni pertunjukan yang profesional, serta menjaga agar wayang tetap hidup dan dicintai oleh generasi masa kini maupun mendatang. //Sik

Type above and press Enter to search.