![]() |
| Kepala Kantor Perwakilan BI Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat mengingatkan dampak El Nino pada kondisi perekonomian di wilayah Solo raya |
WARTAJOGLO, Solo — Di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih positif, Solo Raya menghadapi tantangan baru berupa potensi dampak El Nino.
Meski fenomena tersebut diperkirakan bersifat ringan atau mild, berkurangnya pasokan air tetap perlu diwaspadai karena dapat mengganggu produksi pertanian, pasokan pangan hingga stabilitas harga.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kota Solo Dwiyanto Cahyo Sumirat menyampaikan hal itu dalam media briefing bersama KPwBI Jawa Tengah, Kamis 13 Agustus 2026.
Menurutnya, BI Solo sebelumnya telah melakukan focus group discussion (FGD) bersama BMKG Jawa Tengah, Dinas Pertanian dan kluster pangan untuk memetakan potensi dampak El Nino di wilayah Solo Raya.
“Memang El Nino ini sifatnya mild, tidak terlalu panjang panasnya. Namun demikian, kita tetap perlu mewaspadai dampak negatifnya,” ujarnya.
Kewaspadaan menjadi penting karena sektor pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian Solo Raya.
Hingga akhir Desember 2025, ekonomi kawasan tersebut tumbuh 5,39 persen, sedangkan Kota Surakarta mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 5,63 persen, di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Sektor pertanian menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Solo Raya dengan porsi 27,23 persen, disusul industri pengolahan sebesar 19,29 persen.
Posisi tersebut membuat gangguan terhadap produksi pertanian berpotensi memberikan efek berantai terhadap perekonomian.
Kekurangan air dapat memicu gagal panen, menurunkan produktivitas, meningkatkan biaya produksi hingga mengurangi total produksi pangan.
Hasil pemetaan menunjukkan tingkat kewaspadaan terhadap dampak kekurangan air berbeda di setiap daerah.
Kota Surakarta dan Karanganyar berada pada level Waspada. Boyolali, Klaten, Sragen dan Sukoharjo masuk kategori Siaga, sedangkan Wonogiri berada pada level Awas.
Wonogiri menjadi perhatian khusus karena daerah tersebut merupakan salah satu lumbung pangan yang memasok kebutuhan Solo Raya.
“Ini yang menjadi isu adalah Wonogiri karena Wonogiri termasuk salah satu lumbung pangan yang ada di Surakarta,” jelasnya.
Meski demikian, langkah antisipasi telah disiapkan. Pemerintah daerah bersama Dinas Pertanian dan kluster pangan melakukan berbagai upaya untuk menjaga ketersediaan air.
Di antaranya pembangunan embung dan sumur, pembuatan penampungan air, bantuan air bersih serta perbaikan saluran irigasi.
Di Wonogiri bahkan terdapat program 5.000 sumur dalam yang diharapkan dapat membantu menjaga pasokan air. Sementara di Sragen, perbaikan jaringan irigasi dilakukan agar distribusi air ke lahan pertanian lebih optimal.
Selain memastikan produksi pangan, pengendalian harga menjadi perhatian lain jika El Nino berdampak pada pasokan komoditas.
Gerakan Pasar Murah (GPM) menjadi salah satu instrumen yang disiapkan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus daya beli masyarakat.
Di Solo Raya, Kota Surakarta tercatat paling banyak menggelar GPM, yakni 38 kali, disusul Sukoharjo sebanyak 30 kali. Sementara Wonogiri baru tiga kali melaksanakan kegiatan serupa.
Ke depan, BI Solo akan mendorong agar pelaksanaan GPM lebih berbasis pada potensi kenaikan harga komoditas.
Artinya, intervensi dilakukan ketika terdapat indikasi tekanan harga, bukan sekadar berdasarkan jadwal.
Upaya menjaga pasokan juga dilakukan melalui penguatan produksi pangan berbasis masyarakat.
Pada 27 Juli 2026, BI Solo meluncurkan Gemarikan Karanganyar, antara lain melalui pemberian bibit cabai dan sarana budidaya ikan menggunakan ember.
Di Sragen, BI juga memberikan dukungan sarana prasarana serta bibit cabai melalui Gerakan Menanam Cabai.
Program tersebut diharapkan menjadi sumber pangan alternatif sekaligus membantu menekan tekanan harga ketika pasokan dari sektor pertanian utama mengalami gangguan.
Di tengah ancaman El Nino, kabar positif datang dari sisi konsumsi masyarakat.
Hasil Survei Konsumen BI di Solo Raya menunjukkan indeks optimisme meningkat dari 112,42 pada Juni menjadi 117,67 pada Juli 2026.
Ancaman El Nino Mengintai, Begini Strategi BI Solo Antisipasi Gejolak Ekonomi https://t.co/i2VSleMmWq
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) August 13, 2026
Angka di atas 100 menunjukkan masyarakat masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, pembelian barang tahan lama dan peluang lapangan kerja.
Peningkatan optimisme ini menjadi modal bagi dunia usaha untuk mempertahankan aktivitas ekonominya.
Karena itu, tantangan Solo Raya ke depan adalah menjaga agar momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu oleh persoalan pangan dan cuaca. //Sik
