![]() |
| Para wanita di Desa Serenan mendapat pelatihan membuat kerajinan dari limbah kayu |
Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026, tim dosen Program Studi Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengajak masyarakat mengubah limbah produksi mebel menjadi produk kriya bernilai ekonomi.
Program bertajuk “Batik Kayu sebagai Diversifikasi Produk Mebel melalui Pemanfaatan Limbah Kayu dan Pemberdayaan Keterampilan Membatik Istri Pengrajin Mebel Desa Serenan Klaten” tersebut berlangsung secara berkala sejak 19 Juni hingga 12 Agustus 2026.
Program ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan untuk mendorong hilirisasi hasil riset dan inovasi seni agar memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal.
Di Desa Serenan, program tersebut mempertemukan dua potensi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Di satu sisi, Serenan dikenal sebagai sentra industri mebel yang telah berkembang secara turun-temurun.
Di sisi lain, para istri pengrajin mebel memiliki keterampilan dasar membatik yang selama ini lebih banyak diterapkan pada media kain.
Kondisi itulah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi tim PISN ISI Surakarta untuk menghadirkan inovasi batik kayu.
Program diketuai Dr. Rahayu Adi Prabowo, M.Sn., bersama anggota Sutriyanto, S.Sn., M.A., dan Chici Yuliana Nadi, S.Pd., M.Pd.
Untuk memperkuat proses transfer pengetahuan, tim juga melibatkan tiga mahasiswa dan dua alumni ISI Surakarta sebagai asisten pelaksana.
Mereka berkolaborasi langsung dengan Sunarto, pemilik usaha mebel Kayonan Total Desain, selaku mitra lokal.
Sebanyak 27 peserta mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Para pengrajin pria mendapatkan edukasi mengenai pemilahan, pemotongan, hingga penghalusan limbah kayu agar dapat diolah menjadi media yang siap digunakan.
Sementara itu, para istri pengrajin mendapatkan pelatihan alih wahana, yakni memindahkan keterampilan membatik dari media kain ke permukaan kayu.
Namun, membatik di atas kayu bukan perkara sederhana.
Karakter kayu yang berbeda dengan kain membuat peserta harus memahami berbagai aspek, mulai dari arah serat, pori-pori, tingkat kekeringan kayu, hingga penyesuaian suhu lilin malam.
Pemahaman tersebut diperlukan agar proses pembatikan dan pewarnaan dapat menghasilkan produk yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu mempertahankan karakter alami kayu.
Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik pewarnaan estetis serta proses finishing. Tahapan terakhir ini penting untuk menjaga daya tahan sekaligus memperkuat tampilan produk yang dihasilkan.
Dari proses tersebut, limbah kayu yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi mulai berubah menjadi bahan baku produk kriya.
Pendampingan yang dilakukan secara intensif akhirnya menghasilkan sejumlah capaian penting bagi masyarakat Desa Serenan.
Pertama, dari sisi ekologi dan ekonomi, limbah sisa produksi mebel yang sebelumnya hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar kini dapat diolah menjadi produk kriya seni dengan nilai jual lebih tinggi.
Kedua, program ini melahirkan alih wahana kreatif. Para istri pengrajin tidak hanya mempertahankan keterampilan membatik yang telah mereka miliki, tetapi juga mendapatkan pengalaman baru untuk mengeksplorasi motif dan warna pada media kayu.
Ketiga, muncul diversifikasi produk. Produk yang dihasilkan tidak lagi terbatas pada mebel konvensional. Berbagai karya seperti wayang kayu, kotak tisu, hiasan dinding, jam dinding hingga gantungan kunci mulai dikembangkan.
Dengan demikian, batik kayu tidak hanya menjadi teknik baru, tetapi juga membuka kemungkinan lahirnya lini produk baru bagi masyarakat pengrajin mebel Serenan.
Dr. Rahayu Adi Prabowo menegaskan, program tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan produk baru.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem kerja kolaboratif yang dapat berkembang secara berkelanjutan.
Keterlibatan para istri pengrajin juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dengan keterampilan baru yang dimiliki, perempuan di lingkungan sentra mebel Serenan memiliki ruang lebih besar untuk berkontribusi terhadap perekonomian keluarga.
Di sisi lain, pemanfaatan limbah kayu membuat inovasi tersebut memiliki dimensi lingkungan. Limbah produksi yang sebelumnya terbuang dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai tambah.
Berdayakan Perempuan, Limbah Mebel Serenan Disulap Jadi Batik Kayu https://t.co/MTRydyZdzP
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) August 12, 2026
Bagi ISI Surakarta, pelaksanaan PISN 2026 di Serenan menjadi salah satu bentuk nyata implementasi Tridarma Perguruan Tinggi. Pengetahuan dan keterampilan yang berkembang di lingkungan kampus dibawa langsung untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Sinergi antara akademisi, pelaku usaha dan masyarakat tersebut sekaligus membuka peluang bagi Desa Serenan untuk tidak hanya dikenal sebagai sentra mebel, tetapi juga sebagai kawasan industri kreatif yang mampu berinovasi dengan memanfaatkan potensi lokal. //Bang
