![]() |
| Pastor Paroki Gereja Santo Pius X Karanganyar, Romo Tri Widodo melepas peserta Mlampah Ziarah menuju Gua Maria Matesih |
WARTAJOGLO, Karanganyar – Ratusan umat Katolik dari berbagai wilayah di sekitar Kabupaten Karanganyar mengikuti kegiatan bertajuk Mlampah Ziarah, pada Jumat 14 Agustus 2026 malam.
Bukan sekadar berjalan kaki, langkah mereka menyusuri dingin dan gelapnya malam menjadi bagian dari sebuah perjalanan spiritual untuk mendoakan negeri.
Kegiatan tersebut digelar Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Karanganyar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Sekitar 14 kilometer perjalanan ditempuh peserta dengan titik awal dari Gereja Paroki Santo Pius X Karanganyar menuju Gua Maria di Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Matesih.
Dengan membawa salib dan lilin elektrik, para peserta berjalan bersama dalam suasana doa.
Sebagian peserta juga membawa bendera Merah Putih. Simbol kebangsaan tersebut menjadi penanda bahwa perjalanan spiritual itu tidak terpisahkan dari refleksi atas perjalanan panjang bangsa Indonesia.
Bagi ISKA Karanganyar, Mlampah Ziarah bukan sekadar kegiatan jalan kaki ataupun agenda untuk memperingati kemerdekaan.
Perjalanan tersebut menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, melakukan permenungan, sekaligus memanjatkan doa bagi bangsa Indonesia.
Pastor Paroki Gereja Santo Pius X Karanganyar, Romo Tri Widodo, saat melepas rombongan peserta mengingatkan bahwa perjalanan tersebut hendaknya dilakukan dalam suasana doa.
“Malam hari ini kita akan bersama-sama melakukan Mlampah Ziarah ke Gua Maria di Matesih. Mlampah Ziarah ini dilaksanakan dalam suasana doa. Sebagai upaya memaknai kemerdekaan bangsa kita yang diperjuangkan dengan tumpahan darah oleh para pahlawan kita,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati masyarakat saat ini tidak datang begitu saja. Ada pengorbanan dan perjuangan para pahlawan yang harus terus dikenang.
Karena itu, perjalanan menuju Gua Maria dimaknai sebagai kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan bangsa sekaligus mendoakan masa depannya.
Romo Tri Widodo menyebut Mlampah Ziarah bersama ISKA Karanganyar dapat menjadi bentuk aksi sekaligus refleksi dalam momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Menurutnya, refleksi kebangsaan menjadi semakin penting ketika masyarakat dihadapkan pada berbagai persoalan kehidupan berbangsa.
“Kegiatan mlampah ziarah bersama ISKA ini bisa menjadi aksi dan refleksi pada HUT Kemerdekaan RI tahun ini, terutama karena banyak pejabat yang tidak mau mendengar suara rakyat,” kata Romo Tri.
Pernyataan tersebut menempatkan perjalanan spiritual ini dalam konteks yang lebih luas.
Doa tidak hanya dipanjatkan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi ungkapan kepedulian terhadap kondisi bangsa.
Di tengah perjalanan malam, peserta dari berbagai usia berjalan beriringan. Tidak ada sekat usia dalam perjalanan tersebut.
Mereka menyatukan langkah dalam suasana hening, membawa simbol-simbol iman dan kebangsaan.
Cahaya lilin elektrik tampak menemani langkah peserta yang membelah gelap malam.
Doakan Negeri Jelang HUT RI, Ratusan Umat Katolik Gelar Mlampah Ziarah ke Gua Maria Matesih https://t.co/7ksYNVFuSC
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) August 15, 2026
Salib yang dibawa dalam perjalanan menjadi simbol utama perjalanan iman, sementara kibaran Merah Putih mengingatkan bahwa mereka sedang berjalan dalam semangat memperingati kemerdekaan negeri.
Sesampainya di Gua Maria Gereja Santo Fransiskus Xaverius Matesih, para peserta lantas melakukan doa bersama demi terciptanya kedamaian dan kemakmuran di negeri tercinta Republik Indonesia.
