![]() |
| ISI Surakarta menggelar kegiatan Bincang Arsip #2 |
WARTAJOGLO, Solo – Sebuah karya seni bisa hilang dari panggung pertunjukan. Namun jejaknya tidak selalu benar-benar lenyap.
Di balik naskah tua, foto, catatan pertunjukan hingga dokumen yang tersimpan di berbagai lembaga, masih ada peluang untuk menghidupkan kembali warisan budaya yang nyaris terlupakan.
Kesadaran itulah yang mengemuka dalam Bincang Arsip #2 Tahun 2026 yang digelar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melalui UPA Dokumentasi dan Koleksi Seni (UPA Doksen) bekerja sama dengan Unit Kearsipan, pada kamis 27 Agustus 2026.
Mengangkat tema “Penyelamatan Warisan Budaya melalui Pengelolaan Arsip Kolaboratif”, forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sekaligus membuka peluang kerja sama dalam penyelamatan arsip seni dan budaya, khususnya di wilayah Solo Raya.
Sejumlah lembaga hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Dispersip/Disarpus/Dispusip se-Solo Raya, UPTD Museum Kota Surakarta, LKPT PTN Surakarta, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran, Museum Samanhoedi Surakarta, serta jajaran arsiparis ISI Surakarta.
Kepala UPA Dokumentasi dan Koleksi Seni ISI Surakarta, Irvan Muhamad Nursyahid, menegaskan bahwa arsip bukan sekadar dokumen yang disimpan dan ditata di ruang penyimpanan.
Menurutnya, arsip memiliki posisi strategis sebagai penjaga memori kolektif masyarakat. Karena itu, pengelolaannya tidak bisa dibebankan kepada satu lembaga saja.
“Pengelolaan arsip tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan sebagai penjaga dan pelestari agar arsip dapat diidentifikasi, diolah, serta dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber informasi,” ujarnya.
ISI Surakarta, lanjut Irvan, memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu penggerak kolaborasi tersebut melalui kegiatan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.
Wakil Rektor Bidang Akademik ISI Surakarta, Dr. Drs. H.M. Arif Jati Purnomo, M.Sn., yang membuka kegiatan, memberikan gambaran bagaimana arsip dapat menjadi jalan untuk menghidupkan kembali karya seni yang telah lama hilang dari ruang pertunjukan.
Ia mencontohkan Bedhaya Bedhah Madiun, sebuah karya adiluhung yang kini tinggal nama. Namun peluang untuk merekonstruksinya masih terbuka berkat keberadaan arsip, salah satunya naskah tua Serat Pesinden.
“Arsip bukan kuburan masa lalu, arsip adalah benih yang harus disirami,” tegasnya.
Menurut Arif, arsip menyimpan jejak perjalanan seni dan budaya yang dapat menjadi sumber penciptaan kembali. Karena itu, penyelamatan arsip yang dilakukan saat ini merupakan investasi bagi generasi mendatang.
“Arsip adalah DNA kebudayaan yang menyimpan jejak perjalanan seni dan budaya suatu bangsa. Upaya penyelamatan arsip saat ini adalah investasi masa depan,” katanya.
Pandangan tersebut mempertegas bahwa kehilangan arsip bukan sekadar kehilangan dokumen, tetapi juga berpotensi memutus mata rantai pengetahuan antargenerasi.
Dalam sesi diskusi, pemantik pertama Jamal, S.I.P., M.A., mengajak peserta melihat arsip sebagai bagian dari identitas budaya yang harus terus dihubungkan.
Ia menawarkan pendekatan post-custodial, yakni menggeser cara pandang dari persoalan siapa yang menyimpan arsip menuju bagaimana informasi dalam arsip tersebut dapat diakses, dikembangkan dan dimanfaatkan bersama.
“Sudah waktunya kita yang berada dalam ikatan DNA kebudayaan yang berdekatan saling membangun komunikasi untuk bertukar informasi,” jelasnya.
Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi Solo Raya yang memiliki banyak institusi dengan koleksi dan jejak sejarah yang saling berkaitan.
Arsip yang berada di satu lembaga bisa jadi memiliki keterhubungan dengan arsip di lembaga lain.
Jamal juga mendorong agar arsip-arsip yang selama ini bersifat wingit atau tersembunyi dapat diaktivasi.
Dalam konteks ini, arsiparis dituntut tidak hanya menjadi pengelola dokumen, tetapi juga memiliki kepekaan untuk menggali informasi yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu publik.
Sementara itu, pembicara kedua, Wahyu Widyasih, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya jejaring lintas sektor.
Jaga DNA Kebudayaan, ISI Surakarta Dorong Kolaborasi Selamatkan Arsip https://t.co/edyjWQzzbq
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) August 31, 2026
Perguruan tinggi, museum, perpustakaan, dinas kearsipan hingga komunitas seni dinilai memiliki sumber daya dan pengalaman berbeda yang justru dapat saling melengkapi.
“Bincang Arsip #2 ini diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi semata, tetapi menjadi momentum awal untuk membangun jejaring kolaborasi yang nyata,” tandasnya. //Kls
