TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Banyak Tuntunan Spiritual, Wali Kota Solo Dorong Kearifan Anand Krishna Masuk Kurikulum Sekolah

Ketua panitia Simposium Budaya, Iwan Santoso memberikan kenang-kenangan berupa buku karya Anand Krisnha kepada KGPH Adp Dipokusumo. Di sebelahnya tampak Wali Kota Surakarta sedang berbincang dengan Ketua Yayasan Anand Ashram usai menerima pemberian beberapa buku Anand Krisnha

WARTAJOGLO, Solo – Warisan pemikiran dan kearifan Nusantara dinilai tak cukup hanya disimpan dalam buku atau menjadi bahan diskusi kebudayaan. 

Di tengah persoalan kesehatan mental, bullying, kekerasan, hingga derasnya perubahan teknologi, nilai-nilai tersebut justru dinilai perlu ditanamkan sejak bangku sekolah.

Gagasan itu disampaikan Wali Kota Surakarta Respati Ardi saat menghadiri Simposium Budaya bertajuk “Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern”.

Simposium ini digelar Yayasan Anand Ashram di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Surakarta, pada Selasa 1 September 2026.

Respati bahkan membuka peluang agar nilai-nilai kearifan yang selama ini digaungkan Anand Krishna dapat masuk dalam pendidikan formal di Kota Solo.

“Kalau perlu nanti kita masukkan ke kurikulum sekolah. Di muatan lokalnya, di ekstrakurikulernya, itu harus ditambahkan seperti ini,” tegas Respati.

Menurutnya, pendekatan tersebut relevan dengan persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini. 

Anak-anak tidak hanya membutuhkan kecakapan akademik dan penguasaan teknologi, tetapi juga kemampuan mengelola emosi, membangun empati serta memiliki ketahanan mental.

“Karena akan melatih kesabaran dan kesehatan mental,” ujarnya.

Respati melihat persoalan generasi muda saat ini semakin kompleks. Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi tidak selalu berjalan beriringan dengan kematangan karakter.

Fenomena bullying dan kekerasan di kalangan anak muda menjadi salah satu persoalan yang menurutnya membutuhkan pendekatan berbeda.

Karena itu, ia menyambut positif gagasan tentang inner peace atau kedamaian diri yang menjadi salah satu pokok pemikiran Anand Krishna.

“Saya sangat senang sekali ada simposium Anand Krishna di sini, di mana banyak petuah-petuah yang luar biasa. Karena inner peace atau kedamaian itu penting sekali,” kata Respati.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membantu generasi muda menghadapi tekanan kehidupan.

“Leluhur kita banyak sekali meninggalkan serat-serat, meninggalkan ajaran-ajaran yang harusnya itu bisa diimplementasikan untuk generasi penerus kita,” ujarnya.

Simposium yang mengusung tema “Jejak Solo untuk Dunia” tersebut memang dirancang untuk melihat kembali posisi kearifan Nusantara dalam menghadapi persoalan manusia modern.

Nilai seperti gotong royong, tepa selira, eling lan waspada, dan memayu hayuning bawana digali kembali untuk melihat relevansinya dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Di tengah disrupsi Artificial Intelligence (AI), krisis kesehatan mental, ketidakstabilan geopolitik dan perubahan iklim, manusia dihadapkan pada tekanan yang datang hampir tanpa jeda.

Ketua panitia, Iwan Santoso, mengatakan kondisi tersebut menjadi alasan utama pihaknya menggelar simposium.

“Situasi sekarang ini semua stres. Mulai dari perubahan teknologi sendiri yang sangat cepat, AI sendiri mengubah cara kerja kita semua, terus geopolitik yang sedang panas dan berdampak ke ekonomi, setelah itu perubahan iklim juga bertubi-tubi,” katanya.

Menurut Iwan, berbagai tekanan tersebut membuat manusia seolah terus-menerus dibombardir informasi dan persoalan tanpa memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak.

Karena itu, pemikiran Anand Krishna kembali diangkat sebagai salah satu pintu masuk untuk menggali kearifan Nusantara yang dinilai masih relevan.

Anand Krishna, tokoh humanis, budayawan dan penulis lebih dari 200 buku, dikenal selama lebih dari lima dekade menggali berbagai sumber kebijaksanaan Nusantara, antara lain pemikiran Ronggowarsito, Serat Wedhatama dan Kitab Nitisastra.

Gagasan tersebut kemudian dirumuskan dalam tiga tahapan: Inner Peace, Communal Love, dan Global Harmony.

“Kita kalau ingin bahagia harus mencapai inner peace dulu. Setelah inner peace itu bisa ketemu, kita baru bisa melakukan communal love, berbagi dengan sesama, melayani sesama, dan dari situlah baru global harmony bisa tercipta,” terang Iwan.

Simposium tersebut tidak berhenti pada diskusi mengenai teori dan kebudayaan.

Para peserta juga diajak mempraktikkan salah satu teknik Meditasi NSE yang dirancang Anand Krishna.

Menurut Iwan, praktik tersebut menjadi bagian penting untuk menerjemahkan gagasan inner peace ke dalam pengalaman langsung.

“Ya, kita ingin mengajak warga Solo untuk menyadari ini kembali. Ada jeda sejenak dari pikiran yang selama ini tidak pernah berhenti, menyadari napas kita dan tentunya mengalami perasaan relaksasi dan menemukan keheningan,” katanya.

Dari keheningan itu, manusia diharapkan mampu berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan dan berinteraksi dengan lingkungan.

Guna memberikan wawasan lintas disiplin yang membumi, simposium menghadirkan berbagai tokoh strategis. 

Bertindak sebagai Keynote Speaker adalah Drs. KGPH Adp Panembahan Dipokusumo, M.Si., penerima Lifetime Achievement World Peace Award 2023. 

Diskusi yang dikonsep secara interaktif ini juga akan diperdalam oleh jajaran pakar dari sektor teknologi, psikologi, dan budaya.

Di antaranya: Dian Martin (Ketua Asosiasi Artificial Intelligence Indonesia) sebagai Moderator.

Kemudian Rin Widya Agustin, S.Psi., M.Psi. (Psikolog dan Dosen Universitas Sebelas Maret), Sumartono Hadinoto (Tokoh Inspiratif Kota Solo 2026 & Peraih Global Business & Peace Award 2018).

Serta RAy. Febri Hapsari Dipokusumo, S.Sos. (Director Hapsari PRCC & Past District Governor Rotary 3420) dan Assoc. Prof. Dr. Arbania Fitriani, S.Psi., M.Si. (Director Altia Group Consulting & Dosen Univ. Esa Unggul). //Sik

Type above and press Enter to search.