![]() |
| Sri Martuti Handayani (dua dari kiri) berfoto bersama dnegan para pembicara di acara Simposium Budaya bertajuk “Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern” |
WARTAJOGLO, Solo - Di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, tekanan psikologis masyarakat kian menjadi perhatian.
Perubahan teknologi, derasnya arus informasi, persoalan sosial, hingga ketidakpastian dunia membuat manusia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan beradaptasi.
Dibutuhkan kekuatan dari dalam diri agar tetap mampu menjaga keseimbangan.
Pesan itulah yang menjadi perhatian anggota DPRD Kota Surakarta dari Komisi IV, Sri Martuti Handayani, saat menghadiri Simposium Budaya bertajuk “Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern” yang digelar Yayasan Anand Ashram di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Surakarta, Selasa 1 September 2026.
Menurut Sri Martuti, simposium tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat Solo karena menawarkan pendekatan untuk menghadapi berbagai tekanan kehidupan dengan memperkuat kondisi jiwa.
Baginya, persoalan manusia modern tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik dan materi, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menjaga ketahanan mental ketika menghadapi berbagai tantangan.
“Acara ini menurut saya sangat berarti untuk warga Solo khususnya. Karena apa yang disampaikan beliau adalah tidak mudah menghadapi tantangan kehidupan yang saat ini, di era situasi alam dan banyak tekanan,” ujarnya.
Sri Martuti menilai, tanpa kekuatan jiwa yang cukup, berbagai tekanan kehidupan dapat berdampak terhadap kondisi psikologis seseorang.
“Apabila tidak kuat di jiwanya, akan mengarah ke gangguan jiwa,” katanya.
Pernyataan Sri Martuti tersebut menjadi semakin relevan ketika persoalan kesehatan mental mulai menjadi perhatian serius di berbagai daerah, termasuk Kota Solo.
Ia menyebut, saat ini terdapat sekitar 360 masyarakat di Kota Solo yang mengalami gangguan jiwa.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia tidak cukup hanya berorientasi pada aspek ekonomi maupun fisik.
Diperlukan upaya untuk membangun keseimbangan antara pikiran, perasaan dan kesadaran manusia.
Menurut Sri Martuti, simposium yang mengangkat kembali nilai-nilai kearifan Nusantara menjadi salah satu ruang untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, sesama dan alam semesta.
“Ini momen yang sangat menentukan, menyeimbangkan antara jiwa kita dengan menyatukan jiwa kita dengan alam semesta,” ungkapnya.
Dengan keseimbangan tersebut, masyarakat diharapkan memiliki energi positif untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Agar supaya kita dalam menghadapi tantangan apapun bisa selaras dan seimbang, dan mendapatkan kekuatan untuk terus melangkah menghadapi kehidupan yang memang harus kita jalani,” imbuhnya.
Simposium yang digelar Yayasan Anand Ashram tersebut memang berangkat dari kegelisahan terhadap kondisi manusia modern yang menghadapi berbagai perubahan besar.
Mulai dari disrupsi Artificial Intelligence (AI), krisis kesehatan mental, perubahan iklim hingga situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian.
Melalui tema “Jejak Solo untuk Dunia”, kegiatan tersebut mencoba menggali kembali nilai-nilai luhur Nusantara seperti gotong royong, tepa selira, eling lan waspada, serta memayu hayuning bawana sebagai bekal menghadapi kehidupan modern.
Ketua panitia, Iwan Santoso, mengatakan masyarakat saat ini hidup dalam situasi yang membuat pikiran seolah tidak pernah berhenti.
“AI sendiri mengubah cara kerja kita semua, geopolitik yang sedang panas dan akhirnya berdampak ke ekonomi, kemudian perubahan iklim juga bertubi-tubi. Semua orang sekarang selalu dibombardir situasi ini sehingga pikirannya tidak pernah ada jedanya,” ujarnya.
Karena itu, simposium tersebut mencoba menghadirkan kembali gagasan Anand Krishna, tokoh humanis, budayawan dan penulis asal Solo yang selama lebih dari lima dekade menggali kebijaksanaan Nusantara.
Pemikiran Anand Krishna tersebut dirangkum dalam tiga tahapan, yakni Inner Peace (kedamaian diri), Communal Love (kepedulian bersama), dan Global Harmony (harmoni semesta).
Menurut Iwan, manusia perlu menemukan kedamaian dalam dirinya terlebih dahulu sebelum mampu membangun hubungan yang lebih baik dengan lingkungan sekitar.
“Setelah inner peace itu ketemu, kita baru bisa melakukan communal love, berbagi dengan sesama, melayani sesama, dan dari situlah global harmony bisa tercipta,” katanya.
Dalam simposium tersebut, peserta juga diajak mengalami langsung salah satu teknik Meditasi NSE rancangan Anand Krishna.
Hadiri Simposium Budaya, Sri Martuti: Ajaran Anand Krisnha bisa Menguatkan Jiwa di Tengah Tekanan Jaman https://t.co/HV1u2lFt0C
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) September 1, 2026
Praktik tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman langsung tentang pentingnya berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan.
Menurut Iwan, manusia membutuhkan ruang untuk menyadari kembali keberadaan dirinya.
“Ada jeda sejenak dari pikiran yang selama ini tidak pernah berhenti, menyadari napas kita, mengalami relaksasi dan menemukan keheningan, sehingga kita bisa berpikir lebih jernih,” jelasnya. //Sik
