![]() |
| Para peserta turnamen bermain dengan latar belakang Gunung Merapi yang indah |
WARTAJOGLO, Yogyakarta – Turnamen Golf Piala Wali Kota Surakarta 2026 kembali menjadi magnet bagi para pecinta olahraga golf di Indonesia.
Digelar di Merapi Golf Yogyakarta, Sabtu 5 September 2026, ajang ini tidak hanya menghadirkan persaingan di lapangan hijau, tetapi juga menawarkan sejumlah daya tarik yang membuatnya dinanti para golfer dari berbagai daerah.
Salah satu faktor utama yang membuat turnamen ini memiliki daya tarik kuat adalah besarnya hadiah yang disiapkan.
Ketua Persatuan Golf Indonesia (PGI) Kota Solo, Nugroho Arif Darmawan, menyebut Piala Wali Kota Surakarta menjadi salah satu turnamen yang cukup ditunggu karena menawarkan hadiah yang kompetitif dibanding event sejenis.
"Tahun ini memang lebih membludak karena banyak permintaan. Piala Wali Kota ini istilahnya dinanti-nanti karena hadiahnya kalau dibanding dengan yang lain cukup besar. Grand prize-nya menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu," ujar Arif saat ditemui di sela-sela acara.
Daya tarik tersebut terbukti dari jumlah peserta yang mencapai 156 golfer. Mereka tidak hanya datang dari wilayah Solo Raya maupun Yogyakarta, tetapi juga berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kalimantan.
Namun, Piala Wali Kota Surakarta Golf 2026 tidak hanya mengandalkan hadiah sebagai daya tarik.
Turnamen ini membawa misi sosial melalui kerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta.
Arif menjelaskan, sebagian keuntungan dari penyelenggaraan event tersebut akan dialokasikan untuk kegiatan sosial.
"Kita ingin menggerakkan dan memasyarakatkan olahraga golf. Selain itu kita bekerja sama dengan Pemkot Surakarta, nanti sebagian keuntungan event ini akan kita sumbangkan untuk sosial. Tahun lalu juga sudah pernah kita lakukan," jelasnya.
Konsep tersebut membuat turnamen ini memiliki nilai lebih dibanding sekadar ajang mencari pemenang.
Golf diposisikan sebagai olahraga yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Daya tarik lain dari turnamen ini adalah semangat pembinaan atlet masa depan. PGI Solo melihat semakin banyaknya masyarakat yang mengenal golf sebagai peluang untuk melahirkan generasi baru pegolf Indonesia.
Menurut Arif, mayoritas peserta saat ini memang merupakan golfer yang bermain karena hobi. Namun dari komunitas tersebut, potensi atlet muda dapat mulai tumbuh.
"Ini lebih banyak pegolf hobi. Kita ingin dari mereka yang gemar bermain golf, nantinya bisa menurunkan minat itu kepada anak-anaknya. Dari situ pembibitan atlet junior bisa lebih bagus," ujarnya.
Bagi PGI, penyelenggaraan turnamen bukan semata-mata mencari keuntungan, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga golf.
"Jadi bukan sekadar penyelenggaraan event untuk mencari keuntungan, tetapi kita juga ingin menumbuhkan minat golf di kalangan anak-anak muda," imbuhnya.
Piala Wali Kota Surakarta Golf 2026 juga tampil berbeda dengan menggandeng pihak penyelenggara independen melalui SHA dan dukungan BNI sebagai sponsor utama.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membawa turnamen ini naik kelas dan memiliki konsep yang semakin menarik pada tahun-tahun mendatang.
Arif bahkan membayangkan ke depan turnamen ini tidak hanya menjadi pertandingan golf, tetapi juga paket pengalaman wisata bagi para peserta.
"Kita ingin nanti ada event yang menarik untuk pegolf. Sebelum mereka bermain, mungkin mereka datang ke Solo dulu, menginap, ada gathering, dinner, bahkan bisa bertemu dengan Wali Kota," ungkapnya.
Konsep tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan Solo lebih jauh, tidak hanya sebagai kota budaya, tetapi juga sebagai bagian dari perkembangan sport tourism.
Daya tarik Piala Wali Kota Surakarta Golf 2026 juga mendapat apresiasi dari Kementerian Pariwisata.
Asisten Deputi Bidang Event Nasional Kementerian Pariwisata, Ni Komang Ayu Astiti, menilai turnamen golf memiliki dampak besar terhadap pergerakan wisatawan.
Menurutnya, peserta golf biasanya tidak datang sendiri, tetapi bersama keluarga, sehingga memberikan dampak ekonomi bagi berbagai sektor.
"Kegiatan ini diikuti banyak golfer dari luar daerah Solo-Jogja, sehingga meningkatkan pergerakan wisatawan. Mereka biasanya mengajak keluarga dan rata-rata tinggal lebih dari satu hari," ujarnya.
Dampak tersebut dirasakan mulai dari sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga destinasi wisata di sekitar Solo dan Yogyakarta.
"Multiplier effect-nya terasa bagi masyarakat, baik dari akomodasi hotel, transportasi, kuliner, maupun promosi destinasi," tambahnya.
Jadi Magnet Sport Tourism, Turnamen Golf Piala Wali Kota Surakarta Sedot Ratusan Peserta https://t.co/6FEHx7CgNw
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) September 5, 2026
Ni Komang menambahkan, Kementerian Pariwisata terus mendorong kolaborasi antar-stakeholder agar event olahraga seperti golf dapat berlangsung secara berkelanjutan.
"Sport tourism saat ini menjadi tren yang cukup besar. Setelah pandemi, wisatawan semakin mencari aktivitas yang berkaitan dengan kebugaran dan kesehatan. Karena itu wisata olahraga menjadi salah satu sektor yang digemari masyarakat," pungkasnya. //Sik
