TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Menjaga Kearifan Lokal Demi Mewujudkan Harmoni Global

RAy. Febri Hapsari Dipokusumo menerima hadiah buku The Art of Happiness karya Anand Krisnha dari Yayasan Anand Ashram

WARTAJOGLO, Solo – Di tengah riuh rendah dunia yang kerap kali membiarkan perbedaan bermuara pada pertentangan, harmoni menjadi sebuah kebutuhan mendesak bagi kelangsungan peradaban.

Terkait hal itu, RAy. Febri Hapsari Dipokusumo, Direktur Hapsari PRCC sekaligus Past District Governor Rotary 3420, memberikan perspektif yang mencerahkan. 

Dalam Simposium Budaya bertajuk “Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern” yang digelar Yayasan Anand Ashram di Bale Pangenggar, Selasa 1 September 2026, Febri menegaskan bahwa harmoni bukanlah tentang penyeragaman.

Simposium budaya ini sendiri digelar untuk mengenang perjalanan mendiang Anand Krisnha, yang selalu menebarkan spirit perdamaian di sepanjang sisa hidupnya. 

“Harmoni bukan sebuah keseragaman. Justru perbedaanlah yang membuat kita menjadi seimbang,” tegasnya di hadapan para hadirin.

Menurut Febri, upaya membangun global harmony sering kali keliru jika hanya bertumpu pada negosiasi politik atau lembaga internasional. 

Sebab fondasi sesungguhnya harus dibangun dari unit terkecil, yakni diri manusia itu sendiri.

Ia mengingatkan bahwa marah, kecewa, dan perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam kehidupan. 

Kuncinya bukan pada menghindari konflik, melainkan pada kemampuan mengelola emosi dan mencari jalan tengah.

“Harmoni berangkat dari bagaimana peace within you (damai dalam diri Anda). Semuanya harus dimulai dari manusia dan kemampuannya berdamai dengan diri sendiri,” ujarnya.

Dari refleksi diri, Febri menarik benang merah ke konteks kota tempatnya berpijak yakni Solo. 

Ia menilai, Solo memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat untuk menawarkan konsep harmoni bagi dunia.

Modal ini bukanlah sesuatu yang perlu diciptakan dari nol, melainkan warisan leluhur yang masih hidup. 

Pengakuan UNESCO terhadap Gamelan, Keris, dan Wayang, serta mendunianya Batik, adalah bukti nyata bahwa kearifan Solo memiliki relevansi universal. 

Febri sendiri turut andil dalam sejarah tersebut sebagai salah satu dari 12 anggota Tim Nasional yang memperjuangkan pengakuan UNESCO untuk Kebaya.

“Solo sudah membuktikan pada dunia dengan warisan-warisan budaya takbenda ini. Namun, tugas Solo tidak berhenti pada eksistensi fisik atau pengakuan dunia," kata Febri.

Menurut istri dari Pengageng Parentah Keraton Surakarta Hadiningrat ini, tantangan terbesar Solo adalah menjaga "roh" atau nilai-nilai di balik kebudayaan tersebut, agar tidak tergerus zaman.

“Silakan modern, tetapi local wisdom, kearifan lokal harus tetap dijaga,” pesannya.

Dalam perjalanan penciptaan harmoni global, Febri menempatkan perempuan sebagai aktor sentral. 

Sebagai Ketua Forum Perempuan Berdaya Kota Surakarta dan penerima Gender Champion pertama pada 2018, ia melihat peran perempuan melebihi sekadar pelengkap.

Bagi Febri, kualitas seorang perempuan berbanding lurus dengan kualitas generasi penerus bangsa. 

Ia mengajak perempuan muda untuk tidak hanya menjaga diri, tetapi juga menyadari posisi strategis mereka dalam membentuk karakter manusia masa depan.

“Mendidik perempuan adalah mendidik generasi. Kalau perempuan pintar, insyaallah generasi ke depannya akan pintar,” tandasnya. //Sik

Type above and press Enter to search.