![]() |
| Rektor UNISRI menyerahkan vandel kepada Camat Gemolong untuk menandai penarikan mahasiswa KKN dari wilayah Sragen |
WARTAJOGLO, Sragen — Setelah 50 hari berbaur dan mengabdi di tengah masyarakat, sebanyak 1.446 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta resmi ditarik dari 11 kecamatan di Kabupaten Sragen, Senin 31 Agustus 2026.
Prosesi penarikan dipimpin langsung oleh Rektor UNISRI, Prof. Sutoyo, M.Pd, sebagai tanda berakhirnya rangkaian program pengabdian mahasiswa yang menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Sebelas kecamatan yang menjadi lokasi KKN UNISRI periode ini meliputi Jenar, Plupuh, Mondokan, Gemolong, Gesi, Kalijambe, Sumberlawang, Tangen, Miri, Sukodono, dan Tanon.
Selama berada di lokasi, para mahasiswa menjalankan berbagai program yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat serta membantu menyelesaikan berbagai persoalan di tingkat desa.
Camat Gemolong, Nugroho Dwi Wibowo, S.STP, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa UNISRI selama menjalankan program KKN di wilayahnya.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa selama 50 hari tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi para mahasiswa dalam memahami kehidupan sosial secara langsung.
“Selama 50 hari di sini mahasiswa bisa menjadikan pengalaman berharga untuk diri sendiri dan masyarakat. Kami atas nama masyarakat Gemolong mengucapkan terima kasih karena dengan adanya mahasiswa KKN UNISRI di Gemolong menjadi lebih baik,” ujar Nugroho.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam mendukung program Dandan Omah yang digagas Pemerintah Kabupaten Sragen.
Berkat sinergi berbagai pihak, termasuk mahasiswa KKN, Kecamatan Gemolong mampu meningkatkan capaian dalam program tersebut.
“Dengan adanya bantuan mahasiswa KKN UNISRI, Gemolong bisa menorehkan prestasi dari rangking 20 menjadi rangking 7,” ungkapnya.
Nugroho berharap hubungan baik antara UNISRI dan masyarakat Gemolong dapat terus terjalin. Ia pun mengajak mahasiswa untuk tidak melupakan wilayah yang pernah menjadi tempat pengabdian mereka.
“Jangan lupakan Gemolong dengan 10 desa dan 4 kelurahan. Silakan kembali lagi untuk mengabdi dan bersilaturahmi,” pesannya.
Sementara itu, Rektor UNISRI Prof. Sutoyo, M.Pd, menegaskan bahwa KKN merupakan salah satu bentuk nyata peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga memahami dinamika dan kebutuhan masyarakat secara langsung.
“KKN merupakan wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi dan pembelajaran langsung di tengah masyarakat. Melalui KKN ini mahasiswa belajar bersosialisasi, memahami persoalan masyarakat, dan mengaplikasikan ilmu yang didapat di kampus,” kata Prof. Sutoyo.
Ia berharap pengalaman selama 50 hari tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika kelak terjun dan mengabdi di masyarakat yang lebih luas.
Lebih jauh, Prof. Sutoyo mengungkapkan rencana pengembangan program pengabdian UNISRI ke depan.
Setelah menyelesaikan program KKN di wilayah Solo Raya, UNISRI akan memperluas cakupan pengabdian melalui program KKN Jawa Tengah.
“Setelah program KKN di Solo Raya selesai, kami juga akan memprogramkan KKN Jawa Tengah, agar jangkauan pengabdian UNISRI semakin luas dan manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak masyarakat,” tegasnya.
Rangkaian Program Pengabdian Berakhir, Ribuan Mahasiswa UNISRI Ditarik dari Lokasi KKN https://t.co/s124Pz9Zb2
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) September 1, 2026
Kegiatan penarikan KKN ditutup dengan penyerahan vandel secara simbolis dari Rektor UNISRI kepada perwakilan pemerintah kecamatan.
Penyerahan tersebut menjadi bentuk apresiasi dan terima kasih atas dukungan pemerintah serta masyarakat selama mahasiswa menjalankan program pengabdian. //Sik
