TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Dekat Bandara, Solo Urbana Bolon Tawarkan Hunian Mewah dengan Harga Murah

Andy Nathanael sedang menyampaikan gambaran tentang proyek Solo Urbana Bolon kepada perwakilan agen property

WARTAJOGLO, Karanganyar — Kawasan sekitar Bandara Adi Soemarmo dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang semakin menarik. 

Kondisi tersebut mendorong PT Agungtex Land mengembangkan Solo Urbana Bolon, hunian modern yang menyasar masyarakat kelas menengah atas di kawasan Solo Raya.

Berada di Desa Bolon, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Solo Urbana Bolon diperkenalkan kepada jaringan agen properti Solo Raya melalui agency gathering yang digelar di lokasi proyek, pada Senin 10 Agustus 2026.

Konsultan properti yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut, Andy Nathanael, mengatakan kedekatan dengan bandara menjadi salah satu pertimbangan utama pengembang dalam memilih Bolon sebagai lokasi pengembangan.

"Bolon ini dekat sekali dengan airport. Jaraknya kurang dari enam kilometer," ujar Andy saat ditemui di sela-sela acara.

Menurut dia, keberadaan bandara bukan hanya berkaitan dengan akses transportasi udara. Dalam jangka panjang, kawasan di sekitar bandara berpotensi berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.

Pertumbuhan tersebut dapat terlihat dari munculnya kebutuhan hotel, gudang, pusat distribusi hingga hunian bagi para pekerja yang beraktivitas di sekitar bandara.

"Setiap kawasan yang dekat dengan airport itu biasanya akan bergairah. Akan ada pertumbuhan hotel, gudang, distribusi dan juga kebutuhan tempat tinggal karena ada orang-orang yang bekerja di airport," jelasnya.

Andy menambahkan, potensi tersebut akan semakin besar apabila aktivitas penerbangan internasional di Bandara Adi Soemarmo kembali berkembang. 

Kondisi itu diyakini akan mendorong semakin banyak aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di kawasan Solo Raya bagian barat.

"Kalau jalur internasionalnya sudah dibuka lagi, tentu akan lebih ramai. Solo juga pertumbuhannya luar biasa besar," katanya.

Melihat potensi tersebut, Solo Urbana Bolon tidak sekadar menawarkan rumah sebagai tempat tinggal, tetapi menghadirkan konsep hunian yang menyasar konsumen dengan kebutuhan dan daya beli lebih tinggi.

Dibangun di atas lahan sekitar 1,8 hektare, kawasan ini hanya menyediakan 99 unit rumah dan 8 unit ruko. 

Jumlah unit yang terbatas tersebut menjadi bagian dari konsep pengembangan kawasan agar tetap eksklusif.

Seluruh rumah dirancang dua lantai dengan gaya arsitektur modern. Tersedia pilihan lebar bangunan 7, 8 dan 9 meter dengan tiga kamar tidur.

Untuk ukuran 7x12 meter, harga rumah ditawarkan mulai Rp825 juta, sementara unit lainnya berada dalam rentang hingga sekitar Rp1,3 miliar.

"Semua tiga kamar tidur, dua lantai, sehingga rumah terlihat mewah tetapi harganya masih relatif murah, bila dibandingkan dengan rumah-rumah sekelasnya di tempat lain," ujar Andy.

Tidak hanya mengandalkan tampilan bangunan, pengembang juga membekali kawasan dengan sejumlah fasilitas yang menjadi nilai tambah bagi konsumen kelas menengah atas.

Di antaranya jaringan listrik bawah tanah, air PDAM serta row jalan minimal tujuh meter.

Konsep tersebut dipadukan dengan lokasi yang berada di wilayah Colomadu, salah satu kawasan yang selama beberapa tahun terakhir berkembang pesat.

"Bolon berada di Colomadu. Orang Solo tentu tahu Colomadu sedang berkembang pesat," katanya.

Andy mengatakan, target utama Solo Urbana Bolon bukan semata-mata investor. Pengembang justru ingin menyasar masyarakat yang membutuhkan hunian di kawasan yang memiliki prospek pertumbuhan.

Meski demikian, karakter lokasi yang dekat bandara membuat properti tersebut tetap memiliki daya tarik dari sisi investasi.

"Target market kita adalah orang yang butuh tempat tinggal, bukan orang yang investasi. Tetapi di Indonesia, namanya tempat tinggal tentu juga berinvestasi," ujarnya.

Dengan kata lain, konsumen tidak hanya mendapatkan rumah untuk ditempati, tetapi juga berada di kawasan yang berpotensi mengalami perkembangan ekonomi dan peningkatan aktivitas dalam jangka panjang.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan pengembang optimistis dengan proyek Solo Urbana Bolon.

Untuk menarik konsumen pada tahap awal pemasaran, pengembang memberikan penawaran khusus selama Agustus 2026.

Rumah dengan harga mulai Rp825 juta tersebut sudah mendapatkan free BPHTB dan free kanopi. 

Penawaran tersebut tidak lagi diberikan mulai September 2026, bersamaan dengan rencana kenaikan harga.

Menurut Andy, keuntungan berupa pembebasan BPHTB menjadi salah satu insentif yang cukup signifikan mengingat komponen BPHTB dapat mencapai sekitar lima persen setelah memperhitungkan nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak.

"Kesempatan di bulan Agustus ini harganya murah sekali. Boleh dibandingkan dengan kompetitor di sekitar kita. Harga kita ini kompetitif dengan konsep yang terbaik," katanya.

Untuk memperluas pemasaran, Agungtex Land menggandeng jaringan agen properti di Solo Raya.

Sejumlah agency seperti Promex, Brighton, ERA, dan jaringan lainnya hadir dalam agency gathering tersebut. 

Menurut Andy, agen memiliki peran penting karena dapat menjangkau calon konsumen melalui jaringan masing-masing.

Pengembang sendiri tetap memiliki tim in-house, namun pemasaran melalui agen menjadi strategi untuk memperluas penetrasi pasar.

"Kita ada in-house, kita juga ada agen. Agen membantu mengomunikasikan kepada konsumen mereka yang ingin membeli atau tertarik tinggal di daerah Bolon," jelasnya.

Sementara itu pembangunan Solo Urbana Bolon ditargetkan berlangsung selama sekitar 18 bulan. 

Dengan jumlah hanya 99 unit, pengembang optimistis seluruh hunian dapat terserap pasar. //Kls

Type above and press Enter to search.