TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Disulap Jadi Sawah Produktif, Lahan Eks Rob di Pekalongan Hasilkan Padi Biosalin

Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Tegal bersama Pemerintah Kota Pekalongan menggelar kegiatan “Panen Demfarm Smart Farming Padi Biosalin dan Penyerahan Wakaf Produktif untuk Kemandirian Pangan Benih Padi Unggulan”

WARTAJOGLO, Pekalongan – Ancaman perubahan iklim dan meluasnya dampak rob di kawasan pesisir tidak menyurutkan langkah untuk menjaga ketahanan pangan. 

Justru dari lahan yang sebelumnya dianggap sulit dimanfaatkan, lahir inovasi pertanian yang diharapkan mampu menjadi solusi masa depan. 

Transformasi tersebut terlihat dalam kegiatan “Panen Demfarm Smart Farming Padi Biosalin dan Penyerahan Wakaf Produktif untuk Kemandirian Pangan Benih Padi Unggulan” yang digelar Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Tegal bersama Pemerintah Kota Pekalongan, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan yang digelar di Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan tersebut, dihadiri Wali Kota Pekalongan H. Achmad Afzan Arslan Djunaid, S.E., M.M., jajaran Forkopimda, unsur lembaga daerah, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pekalongan, Dompet Dhuafa Jawa Tengah, serta para kelompok tani.

Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Tegal, Bimala, menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar seremoni panen. 

Menurutnya, Demfarm Smart Farming Padi Biosalin menjadi upaya nyata untuk menguji kemampuan lahan eks rob agar kembali menjadi lahan baku sawah produktif dengan pendekatan teknologi pertanian adaptif perubahan iklim.

“Ini bukan hanya panen, tetapi bagaimana kita mengembalikan lahan eks rob yang sebelumnya menghadapi persoalan salinitas dan penurunan produktivitas menjadi lahan pertanian yang produktif,” ujar Bimala.

Pada program Demfarm tahun 2026, KPwBI Tegal memperluas kawasan percontohan hingga 3,5 hektare dengan menerapkan konsep Climate Smart Agriculture (CSA) secara menyeluruh, mulai dari pemulihan tanah hingga proses pemanenan.

Salah satu tantangan terbesar lahan eks rob adalah tingginya kadar garam yang menghambat pertumbuhan tanaman. 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, dilakukan proses remediasi tanah menggunakan kombinasi biochar, dekomposer, serta pupuk kompos kohe.

Teknologi tersebut dipadukan dengan penggunaan varietas padi tahan salin seperti Biosalin 1, Biosalin 2, dan IPB 11S BePe. 

Selain itu, modernisasi pertanian juga diterapkan melalui penggunaan alat mesin pertanian seperti traktor tangan, rice transplanter, sensor tanah real-time, hingga drone sprayer.

“Kolaborasi di lahan biosalin ini semakin berkembang. Awalnya hanya satu kelompok tani, kini bertambah menjadi empat kelompok dengan jumlah anggota lebih dari 70 petani. Luasan lahannya juga meningkat menjadi 56 hektare,” jelas Bimala.

Tidak hanya memperluas areal tanam, produktivitas lahan juga menunjukkan hasil positif. Hasil panen padi biosalin tercatat mampu mencapai lebih dari rata-rata produktivitas nasional.

“Produktivitasnya sudah berada di atas rata-rata nasional, yakni sekitar 6,6 ton per hektare, sementara rata-rata nasional sekitar 6,3 ton per hektare,” ungkapnya.

Menurut Bimala, keberhasilan tersebut membuka peluang besar bagi Kota Pekalongan untuk menjadi pusat pengembangan benih padi salin. 

Apalagi, kawasan Pantura memiliki banyak wilayah yang menghadapi persoalan serupa akibat perubahan iklim dan intrusi air laut.

Rencana Pemerintah Kota Pekalongan untuk membangun pusat pembenihan padi biosalin pun mendapat apresiasi. 

Keberadaan pusat pembenihan tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung kebutuhan benih bagi lahan eks rob di berbagai daerah pesisir.

Sementara itu, Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid menyampaikan apresiasi atas dukungan KPwBI Tegal dalam pengembangan pertanian biosalin.

Menurutnya, saat ini sudah terdapat 56 hektare lahan yang berhasil ditanami dan dipanen. Capaian tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan Kota Pekalongan.

“Dengan dukungan BI Tegal, saat ini sudah 56 hektare lahan yang tanam dan panen. Ini patut kita syukuri karena menjadi bagian dari upaya menunjang ketahanan pangan di Kota Pekalongan,” kata Afzan.

Pemkot Pekalongan, lanjutnya, juga akan berupaya merealisasikan pusat pembenihan padi biosalin. Saat ini proses pembenihan masih dilakukan di Kota Bogor, sehingga ke depan diharapkan Pekalongan dapat menjadi sentra pembenihan sendiri.

“Produksi benih ditargetkan mencapai 800 hingga 1.000 kilogram benih sebar bersertifikat. Jumlah tersebut diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan penanaman sekitar 35 hingga 40 hektare lahan di Pekalongan dan sekitarnya,” jelasnya.

Selain menggabungkan teknologi pertanian, program ini juga membawa pendekatan ekonomi syariah dan pemberdayaan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, diserahkan dana wakaf produktif sebesar Rp74 juta.

Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pekalongan, Andy Arslan Djunaid, mengatakan dana tersebut dihimpun melalui program Syafaat x Bubur Suro 2026 yang merupakan hasil sinergi antara KPwBI Tegal, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan, MES Kota Pekalongan, serta Dompet Dhuafa Jawa Tengah.

“Dana ini tidak sekadar menjadi bantuan sesaat, tetapi diarahkan sebagai instrumen pemberdayaan untuk memperkuat dampak sosial ekonomi masyarakat dan membuka peluang penghidupan baru bagi petani,” tandas Andy. //Sik


Type above and press Enter to search.