TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Sukses Lakukan Operasi Implan Koklea, RS JIH Solo Buka Harapan bagi Anak dengan Gangguan Pendengaran

 

Para pembicara dalam konferensi pers kesuksesan RS JIH melakukan tindakan operasi implan koklea berfoto bersama

WARTAJOGLO, Solo – Harapan baru bagi anak-anak dengan gangguan pendengaran hadir di Kota Solo. 

Ini setelah Rumah Sakit JIH Solo berhasil melakukan tindakan operasi implan koklea terhadap seorang bocah perempuan bernama Aisyah, yang mengalami gangguan pendengaran sejak bayi.

Tindakan operasi tersebut dilakukan pada Sabtu 8 Agustus 2026 pagi. 

Keberhasilan ini sekaligus menandai hadirnya layanan implan koklea di Rumah Sakit JIH Solo, yang diklaim menjadi satu-satunya rumah sakit swasta di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang melakukan tindakan tersebut.

Direktur Medik dan Keperawatan RS JIH Solo, dr. Wisnu Prima Putra, M.Kes., mengatakan keberhasilan operasi tersebut menjadi momentum istimewa sekaligus membanggakan bagi rumah sakit.

“Alhamdulillah hari ini kita telah berhasil melakukan tindakan implan koklea. Kami sampaikan terima kasih kepada tim dokter spesialis THT dan yang lainnya. Kita berharap ke depannya quality of life dari pasien bisa meningkat,” ujarnya di hadapan awak media.

Menurut Wisnu, gangguan pendengaran bukan sekadar persoalan hilangnya kemampuan seseorang untuk mendengar. 

Terlebih pada anak-anak, kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap kemampuan komunikasi, perkembangan bahasa, proses belajar, interaksi sosial hingga kualitas hidup.

Karena itu, keberadaan layanan kesehatan yang komprehensif menjadi semakin penting untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini.

“Harapan kami tentunya dengan keberhasilan ini bisa meningkatkan kepercayaan para sahabat RS JIH Solo kepada kami,” katanya.

Sementara itu dokter spesialis telinga, hidung, tenggorok, bedah kepala dan leher RS JIH Solo, dr. Dimas Adinugroho, Sp.T.H.T.B.K.L.yang memimpin jalannya operasi, menjelaskan bahwa waktu menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan anak dengan gangguan pendengaran.

Menurutnya, pemasangan implan koklea pada anak sebenarnya dapat dilakukan sejak usia sangat dini apabila gangguan pendengaran sudah terdeteksi.

“Mulai sejak lahir bisa. Yang menjadi standar sebenarnya pada anak-anak yang mengalami gangguan sejak lahir itu standarnya adalah umur 6 bulan,” jelasnya.

Di negara-negara dengan sistem deteksi pendengaran yang baik, lanjut Dimas, gangguan pendengaran bahkan dapat diketahui sejak bayi baru lahir. 

Dalam kondisi tertentu, tindakan pemasangan implan pun dapat dilakukan lebih awal.

Namun, Dimas menyebut usia sembilan bulan masih menjadi patokan yang tergolong baik. 

Persoalannya, di Indonesia banyak kasus gangguan pendengaran baru diketahui ketika anak sudah berusia satu tahun atau lebih.

“Sebisa mungkin kita lakukan sebelum umur lima tahun,” tegasnya.

Penanganan sedini mungkin penting karena kemampuan mendengar memiliki hubungan erat dengan perkembangan bahasa dan komunikasi anak.

Salah satu kekhawatiran yang mungkin muncul dari orang tua adalah apakah perangkat implan yang dipasang ketika anak masih kecil harus dibongkar dan diganti ketika anak bertambah besar.

Dimas menjelaskan hal tersebut tidak diperlukan, sebab bagian elektroda implan yang dimasukkan ke dalam koklea atau rumah siput dirancang mengikuti struktur dan lengkungan koklea.

“Elektroda itu semacam kabel yang nanti masuk ke dalam rumah siputnya, kokleanya. Dia akan mengikuti lengkungnya, mengikuti pertumbuhan dari rumah siputnya,” terangnya.

Dengan demikian, perangkat tersebut tidak perlu dibongkar hanya karena anak mengalami pertumbuhan fisik.

Public Relations RS JIH Solo, Adil Erdita Ayu Marta, mengatakan hadirnya layanan implan koklea di rumah sakit tersebut, diharapkan dapat menjadi harapan baru bagi masyarakat, khususnya pasien dengan gangguan pendengaran.

“Kami segenap manajemen Rumah Sakit JIH Solo berharap bahwa layanan ini dapat menjadi harapan baru bagi pasien dengan gangguan pendengaran, untuk memperoleh kesempatan mendengar kembali, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan dengan kualitas yang lebih baik,” ujarnya.

Keberhasilan tindakan terhadap Aisyah sekaligus menunjukkan bahwa penanganan gangguan pendengaran membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari dokter spesialis, tenaga kesehatan, penyedia teknologi hingga dukungan keluarga.

Bagi anak-anak dengan gangguan pendengaran sejak usia dini, kesempatan memperoleh akses terhadap suara bukan hanya tentang kemampuan mendengar. 

Lebih jauh, hal itu berkaitan dengan kesempatan mereka untuk membangun kemampuan bahasa, berkomunikasi, belajar dan berinteraksi dengan lingkungan.

Tantangan Biaya

Di balik harapan tersebut, terdapat tantangan lain yang tidak kalah besar, yakni persoalan biaya.

Lewis Brata, pimpinan PT Nobel Audiology Center selaku penyedia perangkat implan koklea dalam tindakan tersebut, mengatakan biaya tindakan implan koklea masih tergolong sangat tinggi.

“Satu telinga kurang lebih biayanya mencapai Rp300 sampai Rp350 juta. Kalau kanan-kiri bisa Rp800 juta,” ungkapnya.

Menurut Lewis, tingginya biaya tersebut membuat dukungan pemerintah sangat dibutuhkan, agar semakin banyak anak dengan gangguan pendengaran yang dapat memperoleh akses terhadap teknologi implan koklea.

Ia mencontohkan sejumlah negara tetangga yang memberikan dukungan pembiayaan bagi pasien gangguan pendengaran.

“Kita perlu bantuan pemerintah. Di negara tetangga kita, rata-rata sudah dibantu pemerintah. Contohnya di Vietnam, pemerintah setempat memberikan gratis untuk implan, biaya operasi dan segala macam,” katanya.

Karena itu, keberhasilan operasi Aisyah di RS JIH Solo bukan hanya menjadi capaian bagi layanan kesehatan di rumah sakit tersebut. 

Lebih jauh, momentum ini menjadi pengingat bahwa akses terhadap teknologi kesehatan untuk gangguan pendengaran masih membutuhkan dukungan bersama. //Her

Type above and press Enter to search.